Drone, dari Sekadar Hobi Menjadi Bisnis Prestisius - Male Indonesia
Drone, dari Sekadar Hobi Menjadi Bisnis Prestisius
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Bagi Andri Royantara, drone bukan sekadar alat untuk mengabadikan gambar semata. Namun lebih dari itu, Andri menjadikan alat ini sebagai hiburan sekaligus mendatangkan keuntungan.

drone male indonesia
Photo: Personal Doc

“Awalnya saya hobi drone bukan dari fotografi, karena bidang saya di komputer. Kebetulan waktu itu saya baca majalah komputer ada pembahasan mengenai drone. Saya ikut komunitas video, dan mulai beli drone, seperti Inspire 1, Inspire 2, Mavic 2, dan Matrice,” kata Andri Royantara kepada MALE Indonesia.

Ia menuturkan, setiap drone punya kategori. Ada yang dipakai buat video profesional, balap dan travel. Spesifikasi dan harganya tentu berbeda-beda.


Courtesy of Andri Royantara

“Saya beli drone karena penasaran, tapi dari situ malah banyak production house yang sewa. Akhirnya saya beli lagi dan lagi. Total, saya mengoleksi sekitar 23 drone, dari Mavic seharga 26 juta rupiah hingga 200 juta rupiah,” tuturnya.

“Dulu sempat beli drone untuk balap, tapi sekarang sudah jarang saya mainkan. Soalnya, drone balap lebih tinggi biaya perawatannya,” tuturnya lagi.

Di mata Andri Royantara, drone adalah hiburan dan lahan bisnis. Ia mengaku banyak footage ciptaannya dibeli per segmen. Salah satu koleksi drone milik Andri juga sempat disewakan untuk perhelatan Asian Games 2018 lalu. Serta disewa oleh beberapa pihak seperti Universal Studio dan pembuatan film.

“Kemarin di Asian Games 2018, dua drone saya, Inspire 1 dan Inspire 2 dipakai. Bahkan saya juga ikut penggarapan syuting filmnya Raditya Dika menggunakan drone,” ucap Andri.

Click to Enlarge

“Saat ini, kebanyakan Production House konsultasi sama saya mengenai drone seperti apa yang cocok digunakan sesuai kebutuhan mereka sekaligus menyewakan alat. Harganya bervariasi, Matrice sekitar 12 juta rupiah sehari. Kalau Inspire 7,5-8 juta rupiah. Sudah termasuk pilot.”

“Saya pernah menerbangkan drone saat syuting film Korea, tapi saat ini sudah jarang turun ke lapangan. Paling kalau ada yang mau sewa, tinggal potong pilot saja,” ucapnya lagi.

Sebagai catatan, Andri memiliki Youtube channel dan sering me-review setiap drone baru, termasuk mengunggah berbagai konten yang ia buat dari drone miliknya, salah satunya city scape di ibukota.

drone male indonesia
Photo: Personal Doc.

“Lama-kelamaan, saya bosan kalau konsepnya terbatas city scape saja. Karena itu, saya beberapa kali ikut komunitas motor gede, touring untuk bikin video dengan konsep adventure. Terakhir kita ke Bromo,” ujarnya.

Namun ia tidak menampik jika penggunaan drone cukup berisiko. Mulai dari kasus terbang tanpa izin, menabrak gedung, atau terjatuh.

“Semua tahu bahwa harga drone cukup tinggi. Risikonya pun sama. Ada beberapa koleksi saya rusak karena jatuh atau menabrak gedung. Biaya perbaikannya tidak murah. Satu lagi, menerbangkan drone di lokasi tertentu harus menggunakan izin,” tutur Andri.

Di akhir wawancara, ia menjelaskan tips bagi orang yang berminat membeli drone. Ia mengibaratkan drone seperti mesin waktu untuk bernostalgia.


Photo: Personal Doc.

“Buat saya, drone itu layaknya kamera, kita pakai seperti mesin waktu saja. Artinya, you don’t need a time machine if you bring a camera. Suatu saat nanti kita akan tua, dan bisa bernostalgia lewat foto-foto yang sudah kita ambil dulu. Untuk pemula, cukup drone yang sederhana seperti Spark,” kata dia kepada MALE Indonesia. [GP]

SHARE