Kebebasan Bermusik Diatur, Ini Kata Musisi EDM - Male Indonesia
Kebebasan Bermusik Diatur, Ini Kata Musisi EDM
MALE ID | News

Belakangan ini, Rancangan Undang-Undang Permusikan (RUU Permusikan) sedang ramai diperbincangkan. Para musisi memiliki pendapatnya masing-masing terkait RUU Permusikan.

Beberapa musisi memang tegas mengambil sikap untuk penolakan terhadap RUU Permusikan. Salah satu musisi yang vokal dalam menolak RUU Permusikan adalah Jerinx SID menjadi salah satu yang menolak keras.

Sama halnya dengan musisi lainnya, musisi dan Disc Jokey (DJ) Dipha Barus juga mengungkapkan pendapatnya terkait hal RUU Permusikan yang saat ini menjadi perhatian publik. Dipha mengaku tak setuju engan RUU Permusikan yang menurutnya sangat membatasi kreatifitas pekerja musik.

"Kalau saya jelas menolak RUU, karena kalau ini personal ya, saya memilih bidang musik bagi saya adalah tempat saya berekspresi, dan membahasakan semua pandangan saya tanpa tekanan dan tanpa ada bahasa. Dan ketika ada usulan regulasi untuk pembatasan ya kalau saya ditanya, ya jelas saya menolak," ujarnya.

Selain karena pasal yang dikhawatirkan bisa membatasi kreatifitas musisi, menurut musisi berdarah Suku Karo ini, akan menjegal langkahnya sebagai seorang musisi EDM (Electronic Dance Music) yang begitu kental dengan budaya barat. Seperti diketahui, salah satu poin dalam pasal 5 tersebut mengatur tentang pengaruh buruk budaya asing.

"Kalau saya jujur semua pasalnya sih. Pertama, lagu saya nggak ada yang bahasa indonesia. Kedua saya bukan berasal dari pendidikan formal tapi saya berasal dari pendidikan otodidak, Youtube dan segala macam," jelas Dipha.

Selain itu, pasal mengenai sertifikasi profesi pun menjadi persoalan. "Saya melihat pasal sertifikasi belum jelas, yang bahasanya tidak jelas mengenai tujuannya. Jadi saya agak tersontak dan menolak RUU Permusikan," tambahnya.

Meskipun menyadari kalau dirinya belum lama terjun ke blantika musik Indonesia, akan tetapi kemajuan musik di Tanah Air cukup pesat. Seperti musik yang ditekuni Dipha saat ini, awalnya sedikit yang menyukainya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, musik yang ditekuninya sudah mulai dinikmati banyak orang.

"Industri musik Indonesia sangat terbuka sekali dengan genre musik apapun, sehingga saya menilai bahwa musik tidak bisa dibatasi untuk musisi yang mengekspresikan karyanya," ucapnya.

Belum Terusik Selama Masih Belum Disahkan


Musisi EDM yang kian bersinar, Kallula Harsynta Esterlita pun mengaku lumayan terusik terkait RUU Permusikan. Namun ia belum begitu terganggu karena masih dalam tahal rancangan dan belum sah menjadi undang-undang.

"Tapi kan banyak cara kan yang bisa kita lakukan untuk mem-private (mengunci) itu untuk terjadi. Kalau misalnya itu menguntungkan, saya tidak masalah sebagai pelaku musik. Apalagi saya yang menciptakan lagu dan menulis lirik, itukan yang paling sensitif buat saya, kreativitas saya. Selama itu belum di sahkan menurut saya belum terusik," ucap wanita cantik itu. 

"Memang beberapa pasal ada yang mem-protect (menahan) kita, dan juga pendengar. Dalam artian mem-protect tidak boleh mengeluarkan konten eksplisit, oke konten eksplisit seperti apa, mereka tidak menjelaskan," jelas Kallula.

Selain itu, kata dia, ada referensi yang belum falid. Misalnya referensi yang diambil dari mahasiswa, (dari) blogspot, di daerah bogor. "Maksud saya kan berarti belum tentu falid. Kalau misalkan mereka mengesahkan sesuatu kan harus berdasarkan fakta dan aktual yang bisa kita percayai, oh iya memang ada faedahnya, gitu, kalau ini kita belum bisa melihat relefansinya apa buat pendengar dan pelaku musiknya," jelasnya.

Namun, secara tegas, Kallula mengaku belum setuju. "Saat ini setelah saya baca, saya belum setuju," kata pelantun lagu Wanderlust itu.

Sejurus dengan Dipha Barus, Kallula pun mengakui bahwa perkembangan musik Indonesia begitu bagus, sehingga dia bersyukur diberi kesempatan untuk berkarya di masa sekarang.

"Karena saya tidak bisa membayangkan dengan idealisme saya yang sekarang ini berkarya di zaman dahulu, yang musiknya masih konvensional. Sekarangg itu majunya bareng-bareng, misalnya kaya Marchell, Andine, Dipha dan musisi lainnya, semuanya dari jenis musik yang berbeda tapi kita bisa salaing suport. Dan kita interest satu sama lain," tuturnya.

Apalagi, kata Kallula, festival-festival musik di Indonesia sudah diperbanyak. Artinya bisa menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi para musisi lewat festival-festival musik tersebut. "Saya sih berharapannya lebih diperbanyak aktivitas festival dan tidak hanya mengundang artis luar ke sini, tapi bisa menghadirkan musisi Indonesia ke luar negeri," harapnya.

Pasalnya, menurut Kallula, potensi yang dia lihat dari pengalamannya tour lima negera tahun lalu (2018), seperti di US, Jepang, Korea, London, dan Manchester, penikmat musik dari lima negara itu begitu apresiatif terhadap musik Indonesia. "Mereka saja tidak menyangka kita dari Indonesia," ucapnya. *** (SS)

SHARE