Line Kini Siap Bersaing di Mata Uang Digital - Male Indonesia
Line Kini Siap Bersaing di Mata Uang Digital
Gading Perkasa | Digital Life

Line kian serius mencoba peruntungannya di mata uang digital. Belum lama ini, mereka menyuntikkan dana segar sebesar 182 juta USD atau sekitar Rp 2,5 triliun ke bisnis pembayaran non tunai, Line Pay.

Jon Russell/flickr

Investasi tersebut akan digunakan Line Pay untuk biaya operasional. Langkah ini disinyalir diambil oleh Line demi menutup kerugian yang dialami perusahaan sepanjang tahun 2018.

Di tahun itu, laporan keuangan Line mencatatkan kerugian Rp 734,6 miliar. Padahal, pendapatan Line naik 24 % ke angka Rp 26,2 triliun. Kerugian ini diduga akibat usaha Line membangun konten di platform percakapan dan divisi game

Itu belum termasuk konten lowongan pekerjaan, manga, dan bisnis e-commerce yang dibangun untuk menguatkan ekosistem Line.

Selain konten-konten tersebut, layanan pembayaran juga dianggap sebagai perekat antara ekosistem Line dan layanan percakapan yang menjadi bisnis utama.

Dengan jumlah 50 juta pengguna di Jepang, Line berusaha mengejar peluang layanan non tunai, sebab saat ini Negeri Sakura dikenal masih setia menggunakan uang tunai.

Line juga mengenalkan kartu kredit hasil kerjasama dengan Visa. Bersama Tencent, mereka mengincar turis asal Cina. Tencent sendiri adalah induk perusahaan WeChat, yang menjadi salah satu pemain pembayaran non-tunai terbesar di Cina, seperti dilansir dari TechCruch.

Selain Jepang, Line Pay tersedia di Thailand, Taiwan, dan Indonesia. Di Thailand, Line berkolaborasi dengan penyedia Bangkok Metro, layanan MRT Bangkok. Dua bank sebagai rekanan di Taiwan, serta satu bank di Indonesia.

Jepang, Thailand, Taiwan dan Indonesia diklaim menjadi pasar terbesar pengguna Line. Total pengguna aktif bulanan keempat negara ini diklaim mencapai 165 juta pengguna dan 40 juta pengguna Line Pay terdaftar.

Total GMV (gross merchandise volume) mereka mencapai Rp 6,9 triliun pada November 2017. Line Pay sebenarnya diluncurkan di lebih banyak negara, walau akhirnya ditutup sebagian, seperti yang terjadi di Singapura (berakhir Februari 2018).

Sebagaimana dilansir dari Techinasia, Line mengadopsi strategi aplikasi percakapan lainnya, WeChat. WeChat membangun berbagai konten untuk mendukung ekosistem. Di Asia Tenggara, Line Pay bakal mendapat saingan ketat dari Gojek dan Grab yang juga memiliki layanan pembayaran non tunai mereka sendiri.  

Line saat ini sangat fokus merambah layanan keuangan. Bahkan mereka sedang berusaha meluncurkan bank digital di Jepang yang bisa memberikan pinjaman dan layanan asuransi. [GP]

SHARE