Klub Liga Inggris Pembantai Tim Papan Atas - Male Indonesia
Klub Liga Inggris Pembantai Tim Papan Atas
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Buat pecinta si kulit bundar, rasanya hanya sedikit yang peduli pada kiprah Crystal Palace. Kehadiran mereka di kasta tertinggi Liga Inggris boleh jadi mengancam The Big Six.

liga inggris - male indonesia
Photo credit: haydenschiff on Visual hunt / CC BY

Di sejumlah kesempatan, Crystal Palace selalu tampil di luar ekspektasi dan menyulitkan tim-tim besar. Alhasil, mereka berhasil tampil menghibur dan mengesankan.

Bila ditelaah lebih lanjut, skuat Crystal Palace musim 2018/2019 boleh jadi membuat para fans sepak bola rancu. Sebab, mereka punya kedalaman yang dibilang terbaik sejak promosi ke EPL di tahun 2012 silam.

Beberapa pemain potensial sampai berstatus bintang sukses didaratkan. Bahkan tak ada yang mengira, Yohan Cabaye mau bermain di Palace, meski ia punya ikatan batin kuat dengan Alan Pardew. Bagi Cabaye, Pardew layaknya ayah sendiri, berkolaborasi bersamanya adalah sesuatu yang diinginkannya.

Duet Cabaye bersama lini tengah Palace, Mile Jedinak, juga cukup menarik. Keduanya dikenal sebagai gelandang dengan daya jelajah tinggi, mencoba menandingi lini tengah kesebelasan top Inggris lainnya.

Selain itu, ada nama-nama seperti Bakary Sako, Connor Wickham, Patrick Bamford dan Jordon Mutch. Meskipun beberapa dari mereka pernah bermain di divisi Championship, rekam jejak mereka tak bisa dikesampingkan.

Patrick Bamford adalah salah satu striker menjanjikan di Inggris saat ini. Musim 2017/2018 lalu, ia menyumbang 19 gol bersama Middlesbrough. Ia pun dinobatkan sebagai Championship Player of The Year, dan diprediksi mampu memberi persaingan di lini depan yang diisi Glenn Murray dan Dwight Gayle.

Sektor gelandang serang pun tak luput dari perhatian Pardew. Kegemarannya memainkan skema 4-4-2 mengharuskannya memiliki banyak stok pemain sayap. Bakary Sako didatangkan guna melapisi sang bintang, Yannick Bolasie, atau Jason Puncheon, jika sedang tidak fit.

Jangan lupakan si anak hilang Wilfried Zaha. Musim 2018/2019 adalah momen penebusan dosa yang telah dilakukannya di Manchester United. Satu gol di laga pembuka menjadi awal manis bagi Zaha ke depannya.

Di lini belakang, nyaris tak ada perubahan signifikan. Nama-nama seperti Julian Speroni, Scott Dann dan Brede Hangeland tetap menjadi figur utama.

Keahlian Pardew mengasah pemain muda patut diacungi jempol. Banyak yang heran melihat Yannick Bolasie di musim 2017/2018. Di bawah Pardew, performanya terus menanjak. Begitu juga Martin Kelly yang nyaris tak terlihat bersama Liverpool.

Memang posisi mereka di klasemen Liga Inggris tidak terlalu mengesankan. Namun, mereka tetap wajib diperhitungkan. Pasalnya, DNA sebagai pembunuh tim besar senantiasa melekat di klub asal kota London tersebut. [GP]

SHARE