Mimpi Buruk! Amputasi Akibat Kanker Penis - Male Indonesia
Mimpi Buruk! Amputasi Akibat Kanker Penis
Gading Perkasa | Sex & Health

Kanker penis merupakan salah satu penyakit yang hanya menyerang pria. Salah satu kekhawatiran kaum pria yaitu amputasi Mr P jika mengalami penyakit ini. Perlukah dilakukan amputasi pada organ vital?

zeevveez/flickr

Poh Beow Kiong, pakar bedah urologi dari Parkway Cancer Center Singapore, mengatakan kanker penis ditandai dengan sejumlah gejala, seperti munculnya benjolan di bagian organ vital, ruam di selangkangan, hingga bau tidak sedap di bagian kulup.

“Gejala ini juga ditemui pada penyakit infeksi menular seksual yang menyerang organ vital. Karena itu, pemeriksaan biopsi untuk melihat adanya sel kanker sangat penting dilakukan,” kata Poh, melansir Suara.com.

Sayangnya, mayoritas pasien kanker penis datang ketika kondisi sudah parah, alias stadium lanjut. Hal ini membuat amputasi menjadi solusi agar sel kanker tidak menyebar ke organ tubuh lainnya.

Richard Quek, pakar onkologi medis, menyebut pemberian informasi soal amputasi organ vital kepada pasien harus dilakukan hati-hati. Pasien biasanya akan diberikan konseling tentang apa saja yang akan dihadapi, termasuk persiapan amputasi dan dampak setelahnya.

“Kami memiliki unit konseling sehingga pasien dapat pendampingan dan penjelasan tentang apa saja yang dialaminya. Awalnya mungkin pria sulit memutuskan untuk amputasi, tapi setelah diberikan gambaran risiko kanker menyebar ke organ tubuh lain dan menyebabkan kematian, biasanya mereka mengerti,” ujar Quek.

Proses amputasi organ vital pria terdiri dari dua tipe, yakni amputasi parsial dan amputasi utuh. Amputasi parsial membuat Mr P pria masih berbentuk seperti biasa, hanya panjangnya berkurang.

“Ada pengurangan ukuran panjang penis yang cukup signifikan pada amputasi parsial. Namun pasien tetap memiliki kemampuan buang air kecil berdiri,” tutur Poh.

Bagaimana perihal kemampuan seksual, apakah pria yang menjalani amputasi parsial masih bisa bercinta? Dikatakan Poh, hal ini sulit dilakukan. Kemampuan ereksi masih ada, hanya saja tidak cukup keras dan panjang untuk melakukan penetrasi saat bercinta.

Di sisi lain, amputasi utuh membuang seluruh bagian Mr P dari tubuh pria. Amputasi utuh dilakukan jika sel kanker sudah sangat dalam, dan berisiko menyebar ke bagian tubuh lain.

Pada pasien kanker penis yang mengalami amputasi utuh, maka kemampuan buang air kecil berdiri akan hilang. Hal ini dikarenakan saluran kencing juga mengalami perubahan.

“Mau tidak mau, pasien yang diamputasi utuh harus buang air kecil dengan cara duduk,” ucap Poh. [GP]

SHARE