Kapal Tampomas II, Tragedi Kebakaran di Laut Lepas | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Kapal Tampomas II, Tragedi Kebakaran di Laut Lepas
Gading Perkasa | Story

Kapten Abdul Rivai berdiri di anjungan kapal Tampomas II. Kapal milik PT Pelni itu mengalami kebocoran di bagian lambung. Tampomas II berangsur-angsur miring dan tenggelam pada akhirnya.

Pixabay

Awak kapal Tampomas II, Karel Simanjuntak yang berada di dekat Rivai angkat bicara. “Sebaiknya kita turun saja, Kep,” katanya. Sang nahkoda menjawab, “Buat apa turun kalau belum semua penumpang selamat?” 

Kisah itu tergambar dalam buku Neraka di Laut Jawa: Tampomas II yang ditulis Bondan Winarno berdasarkan reportase para jurnalis Sinar Harapan dan Mutiara.

Rivai tetap di kapal sembari memerintahkan penumpang lain terjun ke laut. Bertahan di kapal yang segera tenggelam pastinya fatal. Ketika yakin semua penumpang sudah terjun, baru Rivai melompat dari kapal.

Kapal Tampomas II bertolak dari Tanjung Priok, Sabtu, 24 Januari 1981 pukul 09.55 WIB dengan tujuan Ujung Pandang (kini Makassar). Seharusnya, kapal berangkat pada 23 Januari. Namun, kerusakan mesin membuat pelayaran tertunda satu hari.

Kapal membawa 980 penumpang dewasa, 75 anak-anak, dan 85 awak kapal. Diyakini, ada ratusan penumpang gelap, yang tak terdaftar di manifes. Juga diangkut 191 mobil dan 200 sepeda motor.

25 Januari, sekitar pukul 20.00 WITA, terjadi kebakaran di geladak bawah. Tepatnya, di bagian penyimpanan kendaraan bermotor. Api menyambar tong minyak pelumas. Kebakaran membesar. Kapal itu tengah berada di perairan Masalembo, Laut Jawa.

Di anjungan, Rivai melihat ke arah buritan yang terbakar. Ia ingat, Juli 1980, dapur Tampomas II juga terbakar di perairan Ujung Pandang. Sang Nakhoda paham, kebakaran di car deck sangat berbahaya karena dekat kamar mesin.

Mesin dimatikan. Tapi, ini membuat selang penyemprot air tak berfungsi. Api kian ganas, menyebar ke ruangan lain dan memakan korban sejumlah penumpang.

Rivai menyalakan mesin kembali. Ia hendak menuju pulau terdekat, lalu mendamparkan kapal di pantai. Namun mesin tak berhasil menggerakkan baling-baling.

Radio pun mati, tak bisa mengirim sinyal SOS. Flares (isyarat cahaya) yang dilontarkan ke udara tak menyala. Kapal Tampomas II dalam bahaya.

Api berkobar, korban terus berjatuhan karena panas menjalar di lantai dek. Beberapa yang tak tahan panas meloncat ke laut. Sejumlah awak kapal dan penumpang mulai menurunkan sekoci.

Beberapa hari berselang, saat matahari bersinar terang, baru beberapa kapal melihat Tampomas II.


wikimedia commons

Kapal yang pertama melakukan pertolongan adalah KM Sangihe. Markonis KM Sangihe mengirimkan pesan morse SOS pukul 08.15. KM Ilmamui menyusul melakukan pertolongan. Lalu, muncul juga kapal tanker Istana VI, KM Adhiguna Karunia, dan KM Sengata.

Tapi, pertolongan tak bisa maksimal. Kapal lain susah merapat karena gelombang yang kuat. Akhirnya, pada 27 Januari, terjadi ledakan di ruang mesin. Air laut masuk. Semakin banyak air dan kapal mulai miring.

Pukul 13.45 WITA, sekitar 30 jam setelah percikan api pertama, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di dek bawah.

Seluruh penumpang yang terdaftar berjumlah 1.054 orang, ditambah 82 awak kapal. Namun diperkirakan total penumpang berjumlah 1.442 orang, termasuk penumpang gelap. Tim penyelamat memperkirakan 431 orang tewas (143 jenazah ditemukan dan 288 orang hilang), sementara 753 orang berhasil diselamatkan.

Mahkamah Pelayaran digelar. Sejumlah awak kapal disidang dan dihukum karena dianggap lalai dalam bertugas. Rivai? Ia tak ikut disidang karena ditemukan tewas.

Menteri Perhubungan kala itu, Roesmin Nurjadin dalam penjelasan pada pers di kantor Departemen Perhubungan, mengatakan tidak terjadi hal abnormal di ruang mesin. Kelainan terjadi di car deck. Guncangan gelombang laut yang cukup kuat menimbulkan percikan api.

Pemerintah membentuk Tim Penyelidikan dipimpin Jaksa Bob RE Nasution. Hasilnya, ada tindak pidana korupsi dalam pembelian kapal bekas itu. Dalam perjanjian disebut sebagai kapal penumpang, meskipun sebenarnya kapal barang.

Rivai dinobatkan menjadi Nakhoda Utama oleh PELNI. Ia dianggap berjasa menyelamatkan nyawa para penumpang dengan mengorbankan nyawanya sendiri. [GP]

SHARE