Fela Kuti, Musisi yang Tak Jera Masuk Penjara - Male Indonesia
Fela Kuti, Musisi yang Tak Jera Masuk Penjara
Sopan Sopian | News

Fela Kuti merupakan musisi asal Nigeria yang mempelopori gerakan Afrobeat, gabungan warna musik blues, jazz, dan funk dengan musik tradisi Afrika. Selain itu, ia juga musisi yang kontroversial dan sering berulang kali masuk bui serta dipukuli karena menulis lirik yang politis atas kekecewaannya terhadap pemerintah.

Fela Kuti (kiri)/Photo by Bigjack02002 on Wikipedia

Fela Kuti memang tak benar-benar banyak orang mengenalnya, karena ia kerap kali mengubah namanya, gaya hidupnya, bahkan sifat musiknya. Ia sempat mengganti namanya menjadi Anikulapo yang berarti 'Aku punya kematian di sakuku', lebih terang, nama itu bermakna, 'Aku akan menjadi tuan atas takdirku sendiri dan akan memutuskan kapan saatnya kematian mengambilku'.

Sebelum ia menggeluti musik, Thewire menuliskan bahwa, keluarga Fela Kuti sebenarnya ingin ia menjadi seorang pengacara. Sayangnya Fela tidak pernah berniat memenuhi keinginan keluarganya itu, ia membuat keputusan untuk menjadi seorang musisi dari masa sekolahnya.

Pada 1958, ia meninggalkan Nigeria ke Inggris, Fela masuk sekolah musik Trinity. Terompet adalah pilihan alat musiknya. Alasanyam karena sebagian besar pemimpin band highlife terkemuka Nigeria adalah memilih terompet. Meskipun ayahnya mendorong untuk bermain piano.

Selama tinggal di London, Fela juga mendengarkan musik Afro-Kuba, dan mulai tampil di tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh siswa dan pekerja Afrika dengan sekelompok musisi Nigeria yang berdedikasi termasuk pianis Wole Bucknor, yang menjadi Direktur Musik Band Angkatan Laut Nigeria.

Fela kembali ke Nigeria pada pertengahan tahun 60-an, dan diminta bekerja oleh Perusahaan Penyiaran Nasional Nigeria, tetapi ia tampaknya tidak berminat untuk bekerja di sana. Tepatnya pada 1963, ia justru membentuk band bernama Koola Lobitos. Dia kemudian mengubah nama bandnya menjadi Afrika 70 dan Mesir 80. 

Fela Kuti sendiri sebenarnya telah memelopori dan mempopulerkan gaya musiknya sendiri "Afrobeat" sejak tahun 1960. Artinya, tiga tahun sebelum membentuk band Koola Lobitos. Selain gaya campuran-genre mereka yang khas, lagu-lagu Kuti dianggap unik dibandingkan dengan lagu-lagu yang lebih populer secara komersial karena panjangnya berkisar antara 15 menit hingga satu jam. Kuti bernyanyi dalam kombinasi Pidgin English dan Yoruba.

Aktivis Melalui Musik
Pada 1970-an dan 1980-an, lirik lagu Kuti yang memberontak membuatnya sebagai pembangkang politik. Akibatnya, Afrobeat dikaitkan dengan pembuatan pernyataan politik, sosial dan budaya tentang keserakahan dan korupsi. Salah satu lagu Kuti, "Zombie," mengkritik aparat kepolisian dan militer yang dianggapnya "kaku, tak punya nalar, dan hanya menuruti perintah atasan". Dengan segala karakter semacam itu, aparat dalam pikiran kuti tak ubahnya seperti Zombie.

Selain itu ada lagu "VIP (Vagabonds in Power)," di mana ia berusaha untuk memberdayakan massa yang kehilangan haknya untuk bangkit melawan pemerintah.

Pada tahun 1989, malansir laman Biography, tiga tahun setelah berkeliling Amerika Serikat, Kuti merilis album berjudul Beasts of No Nation. Sampul album ini menggambarkan para pemimpin dunia, diantaranya Margaret Thatcher dan Ronald Reagan sebagai vampir kartun yang memperlihatkan taring berdarah.

Atas apa yang ia tulis dan suarakan lewat lagu, membuatnya kerap ditangkap oleh pemerintah Nigeria, tak tanggung-tanggung ia ditangkap oleh pihak pemerintah sebanyak 200 kali, dan menjadi sasaran berbagai pemukulan yang membuatnya memiliki bekas luka seumur hidup. 

Namun, hal itu tak membuat Kuti takut, justru Kuti menggunakan pengalaman-pengalaman itu sebagai inspirasi untuk menulis lebih banyak lirik. Dia memproduksi sekitar 50 album selama karir musiknya, termasuk lagu untuk Les Negresses dengan nama samaran Sodi pada tahun 1992.

Kematian Fela Kuti
Fela Kuti meninggal karena komplikasi terkait AIDS pada 2 Agustus 1997, pada usia 58, di Lagos, Nigeria. Sekitar 1 juta orang menghadiri prosesi pemakamannya, yang dimulai di Tafawa Balewa Square dan berakhir di rumah Kuti, Kalakuta, di Ikeja, Nigeria, tempat ia dibaringkan untuk beristirahat dan disemayamkan di halaman depan kediamannya. *** (SS)

SHARE