Startup: Dari Clothing Bangun Website Berbasis LMS - Male Indonesia
Startup: Dari Clothing Bangun Website Berbasis LMS
MALE ID | Works

Bekerja paruh waktu menjadi awal kariernya dari seorang Founder dan CEO Codemi (codemi.co.id), program manajemen pembelajaran (Learning Management System-LMS) berbasis cloud. Ia adalah Zaki Falimbany.

doc. Zaki Falimbany

Dropout dari Jurusan Teknik Informatika AMIKOM (2003), tak membuat Zaki Falimbany berhenti mengembangkan diri. Satu tahun kemudian, pada 2004 ia memulai kariernya sebagai pekerja paruh waktu dengan menjadi frontline di salah satu distro di Yogyakarta.

Kemudian, dari banyaknya remaja yang ingin dibuatkan kaus dan jaket kustom, Zaki Falimbany yang saat itu masih menjadi frontliner, bersama teman-temannya memutuskan untuk membuat perusahaan clothing sendiri dan menitipkan barang-barangnya di distro-distro di Jogja.

Selain dititipkan di distro, kata Zaki Falimbany, pada 2006 barang-barang clothing-nya dijual secara online di forum KasKus. "(Karena) saya memiliki kemampuan teknis dibidang pengembangan website, jadi selain berjualan di kaskus saya juga membuat website clothing sendiri," tuturnya.

Sayangnya, minimnya pengalaman dalam pengelolaan usaha membuat usaha clothing miliknya harus tutup pada 2008, dan menanggung hutang yang cukup besar pada saat itu. Namun, tutupnya usaha clothing miliknya ternyata membawa cerita baru bagi hidup Zaki Falimby. 

"Beberapa teman yang melihat website clothing saya, tertarik dibuatkan website untuk kebutuhan berjualan online. Akhirnya saya membuat usaha baru dibidang pengembangan website," cerita Zaki.

Seiring berjalannya waktu, permintaan pembuat website pun terus bertambah. Dari sekian klien yang ditanganinya, ternyata permintaan tertinggi kebanyakan dari Jakarta.

Sehingga Zaki pun mengharuskan pindah ke Jakarta pada tahun 2010. Di Jakarta, ia banyak menangani pembuatan website perusahaan. Hingga 2014, ia bertahan dalam usahanya di bidang pengembangan website

Awal Membangun Codemi

doc. Zaki Falimbany

Zaki Falimbany menuturkan, pada 2013 menjadi titik mula ia membangun startup. Di mana ia mengikuti Founder Institute (FI-fi.co), sebuah program 4 bulan yang mengajarkan cara memulai perusahaan rintisan (startup). Pada program FI tersebut, setiap peserta diharuskan untuk mengembangkan 3 ide bisnis.

"Salah satu ide bisnis yang saya kembangkan adalah membuat website MOOC (Massive Open Online Course) dimana setiap orang bisa mengajar dan belajar secara online dari para pakar di Indonesia," ucap Zaki.

Ide bisnis itu, kata Zaki di beri nama Codemi (Collaboration Academy Indonesia). Codemi dengan konsep MOOC pertama kali meluncur pada 31 Desember 2013 dan bertahan hingga Oktober 2014. 

"Pada periode ini, akta dia, salah seorang temannya bertanya apakah bisa meminjam software Codemi untuk keperluan training di perusahaannya. Permintaan teman saya ini menjadi ?trigger untuk mengubah konsep Codemi (?pivot?) menjadi sebuah Learning Management System (LMS) dan diluncurkan pada April 2015," jelas Zaki.

Lebih lanjut, perlu diketahui, Codemi (Collaboration Academy Indonesia) yang merupakan program manajemen pembelajaran (Learning Management System-LMS) berbasis cloud ini, membantu perusahaan mengelola program belajar karyawan dan mitra kerja, di mana memberikan solusi bagi perusahaan untuk mengelola program pembelajaran dengan lebih baik, terukur, dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.

Kendala Membangun Codemi

doc. Zaki Falimbany

Zaki menceritakan, pada saat awal mendirikan Codemi, ia dan dua temannya membangunnya dengan biaya sendiri. Pada saat itu juga, Codemi sudah mendapatkan ?customer ?diawal pengembangan. "Hingga saat ini Codemi digunakan oleh beberapa perusahaan seperti Tokopedia, Prudential, Agung Podomoro, FWD Life, Jasa Marga, dan lain sebagainya." terangnya.

Akan tetapi, dibalik kesuksesannya itu, setiap bisnis tentu memiliki kendala, begitu juga Codemi. Zaki pun mengakui hal tersebut. Menurutnya banyak kendala yang harus dihadapi saat membangun Codemi. Kendala-kendala itu muncul pada setiap fase yang berbeda.

"Pada awal pengembangan kendala yang muncul adalah seputar ?product-market. ?Butuh waktu berbulan-bulan bagi Codemi untuk mengembangkan produk yang tepat yang sesuai dengan kebutuhan market," ungkapnya.

Kemudian, pada saat sudah memulai menemukan bentuk product-market yang sesuai, kendala lainnya muncul, yaitu kebutuhan ?resource programmer. "Hal itu karena maraknya perusahaan rintisan yang muncul sehingga kebutuhan programmer menjadi sangat tinggi," ucapnya.

Walau begitu, menurutnya kendala itu bukan hal yang baru. Sehingga ia mudah dalam mencari solusi lewat internet, buku, dan juga bertanya kepada orang yang pernah mengalami masalah tersebut.

"Serta salah satu hal yang dilakukan untuk mengatasi kendala resource programmer adalah memindahkan kantor Research and Development (R&D) Codemi ke Jogjakarta," kata pria yang mengidolakan Ben Horowitz, spesialis pada bidang B2B (Business to Business).

Inovasi
Setelah berjalan sejak 2013, dikatakan Zaki, kini Codemi sedang menyiapkan konsep baru MOOC yang pernah dikembangkan sebelumnya. Konsep ini diberi nama Skillomo.com. 

"Skillomo bekerjasama dengan banyak pakar dari Indonesia untuk mengembangkan video learning yang bisa membantu setiap individu untuk bisa belajar kapan saja, di mana saja," jelasnya.

"Skillomo akan diluncurkan pada 2 Mei 2019. Saat ini Skillomo dibuka terbatas untuk undangan," tambahnya. *** (SS)


 

SHARE