Serangan Tet, Perang Vietcong Melawan Amerika | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Serangan Tet, Perang Vietcong Melawan Amerika
Gading Perkasa | Story

Tepat pada 31 Januari 1968, pasukan Vietcong (Vietkong) atau Pasukan Bersenjata Pembebasan Rakyat (PLAF) menyerbu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Saigon (sekarang Ho Chi Minh City). Peristiwa ini adalah bagian dari serangan Tet, perang antara Vietcong melawan tentara Republik Vietnam (ARVN) yang didukung AS.

wikimedia commons

Seperti dilansir dari History, pasukan Vietcong berhasil menduduki Kedubes AS selama enam jam sebelum akhirnya pasukan terjung payung AS mendarat di atap bangunan.

Serangan Tet digambarkan sebagai sebuah rencana besar dan simultan di sejumlah kota, termasuk ibu kota provinsi Vietnam Selatan.

Tet sendiri merupakan perayaan tahun baru Vietnam untuk menandai datangnya musim semi berdasarkan kalender Lunar. Sementara, serangan Tet bertujuan merebut sejumlah tempat selama masa perayaan tahun baru tersebut.

Sebelumnya, pada Desember 1967, terjadi serangan terhadap pangkalan Angkatan Laut AS di Khe Sanh. Peristiwa ini menyebabkan AS mengirimkan sekitar 50.000 pasukannya ke sana. Alhasil, pertahanan AS di daerah lain melemah.

Reaksi Amerika lantas dipakai sebagai strategi oleh Vietcong untuk mempersiapkan serangan Tet, dimana mereka tidak hanya menyerang Saigon, namun juga lebih dari 100 kota lain di negara itu.

Waktu dan besarnya serangan di Vietnam Selatan serta lengahnya pasukan AS membuat Vietcong berhasil menguasai sejumlah wilayah, meski tidak berlangsung lama. Secara militer, serangan Tet adalah bencana bagi kelompok komunis yang menderita kerugian besar-besaran.

Namun di sisi lain, komunis dinilai berhasil meraih kemenangan psikologis dan propaganda besar-besaran, berujung pada hilangnya dukungan rakyat AS terhadap perang Vietnam. Ini karena beredarnya berbagai gambar yang menunjukkan kekejaman perang di kubu pasukan AS.

Presiden AS kala itu, Lyndon Johnson dikabarkan sangat frustasi karena tidak mampu mencapai titik temu soal perang Vietnam.

“Ini bukan perang Johnson, tapi perang Amerika. Bahkan jika saya mati besok, perang masih akan ada,” demikian salah satu pernyataan terkenal Johnson.

Sementara itu, Jenderal William Westmoreland, komandan pasukan AS di Vietnam meminta agar ditambahkan sebanyak 260.000 pasukan untuk melemahkan Vietcong. Tapi permintaan itu ditolak Johnson.

Justru Westmoreland diganti oleh Jenderal Creighton Abrams. Mei 1968, AS dan Vietnam Utara memulai pembicaraan damai di Paris. Keduanya mencapai kesepakatan pada Januari 1973.

Kendati demikian, pertempuran antara Vietnam Selatan dan Utara masih terus berlanjut sebelum benar-benar berhenti pada 30 April 1975. Kala itu, Saigon jatuh ke tangan komunis dan pasukan Amerika terakhir angkat kaki meninggalkan Vietnam. [GP]

SHARE