Wabah Penyakit yang berasal dari Urine Hewan - Male Indonesia
Wabah Penyakit yang berasal dari Urine Hewan
Sopan Sopian | Sex & Health

Pernahkah Anda mendengar penyakit yang berasal dari urine hewan? Penyakit itu bernama leptospirosis. Kendati penyakit ini berasal dari urine hewan, namun penyebarannya sering terjadi pada musim hujan.

Photo by freestocks.org on Unsplash

Laman WebMD menjelaskan, leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Bakteri ini berasal dari hewan dan hidup di ginjalnya. Bakteri dapat terbawa keluar melalui urine hewan yang tercampur di tanah maupun air. Bila masuk ke tubuh manusia, bakteri ini dapat menginfeksi. Jenis hewan yang membawa bakteri ini antara lain babi, kuda, anjing, dan tikus.

Penyakit infeksi bakteri ini banyak terjadi di daerah yang terkena banjir. Leptospirosis juga rentan menyerang orang-orang yang biasa kontak dengan hewan tersebut. Penularan dari manusia ke manusia jarang dilaporkan. Bakteri ini masuk ke manusia melalui kulit yang terluka, atau selaput lendir pada mata, hidung, bibir, dan mulut.

Gejala
Leptospirosis biasanya menunjukkan gejala secara mendadak dalam waktu 2 minggu setelah penderita terinfeksi. Pada sebagian kasus, gejala baru terlihat setelah 1 bulan.

Pasca kemunculan gejala, penderita leptospirosis biasanya akan pulih dalam waktu 1 minggu setelah sistem imunitas dapat mengalahkan infeksi. Namun sebagian penderita akan mengalami tahap kedua penyakit leptospirosis yang dikenal sebagai penyakit Weil. Gejala penyakit Weil ini ditandai dengan dada terasa nyeri, serta kaki dan tangan yang bengkak.

Leptospirosis dapat Dicegah dan Diobati
Untuk Anda yang banyak berinteraksi dengan hewan, ada cara mengurangi risiko terkena leptospirosis, seperti cuci tangan dengan sabun dan air setelah menangani hewan atau produk hewani, bersihkan luka-luka sesegera mungkin, tutupi semua luka dengan plester tahan air.

Segera mandi bila Anda pernah berada di air yang berpotensi terinfeksi bakteri. Jangan pernah menyentuh binatang mati dengan tangan kosong serta dilarang minum air yang belum direbus, terutama dari tempat-tempat seperti sungai, kanal, atau danau.

Bila Anda mengalami serangkaian gejala leptospirosis, segera memeriksakan kondisi ke dokter atau pusat pelayanan kesehatan untuk mendapat perawatan.

Dilansir Medscape, leptospirosis ringan diobati dengan doksisiklin, ampisilin, atau amoksisilin. Untuk leptospirosis berat, penisilin intravena G telah lama menjadi obat pilihan.

Sedangkan kasus yang parah dan memengaruhi sistem organ dan dapat menyebabkan kegagalan multiorgan, bisa mendapatkan terapi penanganan komplikasi ginjal, hati, hematologi, dan sistem saraf pusat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rachmanita sempat menuturkan dalam pencegahan penyakit ini, menurutnya yang terpenting adalah menjaga kebersihan dan juga barang-barang yang tak terpakai segera dibuang. *** (SS)

SHARE