5 Transfer Aneh dalam Sejarah Sepakbola Inggris - Male Indonesia
5 Transfer Aneh dalam Sejarah Sepakbola Inggris
Sopan Sopian | Sport & Hobby

Bursa transfer merupakan waktu yang tepat bagi kebanyakan klub untuk memperkuat tim guna menjalani kompetisi panjang. Beberapa klub tak segan menginvestasikan banyak uang untuk merekrut pemain berkualitas demi bersaing di papan atas.

Biaya transfer menjadi hal pertama yang memunculkan pertanyaan. Tidak adanya batas di penentuan biaya transfer bisa membuat sebuah kesebelasan seenaknya menentukan mahar pemain yang akan pindah.

Hal kedua yang kerap memicu perhatian adalah kontrak dan klausul yang biasanya menjadi sebuah paket yang tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain. Soal kontrak, setiap kesebelasan punya batas-batasnya. 

Kualitas pemain dan status di tim juga menjadi pembeda nilai kontrak pemain. Namun ada yang unik dalam bursa transfer dalam sejarah sepakbola inggris. Mengutip laman Fourfourtwo, berikut 5 transfer aneh sepanjang sejarah sepakbola inggris.

1. Carlos Tevez & Javier Mascherano

Photo by Alfonso Jimenez on Flickr

Transfer duo ini terjadi pada 2006. Transfer ini justru membuat West Ham harus membayar denda £5,5 juta karena melanggar aturan Premier League karena mendatangkan pemain dari pemilik pihak ketiga. 

Tevez dan Mascherano sendiri bermain untuk Corinthians tapi merupakan 'aset' perusahaan yang dimiliki oleh Kia Joorabchian.

Ternyata, Tevez mendapatkan bayaran lebih besar dengan mengorbankan rekan senegaranya, karena West Ham memutuskan mereka hanya mampu membayar bonus pertandingan untuk satu orang pemain saja dan itu adalah untuk pemain yang bisa mencetak gol. 

Jadi, sementara Mascherano hanya bermain di lima pertandingan, semuanya berakhir dengan kekalahan, dan menjadi pelapis Hayden Mullins, Tevez membantu menyelamatkan The Hammers dari degradasi dengan menyingkirkan Sheffield United.

Kepindahan kedua pemain ini ke West Ham memicu investigasi kepemilikan pihak ketiga, proses persidangan selama bertahun-tahun yang melibatkan The Blades, dan melonggarnya batasan moneter dan moral dalam sepak bola.

Namun, Neil Warnock yang mengajukan tuntutan (atas nama Sheffield United yang merasa dirugikan karena gol kemenangan West Ham di partai terakhir musim 2006/07 dicetak oleh Carlos Tevez yang dinilai tidak sah statusnya dan membuat mereka terdegradasi) akhirnya menang di pengadilan dengan menerima £15 juta sebagai kompensasi.

2. Kyle Lafferty

Photo by Magnus Manske on Wikipedia

Kyle Lafferty bergabung dengan Rangers dari Burnley (setelah awalnya kepindahan itu gagal), lalu meninggalkan klub Skotlandia itu untuk memperkuat Sion di Swiss, bermain bersama dan kemudian di bawah kepemimpinan si bengal yang terkenal, Gennaro Gattuso (FIFA turut campur untuk memuluskan transfer ini).

Kemudian ia juga pindah dari Sion ke Palermo di Serie B (di mana presiden klub Maurizio Zamparini tak segan-segan menyebutnya sebagai 'perayu wanita, pria Irlandia tidak tahu aturan, dan tidak terkendali’).

Kemudian ke Norwich hanya untuk didepak, pindah ke Turki sebagai pemain pinjaman di Caykur Rizespor, dan kemudian ia kembali ke Norfolk, semuanya terjadi sambil mengantar Irlandia Utara merasakan kompetisi Piala Eropa pertama mereka.

3. Craig Davies

Photo by Marekich on Wikipedia

Banyak bertanya-tanya mengapa Davies berpikir bahwa dengan bergabung ke Verona, ia akan meningkatkan peluangnya bermain untuk tim nasional Wales. Namun pertanyaan sebenarnya adalah mengapa klub yang menargetkan promosi ke Serie A membeli pemain dari divisi empat Inggris.

Dibeli dengan harga £85 ribu dan diberi kontrak lima tahun, Davies yang saat itu berusia 20 tahun bermain satu pertandingan sebelum kembali ke negaranya bersama Wolves, karena rindu kampung halaman. Sementara itu, Verona dan Oxford malah terdegradasi.

4. Esteban Cambiasso

Photo by Simonttx on Wikipedia

Banyak pemain tua yang berpindah-pindah klub demi mendapatkan pengalaman baru atau mencari banyak uang. Seperti halnya Cambiasso, ia melanjutkan kariernya yang cemerlang di Inter dengan bergabung ke Leicester yang baru saja promosi kala itu.

Cambiasso memang menjadi pemain kesayangan suporter, akrena ia adalah pemain besar yang mampu berkontribusi kepemangan dalam Liga Champions. Namun uniknya, legenda Argentina ini seperti mengalami perubahan besar, dari memperkuat tim yang menjadi kandidat juara menjadi memperkuat tim yang berkutat di zona degradasi.

5. Kevin Keegan

Photo by Blackcat on Wikipedia

Pindah dari Hamburg ke Southampton akan tampak seperti naik kelas, namun tidak di bulan Februari 1980. Ketika itu, Hamburg sedang mencoba mempertahankan gelar Bundesliga mereka, sedangkan The Saints masih mencoba menemukan posisi mereka di kasta tertinggi. Keegan, sementara itu, baru memenangi Ballon d’Or keduanya secara berurutan dengan klub Jerman ini enam pekan sebelumnya.

Namun, manajer Lawrie McMenemy mengumumkan Mighty Mouse akan bergabung dengan mereka di musim panas itu. Pengumuman ini tidak akan begitu mengejutkan jika Mighty Mouse sebenarnyalah yang ia datangkan.

Bulan-bulan selanjutnya hanya membuat transfer ini tampak lebih absurd lagi. Keegan bermain di final Piala Champions tahun 1980 saat Hamburg kalah 1-0 dari Nottingham Forest, dan kemudian menjadi kapten Inggris di Piala Eropa sebelum akhirnya mendarat di Hampshire.

Untuk Southampton, yang lebih impresif dari keberhasilan mendatangkan pemain ini adalah kesuksesan mereka menjaga rahasia ini. Bayangkan jika besok, Pemain Terbaik Eropa Tahun Ini tiba-tiba diperkenalkan di Crystal Palace dan tidak ada yang tahu soal ini. *** (SS)

SHARE