Bom Molotov, Peledak Favorit era Perang Dunia II - Male Indonesia
Bom Molotov, Peledak Favorit era Perang Dunia II
MALE ID | Story

Beberapa waktu lalu, rumah Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif di kawasan Jakarta Selatan dilempari bom molotov oleh orang yang tak dikenal. Sampai saat ini, belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas aksi tersebut. Polisi masih melakukan olah tempat kejadian perkara di kediaman Laode.

bom molotov-Male IndonesiaPhoto by Till Kraus on Unsplash

Berbicara tentang bom molotov, itu adalah senjata yang terbuat dari botol berisi bensin, alkohol, atau cairan mudah terbakar lainnya. Kemudian ditambah sumbu berupa tali atau kain.

Sebelum dilemparkan ke arah sasaran, sumbu dibakar terlebih dahulu. Saat botol pecah usai dilempar, api akan segera merambat dan menyebar karena penguapan bensin atau alkohol di dalamnya.

Bom molotov diyakini muncul pertama kali di Perang Saudara Spanyol pada 1930-an. Kala itu, para pejuang Republik melemparkan bom tersebut ke tank-tank milik pasukan Nasionalis.

Bahan awal yang digunakan adalah campuran tar, etanol, dan gasolin. Semuanya dituangkan ke dalam botol bir untuk menciptakan senyawa yang lengket dan mudah terbakar. Potongan kain yang sudah direndam minyak lantas dimasukkan ke mulut botol agar bertindak sebagai sumbu.

Kendati sudah ada sejak Perang Saudara Spanyol, tapi penggunaan alat peledak itu semakin masif di awal Perang Dunia II. Tepatnya ketika pasukan Soviet menyerang Finlandia dalam peristiwa yang kerap disebut “Perang Musim Dingin”.

Di musim dingin 1939, setelah menguasai Polandia, Soviet menginvasi Finlandia. Namun, saat berita serangan mulai muncul, Menteri Luar Negeri Soviet, Vyacheslav Molotov, membantahnya. Ia mengatakan bahwa Soviet hanya mengirimkan makanan dan minuman ke Finlandia.

Padahal mereka menjatuhkan bom ke negara tersebut. Warga Finlandia yang tidak terima mencoba melawan. Mengikuti istilah yang digunakan menteri Molotov, mereka menyebut bahan peledak yang dilemparkan ke arah pasukan Soviet dengan nama “bom molotov”.

Perusahaan minuman keras di Finlandia, The Finnish Alko, memproduksi 450.000 bom molotov selama perang. Senjata itu terbukti berperan penting dalam menahan laju serangan Soviet ke Helsinki, ibu kota Finlandia.

Penggunaan bom molotov pun kemudian berkembang ke negara-negara tetangga. Saat muncul isu Nazi akan menyerbu Inggris, petugas kerajaan pun dilengkapi dengan bom molotov sebagai bentuk pertahanan.

Kini, bertahun-tahun setelah Perang Dunia II berakhir, bom molotov masih digunakan oleh beberapa pihak untuk menyerang mereka yang dianggap musuh. [GP]

SHARE