Anda Perlu Emosional Saat Debat, Ini Alasannya - Male Indonesia
Anda Perlu Emosional Saat Debat, Ini Alasannya
MALE ID | Relationships

Setiap hubungan tidak akan lepas dari konflik. Baik itu konflik kecil maupun besar. Pasti akan selalu ada. Alih-alih tak ingin memperpancang persoalan, sebagian pria terkadang memilih diam dan pergi sesaat.

emosional - male IndonesiaPhoto by NeONBRAND on Unsplash

Padahal, sebagai pria mau tidak mau, Anda seharusnya bisa saja mengutarakan emosi Anda. Namun dalam taraf yang tidak berlebihan seperti memukul atau lebih dari itu. Mengapa Anda perlu emosional di sini?

Mengutip laman Mindbodygreen, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa Anda mengeluarkan emosi selama perdebatan mungkin sebenarnya menjadi kunci untuk diskusi yang lebih produktif dan positif.

Peneliti mempelajari 140 pasangan yang mendiskusikan konflik selama 10 menit. Satu anggota dari masing-masing pasangan secara diam-diam diberikan instruksi untuk mengatur emosi mereka dalam satu dari tiga cara, menjauhkan diri dari emosi mereka (berusaha untuk tidak merasakan apa pun selama pertengkaran), menekan emosi mereka (berusaha untuk tidak mengungkapkan emosi yang muncul), dan mengintegrasikan emosi mereka ke dalam pikiran, tindakan, dan perilaku mereka. 

Pendekatan ketiga ini, disebut regulasi emosional integratif, terkait erat dengan perhatian dan melibatkan pemrosesan aktif dan pengungkapan emosi sepanjang percakapan. Hasilnya, penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships, menunjukkan bahwa pendekatan yang integratif dan penuh perhatian untuk menangani emosi ini, memiliki dampak yang besar pada seberapa sukses percakapan yang penuh konflik itu terjadi.

Pasalnya, kedua pasangan merasa komunikasi mereka lebih baik dan diskusi lebih produktif. Jadi mengapa sebenarnya mengintegrasikan dan mengutarakan diri ke dalam emosi Anda sangat bermanfaat untuk argumen yang efektif.

"Mereka yang mengungkapkan emosi mereka, akan bersikap toleran, menerima, dan tertarik pada emosi negatif mereka," ucap peneliti.

Strategi ini juga, peneliti mengatakan bahwa, dapat memungkinkan orang untuk berbicara tentang kesulitan pribadi, meminta bantuan, mendengarkan dengan empatik ketika orang lain membicarakan masalah mereka sendiri, dan menegosiasikan konflik antarpribadi secara terbuka tetapi tidak agresif.

Orang yang diinstruksikan untuk menggunakan strategi kesadaran emosional ini khususnya merasakan efek positifnya, tetapi pasangan mereka yang sama sekali tidak menyadari strategi yang digunakan juga merasaka manfaatnya juga. Efek ini oleh para peneliti disebut sebagai "efek asap rokok". *** (SS)

SHARE