Startup: Coworking Space Unik Untuk Milenial | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Startup: Coworking Space Unik Untuk Milenial
Gading Perkasa | Works

Menjamurnya coworking space di Indonesia, khususnya Jakarta tidak lepas dari generasi milenial yang menginginkan gaya kerja santai, bebas, terbuka dan tak membosankan.

Photo by Gading Perkasa/Male.co.id

Hal itu yang mendasari Lena Thong, CEO service office Marquee untuk mendirikan coworking space bernama Connext. Mewakili Lena, Davin selaku Business Development Manager Connext menuturkan awal mula usaha tersebut. “Berdirinya sudah lama, tapi baru diresmikan 16 November 2017 kemarin,” kata Davin.

“Kami melihat kebutuhan para startup dan generasi milenial. Mereka butuh tempat untuk sharing, tanpa adanya pengotak-ngotakan. Connext mempertemukan orang agar saling terhubung,” katanya lagi.

Ia juga menuturkan, “Orang yang ingin menyewa tempat di Connext tidak dibebankan biaya tinggi. Kami buat agar harga sewa tempat di Connext terjangkau, masuk ke budget pelanggan.”

Setiap orang, kata Davin, hanya dikenakan Rp. 2.000.000,- per bulan. Harga itu diakui olehnya jauh lebih murah ketimbang menyewa di service office.

“Kami juga menyediakan paket fleksibel bagi klien yang tidak memakai tempat kami sebulan penuh. Harganya pun lebih rendah, sekitar satu juta rupiah,” ujarnya.

Bahkan, orang-orang bebas memilih menyewa co-working space tersebut. Entah hitungan bulan, minggu, hari, sampai jam sekalipun.

“Sederhananya, Connext adalah tempat nongkrong yang bisa sembari bekerja,” ujarnya lagi.

Persyaratan untuk menyewa space di Connext cukup mudah, hanya membutuhkan kartu tanda pengenal (KTP). Dengan persyaratan yang terbilang simpel itu, apakah akan berdampak pada keamanan orang bekerja di sana?

“Siapa saja bebas bekerja di Connext. Bahkan kompetitor kami sekalipun. Sulit mencegah seseorang, terlebih yang punya tujuan tertentu (misalnya hacker). Makanya kartu identitas sangat penting, sehingga bisa meminimalkan kemungkinan terburuk,” ucap Davin.

Davin melanjutkan, tidak ada kesulitan berarti mengenalkan konsep coworking space kepada masyarakat. Justru kehadiran coworking space menyulitkan para pemilik service office.

“Faktor terberat yang dihadapi oleh kami adalah, perusahaan besar tidak akan memanfaatkan coworking space. Karena konsepnya terlalu bebas dan sharing. Sedangkan mereka butuh privacy,” tuturnya.

“Banyak orang juga mulai melirik bisnis ini. Berdasarkan laporan market research yang kami terima, dalam satu tahun terakhir, ada lebih dari 100 co-working space berdiri di Jakarta. Dan 3 - 4 perusahaan boleh dibilang pesaing kuat kami. Itu menjadi tantangan bagi Connext,” tuturnya lagi.

Keunggulan yang membuatnya berbeda dari co-working space lain yaitu dalam hal pelayanan. “We don’t sell spaces, but we sell services,” kata Davin.

Sampai sejauh ini, Connext tersebar di empat titik. Tiga titik di Jakarta, yaitu Cyber 2 Tower Kuningan, Alamanda Tower dan Sovreign Plaza di TB Simatupang. Sisanya di Bali.

Menurut Davin, jumlah klien yang bergabung cukup banyak. Di Alamanda Tower, diisi 150 - 200 orang dari perusahaan e-commerce Bukalapak. Sementara di Cyber 2 Tower diisi sebelas company, salah satunya XL Axiata.

“Kalau di Cyber 2 Tower, justru lebih sering digunakan sebagai event space dan bisa hampir setiap hari. Ada Community Manager kami yang khusus me-manage event,” ujarnya ramah.

“Semua event yang diadakan di Connext adalah bentuk komitmen kami untuk menghubungkan satu orang dengan orang lain,” ujarnya lagi.

Rencananya, Connext bakal mengembangkan berbagai hal. Termasuk menambahkan area bersantai dan vending machine. Sebab, diakui Davin, generasi milenial tergolong senang bekerja lembur dan menginginkan sesuatu yang serba otomatis.

Buat siapa saja yang hendak membuka usaha co-working space, ada sedikit saran dari Davin. “You don’t need a nice place to open a co-working space. Tempat apapun bisa. Starts when it’s not booming. Jangan buang-buang waktu lagi,” katanya kepada MALE Indonesia. [GP]

SHARE