Hati-Hati, Stres di Malam Hari Bisa Mematikan - Male Indonesia
Hati-Hati, Stres di Malam Hari Bisa Mematikan
Sopan Sopian | Sex & Health

Stres adalah reaksi alami selagi tubuh mempersiapkan diri menghadapi bahaya, tuntutan, atau ancaman. Terlalu stres bisa memengaruhi kesehatan mental dan fisik secara serius.

Stres - Male IndonesiaPhoto by Ben White on Unsplash

Stres di siang hari dan malam hari ternyata berbeda. Menurut para ilmuwan Anda perlu lebih waspada terhadap stres di malam hari. Sebuah penelitian yang dilakukan Hokkaido University di Sapporo menemukan bahwa stres di malam hari lebih berbahaya dibandingkan dengan waktu-waktu lainnya.

Menurut para peneliti tersebut, tubuh manusia melepaskan tingkat hormon yang lebih rendah yang membantu meredakan stres di malam hari. Sebaliknya di siang hari tingkat hormon lebih tinggi untuk meredakan stres.

"Studi kami menunjukkan kemungkinan kerentanan terhadap stres di malam hari," kata pemimpin studi Yujiro Yamanaka, ahli fisiologi medis di Hokkaido University di Sapporo.

Para peneliti mengukur kadar hormon stres kortisol dalam air liur dari 27 sukarelawan muda yang sehat. Mereka juga memaparkan bahwa mereka pada situasi yang penuh tekanan untuk melihat apakah aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) merespon secara berbeda terhadap stres akut pada waktu yang berbeda-beda dalam satu hari.

Sumbu HPA menghubungkan sistem saraf pusat dan endokrin tubuh. Ketika peristiwa yang menegangkan mengaktifkan sumbu, tubuh melepaskan kortisol. Kadar kortisol juga dikontrol oleh jam sirkadian di otak.

Para relawan dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok terkena stres test di pagi hari, dua jam setelah bangun tidur. Kelompok lain terkena stres test di malam hari, setelah bangun selama 10 jam.

Tes 15 menit meliputi persiapan dan presentasi kepada tiga pewawancara dan kamera. Peserta juga harus melakukan aritmatika mental. Para peneliti mengambil sampel air liur setengah jam sebelum tes, segera setelahnya, dan pada interval 10 menit selama setengah jam lagi.

Kadar kortisol meningkat secara signifikan di pagi hari, tetapi tidak di malam hari, hasil menunjukkan. Namun, denyut jantung peserta, indikator respon sistem saraf simpatetik terhadap stres tidak berbeda.

"Tubuh dapat merespon peristiwa stres pagi dengan mengaktifkan aksis HPA dan sistem saraf simpatetik, tetapi itu perlu untuk menanggapi peristiwa stres malam dengan mengaktifkan sistem saraf simpatetik saja," kata Yamanaka.

Para peneliti menyebutkan bahwa orang-orang biasanya lebih bisa meredakan stresnya di pagi dan siang hari ketimbang mengalami ketika stres di malam hari.

Jika stres tak juga mau pergi dari pikiran. Dr. Brandon Peters dari VeryWell menyarankan Anda mencurahkan waktu secara khusus untuk fokus pada kekhawatiran Anda sendiri. Menyisihkan "waktu khawatir yang dijadwalkan" di malam hari untuk mengatasi stres bisa membuatnya lebih mudah dikendalikan.

"Luangkan waktu setiap sore membuat atau meninjau daftar hal-hal yang berkontribusi terhadap stres dalam hidup Anda. Tuliskan mereka. Kemudian, di kolom kedua, berikan beberapa tindakan yang akan memungkinkan stres ditangani dan membuat lega," jelas Dr. Peters. *** (SS)

SHARE