Masa Kelam Kota Penyihir di Wilayah Amerika - Male Indonesia
Masa Kelam Kota Penyihir di Wilayah Amerika
Sopan Sopian | Story

Kota Sihir memang benar-benar ada, Kota Salem namanya. Letaknya di Amerika Serikat atau lebih tepatnya di Negara bagian Massachusetts bagian Oregon. Kota ini secara resmi telah ditetapkan sebagai kota sihir oleh Michael Dukakis, gubernur Massachusetts pada masa itu. Mengapa Kota Salem dikatakan kota penyihir?

Photo by Blight55 on Wikipedia

Kota ini ditetapkan sebagai kota sihir karena di Kota ini, pernah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan. Yaitu peristiwa The Salem Witch Trial, peristiwa dimana lebih dari 150 penduduk kota ini ditangkap, diadili, dan dihukum hanya karena dianggap mempraktikkan ilmu sihir. 

Kota Salem berdiri pada tahun 1629. Pada tahun 1641, sebagai bagian dari koloni Inggris, hukum Inggris juga diterapkan di kota itu. Salah satunya adalah hukum bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan praktik sihir merupakan pelanggaran berat. 

Kisah Awal Kelam Kota Salem
Kisah kelam nan tragis di Kota salem bermula pada tahun 1688, dimana Martha Goodwin, seorang remaja penduduk lokal bertengkar dengan Goode Glover, seorang tukang cuci pakaian yang akhirnya memicu kemunculan peristiwa-peristiwa aneh seputar ilmu sihir waktu itu. 

Setelah kejadian itu, Martha mulai menderita penyakit aneh, kemudian disusul oleh kakak perempuan dan adik laki-lakinya yang juga menderita penyakit yang sama. Akibat kejadian itu, Goode akhirnya ditangkap karena dituduh telah melakukan praktek sihir terhadapa keluarga Goodwin.

Kemudian seorang pendeta bernama Cotton Mather menemui Goode dan membujuknya agar mengakui perbuatannya. Jika tidak, maka ia akan dijatuhi hukuman mati berupa hukuman gantung oleh pengadilan setempat. Namun siapa sangka, tak lama kemudian muka Goode menjadi seram dan menakutkan, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tahun-tahun berikutnya, pada tahun 1692, banyak gadis yang mulai menderita penyakit aneh yang sama dengan penyakit anak-anak keluarga Goodwin, seperti Abigail Williams (11 tahun), Elizabeth Parris (9 tahun), Ann Putnam Jr., dan lainnya. 

Semakin Memanas
Lalu pada pertengahan februari 1692, dokter pada waktu itu malah menganggap bahwa penyakit yang dialami oleh penduduk adalah akibat sihir. Hal ini membuat membuat penduduk semakin khawatir dan akhirnya saling tuduh menuduh pun terjadi.

Penuduhan pertama yang terjadi pada seorang budak wanita aneh yang bernama Tituba. Ia dituduh telah memberikan kue buatannya yang disebut kue sihir kepada seekor anjing. Lalu ada Sarah Good dan Sarah Osborne yang juga dituduh sebagai penyihir. Hal tersebut dikuatkan oleh pernyataan Tituba yang mengaku ia mendapatkan praktik sihirnya dari Goode Glover dan Sarah Osborne. 

Beberapa penduduk lain menuduh Sarah Good dan Sarah Osborne sebagai penyihir. John Hathorne dan Jonathan Corwin dari kepolisian setempat memeriksa Tituba, Sarah Good dan Sarah Osborne atas tuduhan itu. Tituba mengaku bahwa praktek sihirnya didapat dari Goode Glover dan Sarah Osborne.

Kemudian ada tiga orang bernama Mercy Lewis, Mary Walcott dan Mary Warren mengaku tertular penyakit aneh dari Ann Putnam Jr. Ann menuduh Martha Cory adalah seorang penyihir, begitu pula Abigail Williams menuduh Rebecca Nurse. Deputi Samuel Brabrook juga menangkap Dorcas Good yang kemudian diperiksa oleh kedua polisi Hathrone dan Corwin, mereka juga menangkap Rebecca Nurse.

Selanjutnya Elizabeth Proctor dan Sarah Cloyce (adik dari Rebecca Nurse) dituduh sebagai penyihir, setelah Sarah Cloyce membela habis-habisan kakaknya dan mengatakan bahwa kakaknya itu bukan penyihir.

Hal yang sama terjadi pada John (suami dari Elizabeth Proctor) sewaktu dia membela istrinya dan menjadikan dia lelaki pertama yang tertuduh sebagai penyihir. Aksi tuduh menuduh inipun semakin berkembang dan membuat banyak orang ditangkap (baik lelaki maupun perempuan) dan dimasukan ke penjara.

Hingga pada Mei 1692, keadaan kota Salem semakin memanas. Pengadilan pun digelar. Bridget Bishop adalah wanita pertama yang diadili karena Elizabeth Booth (perempuan yang menuduhnya penyihir) terbukti mendapat gejala penyakit aneh tersebut, Bridget Bishop-pun dihukum gantung.

Selanjutnya Rebecca Nurse, Susannah Martin, Elizabeth Howe, Sarah Good dan Sarah Wildes diadili dan mereka pun digantung di Gallows Hill.

Kemudian George Jacobs Sr., Martha Carrier, George Burroughs, John Willard, John and Elizabeth Proctor diumumkan bersalah dan mereka pun juga digantung, kecuali Elizabeth Proctor karena dia sedang mengandung.

Disusul Martha Corey, Mary Easty, Alice Parker, Ann Pudeator, Dorcas Hoar dan Mary Bradbury. Tuduhan penyihir pun bertambah dengar hadirnya Giles Cory. 17 September 1692, Margaret Scott, Wilmott Redd, Samuel Wardwell, Mary Parker, Abigail Faulkner, Rebecca Earnes, Mary Lacy, Ann Foster dan Abigail Hobbs diadili dan dijatuhi hukuman gantung.

Apa yang dialami Giles Cory lebih sadis dan mengerikan, lelaki itu ditindih dengan batu besar sampai mati karena dia menolak untuk mengakui kesalahannya dan itu memakan waktu dua hari hingga dia tewas. Beberapa hari kemudian Martha Cory, Margaret Scott, Mary Easty, Alice Parker, Ann Pudeator, Willmott Redd, Samuel Wardwell dan Mary Parker dihukum gantung.

Keadaan Berangsur Membaik
Oktober 1692, Pendeta Increase Mather, presiden dari Harvard College (ayah dari Pendeta Cotton Mather) mengumumkan cara penggunaan bukti-bukti sihir di pengadilan. Tetapi Gubernur Phipps mengatakan bahwa bukti-bukti itu tidak berlaku pada pengadilan ilmu sihir.

Pada musim gugur, Gubernur Phipps membebaskan beberapa tersangka yang tidak cukup bukti. Hakim Stoughton mendapat perintah dari Gubernur untuk melanjutkan proses pengadilan ilmu sihir dan menghukum gantung para wanita walaupun mereka sedang hamil, dikarenakan itulah Hakim Stoughton mundur dari jabatannya sebagai Hakim kota.

Akhirnya, 49 dari 52 orang tersangka dibebaskan termasuk Tituba yang kemudian dijual kepada tuannya yang baru. Pada musim panas Gubernur Phipps memohon maaf kepada seluruh tersangka yang masih tersisa di dalam penjara.

Hingga tahun 1697, pengadilan kota mengakui kesalahan telah memenjarakan dan menghukum mati banyak orang tanpa bukti yang jelas dan menentukan hari puasa dan soul-searching atas tragedi di kota Salem itu. Mereka pun mendeklarasikan bahwa tahun 1692 sebagai tahun tanpa hukum. 

Kini, Kota salem kemudian menjadi sebuah kota wisata yang sarat akan nilai supranatural. Peristiwa The Salem Witch Trials sampai sekarang masih dikenang dan pengunjung kota Salem masih bisa melihat.

Jejak Aceh di Kota Salem
Mengutip laman Historia, Februari 1831, kapal dagang berbendera Amerika Serikat, Friendship, berlabuh di Kuala Batu, Aceh Barat Daya, untuk mengangkut lada. Kehadiran kapal-kapal dagang Amerika di pantai barat Sumatra sudah menjadi pemandangan biasa sejak pergantian abad ke-19. Namun kegiatan transaksi jual beli yang semestinya berjalan seperti biasa tersebut, lantas menjadi malapetaka bagi awak Friendship.

Friendship melepas jangkarnya dari kota Salem, Massachusetts, salah satu kota pelabuhan terpenting Amerika dalam urusan perdagangan di Timur Jauh kala itu. Dalam misinya membeli lada ke Kuala Batu, Friendship dipimpin oleh Kapten Charles M. Endicott. Friendship berlabuh dan Endicott beserta beberapa anak buahnya turun untuk menegosiasikan harga.

Situasi mulai terasa aneh ketika tiga perahu kayu penuh dengan penduduk yang bersenjata mengerubungi Friendship, dan kemudian menyerangnya. Awak kapal Friendship berhamburan, dan beberapa lainnya tewas. Friendship dirampas. 

Friendship dapat direbut kembali, namun kargonya yang terdiri dari lada, opium, dan lain-lain senilai US$50.000 lenyap. Protes keras dilayangkan kepada uleebalang (kaum bangsawan) di Kuala Batu, namun tak digubris. Perampasan Friendship ini menjadi sensasi di Amerika, yang direspons oleh Presiden Andrew Jackson dengan mengirim ekspedisi militer untuk menghukum penduduk Kuala Batu.

Maka, dikirimlah Komodor John Downes, dengan menahkodai Potomac beserta lebih dari 300 prajuritnya ke Aceh pada 28 Agustus 1831. Ini menjadi intervensi militer Amerika Serikat pertama di Asia.

Potomac berlabuh di Kuala Batu pada 5 Februari 1832, menyamarkan dirinya sebagai kapal dagang Denmark. Penduduk Kuala Batu tidak curiga. Downes dan 282 prajuritnya tiba-tiba menyerang. Kuala Batu dibombardir dan terbakar hebat, dan meski penduduknya telah melawan sekuat tenaga, perbedaan teknologi senjata membuat mereka akhirnya menyerah. *** (SS)

SHARE