Urine Berbusa, Tanda Ada Masalah Kesehatan Serius - Male Indonesia
Urine Berbusa, Tanda Ada Masalah Kesehatan Serius
MALE ID | Sex & Health

Air seni atau urine biasanya berwarna kuning pucat hingga kuning gelap. Teksturnya pun mulus dan tidak bergelembung. Namun ternyata, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan warna dan tekstur urine menjadi berubah. Bisa karena mengonsumsi obat tertentu atau sedang menderita penyakit.

Pxhere.com

Kemunculan buih atau busa-busa kecil pada urine ketika buang air kecil mungkin kerap terabaikan. Karena mengukur ada penyakit melalui urine biasanya akan terfokus pada warna urine. Padahal, urine yang berbusa dapat menjadi pertanda adanya masalah kesehatan di dalam tubuh yang memerlukan perhatian lebih serius.

Pada dasarnya, tiap orang mungkin sesekali pernah mengeluarkan urine yang berbusa. Urine berbusa biasanya dipengaruhi oleh kandung kemih yang penuh. Kondisi ini akan membuat aliran urine menjadi lebih kencang saat buang air kecil, sehingga busa-busa kecil terbentuk pada urine. Busa-busa ini akan menghilang dalam waktu singkat.

Terkadang, busa pada urine juga bisa terbentuk ketika cairan urine lebih pekat. Urine bisa menjadi lebih pekat bila tubuh kekurangan cairan atau dehidrasi.

Urine Berbusa Bisa Pertanda Ginjal dan Diabetes
Di sisi lain, urine berbusa bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius seperti kerusakan pada ginjal. Dalam hal ini, busa terbentuk karena urine mengandung terlalu banyak protein. Protein-protein pada urine ini bereaksi dengan udara sehingga membentuk busa.

Adanya protein dalam jumlah banyak pada urine disebabkan oleh menurunnya kemampuan ginjal dalam melakukan penyaringan. Akibatnya, terjadi 'kebocoran' protein yang dikenal sebagai proteinuria. Proteinuria merupakan tanda dari penyakit ginjal kronis atau kerusakan ginjal stadium akhir.

"Ketika ginjal Anda rusak, ginjal Anda tidak dapat menyaring sebaik seharusnya," papar spesialis penyakit dalam Suzanne Falck MD dalam laman Health Line.

Meski cukup jarang, urine yang berbusa pada pria dapat disebabkan oleh ejakulasi retrograde. Ejaulasi retrograde merupakan kondisi di mana air mani tidak keluar saat ejakulasi melainkan masuk ke kandung kemih.

Falck mengungkapkan bahwa obat-obat tertentu juga dapat menyebabkan munculnya busa pada urine. Salah satunya adalah obat phenazopyridine. "Dan kadang, masalahnya hanyalah toilet Anda," ungkap Falck.

Beberapa cairan pembersih toilet mengandung zat kimia yang dapat membuat urine terlihat seperti berbusa. Urine tak akan lagi berbusa bila cairan pembersih ini dibilas dengan baik.

Urine berbusa sebaiknya diperiksakan ke dokter bila disertai dengan gejala-gejala lain. Beberapa contoh gejala tersebut adalah kelelahan, hilang nafsu makan, mual, muntah, warna urine yang lebih pekat, kesulitan tidur dan perubahan jumlah urine yang dikelurkan. Pada pria, gejala lain yang perlu diwaspadai adalah orgasme tanpa mengelurkan air mani dan masalah kesuburan.

Bengkak pada tangan, kaki, wajah dan perut juga merupakan gejala lain yang perlu diperhatikan ketika mengalami urine berbusa. Bengkak pada tangan, kaki, wajah dan perut ini dapat menjadi tanda adanya penumpukan cairan di dalam tubuh yang disebabkan oleh kerusakan ginjal.

"Gejala-gejala ini dapat menjadi petunjuk bahwa kondisi medis merupakan penyebab dari masalah (urine berbusa yang Anda alami)," terang Falck.

Dalam laman Medicalnews Today, penyebab lain urine berbusa adalah penyakit diabetes. Kandungan gula yang tinggi dalam darah dapat menyebabkan urine berbusa. Glukosa darah merupakan molekul besar seperti protein dalam hal ginjal.

Kadar gula yang terlalu tinggi dalam darah, menyebabkan ginjal kesulitan menyaring. Akibatnya gula dan protein dapat lolos dari saringan ginjal dan masuk dalam urine. Saat dikeluarkan, urine dapat menghasilkan busa.

Sebagai informasi, gejala penyakit diabetes biasanya berupa penglihatan yang kabur, mulut terasa kering, perasaan haus yang konstan, sering buang air kecil, rasa lapar yang terus menerus tanpa sebab, kulit yang gatal, dan mudah lelah. Jika merasakan hal demikian, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terdekat. *** (SS)

SHARE