Startup: Optmimasi Platform Online untuk Bisnis | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Startup: Optmimasi Platform Online untuk Bisnis
Sopan Sopian | Works

Muhammad Sadad, ia adalah pemilik brand fashion anak muda (clothing), Erigo. Mendengar ceritanya, seperti membaca kisah Mark Zuckerberg dan Bill Gates. Ia harus meninggalkan bangku kuliah dan melupakan gelar S1-nya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Diceritakan Sadad, begitu panggilannya, Erigo mulai eksis dari Juni 2013. Artinya, Erigo sudah eksis lima tahun dalam bisnis fashion. "Waktu pertama kali membangun produk Erigo, waktu itu saya masih kuliah, setahun Erigo berdiri, saya keluar dari perkuliahan," tuturnya.

Memang tak ada investor sedari awal hingga sekarang. Pada awalnya, ia merogoh kocek sendiri sekitar puluhan juta rupiah guna memproduksi beberapa lusin pakaian. Khususnya, waktu itu adalah kemeja. "Sekarang kita banyaknya di kaus sih," ujar Sadad.

Semakin berkembangnya bisnis tersebut, Sadad bercerita bahwa pada September 2015 ia membuat strategi bisnis baru dengan me-rebranding brand Erigo menjadi konsep street stlye dan traveling. Tak tanggung-tanggung, Sadad pun melakukan sesi photo session untuk koleksi-koleksinya di beberapa negara. Misalnya seperti di Amerika dan Jepang.

"Mungkin bedanya kita (Erigo) dengan clothing lain, kita selalu photoshoot di luar negeri. Kaya di Amerika dan Jepang. Misalnya, ketika kita memunculkan tema Jepang. Kita Photoshoot langsung di Jepang, dan sebaliknya," ucapnya.

Mengoptimalkan Platform Online dan Offline
Dalam menjual produk-produknya, Sadad menggunakan platform online dan offline. Lewat offline Erigo bisa ditemui di Palembang dan Banjarmasin. Untuk online, ia menggunakan media sosial guna mempromosikan Erigo.

Sadad mengaku memang semua bisnis memiliki turun naik. Pada awalnya barang yang ia produksi susah terjual. Kemudian, ia mencoba untuk mempromosikannya lewat akun-akun Instagram dengan followers yang banyak. 

"Nah, dari sana, setelah promosi barang ke akun Instagram Dagelan waktu itu, mulai di sana jualannya rame," tutur pria asal Aceh itu.

Kemudian, munculnya platform ecommerce, diakui Sadad menguntungkan pelaku bisnis seperti dirinya. Sebelum maraknya ecommerce, influencer menjadi salah satu tonggak utama untuk mencari traffic, tetapi sekarang dengan adanya ecommerce, mencari traffic tidak sulit lagi. 

"Tapi yang terpenting, produknya tetap harus ada yang baru, tokok (online-nya) harus diurus, bikin foto menarik, buat produk menarik di layanan ecommerce itu," uarnya Sadad.

Selain dari segi offline berupa toko. Sadad mengaku, awal mula mendirikan Erigo hanya berjualan lewat pameran-pameran. Tak cuma di kota-kota besar di dalam negeri, ke negeri jiran juga disambangi.

Hanya saja, cara marketing lewat pameran ini punya kelemahan, yaitu biaya operasional lebih tinggi lantaran harus menyewa lapak kepada penyelenggara, sekaligus memberikan diskon. Akibatnya, tak jarang Sadad merugi.

Sadad mengaku dengan banyaknya brand fashion yang buka tutup, ia tak mempersoalkan itu, pasalnya ia telah melewati itu. Bahkan telah memiliki rumus tersendiri. Namun, menurutnya, beberapa brand fashion khususnya dalam bisnis clothing yang banyak tutup, itu karena tidak konsisten. 

"Banyak clothing ketika bikin produk, nunggu habis dulu produk sebelumnya. Rumusnya, sebaiknya sebelum habis udah produksi dulu, biar pelanggan bisa terus balik ke toko kita," ucapnya. *** (SS)

SHARE