Derita Shim Suk-hee, Atlet Cantik Korea Selatan - Male Indonesia
Derita Shim Suk-hee, Atlet Cantik Korea Selatan
Sopan Sopian | Sport & Hobby

Shim Suk-hee merupakan salah satu atlet skater speed track pendek putri Korea Selatan. Pada Olimpiade Musim Dingin 2014, ia memenangkan emas di estafet 3000 meter sebagai bagian dari tim estafet Korea Selatan, dan ia meraih perak di 1500 meter, serta perunggu di 1000 meter.

Phot by Russavia on Wikipedia

Shim Suk-hee sendiri pertama kali mengikuti olimpiade pada pertandingan Olimpiade Pemuda Musim Dingin yang diadakan di Innsbruck, tahun 2012. Saat itu ia berusia 14 tahun. Ia menyapu bersih kedua acara individu, baik untuk jarak 500 m dan 1000 m. 

Masih dalam olimpade yang sama, ia juga mendapatkan medali perunggu dalam estafet 3000 m sebagai anggota tim campuran yang terdiri dari pemain skater yang mewakili berbagai negara.

Sebulan setelah Olimpiade Pemuda, Shim berkompetisi di Kejuaraan Skating Cepat Track Dunia Junior 2012 yang diadakan di Melbourne, di mana ia memenangkan emas di semua acara yang tersedia (jarak 500 m, 1000 m, 1500 m), kecuali untuk 1500 meter.

Pada usia 15 tahun, ia terpilih untuk tim nasional Korea Selatan pada Piala Dunia 2012-2013. Ia memenangkan 1500 meter dan 1000 meter pada lomba pertama Piala Dunia 2012-2013 di Calgary. Shim melanjutkan keberhasilannya pada balapan Piala Dunia 2012-2013 kedua di Montreal, di mana ia memenangkan medali emas 1500 m keduanya. 

Pada balapan ketiga di Nagoya, Shim mengarsipkan podium pada 500 meter untuk pertama kalinya dan memenangkan emas lainnya pada 1500 meter. Dia akhirnya menjadi juara 1500 meter untuk musim Piala Dunia 2012–13 yang meraih 1.500 m emas di semua enam balapan, dan menjadi runner-up di belakang Elise Christie dalam 1.000 meter dengan tiga medali emas. Dia juga selesai pertama di keseluruhan 2012-2013 klasemen Piala Dunia.

Siksaan yang Didapatkan Shim Suk-hee
Kendati ia adalah atlet berprestasi. Nyatanya, dibalik prestasinya, ia menderita penyiksaan oleh pelatihnya, Cho Jae-beom.

Cho Jae-beom sudah menjadi pelatihnya sejak lama, yakni sejak Shim Suk-hee berusia tujuh tahun. Konon, dalam melatih, Cho Jae-beom menggembleng anak didiknya tersebut dengan menggunakan metode kekerasan. Bahkan beberapa jari Shim sempat mengalami patah tulang akibat perlakuan kasar pelatihnya tersebut.

"Dia sering memukul dan melecehkan saya secara verbal sejak saya berumur tujuh tahun," kata Shim dalam laman Malaymail. "Pada suatu hari, dia memukul saya dengan sebuah tongkat hoki dan mematahkan jari-jari saya," tambah Shim.

Seiring bertambahnya usia, ternyata perlakuan kasar dan kekerasan tak kunjung berhenti. Hal tersebut makin membuat Shim menjadi trauma dan hidup dalam cengkeraman rasa takut dengan tingkat kecemasan yang ekstrem.

"Beberapa minggu sebelum Olimpiade PyeongChang 2018, dia menendang dan meninju saya sangat keras, khususnya di kepala saya," tutur Shim. "Pada saat itu saya bahkan berpikir bahwa saya bisa mati di sini," tambahnya.

Dalam kehidupan masyarakat yang sudah sangat kompetitif, kemenangan adalah segalanya, termasuk dalam komunitas olahraga. Namun demikian, Shim Suk-hee tidak bisa menerima lagi cara mendidik pelatih Cho Jae-beom dengan metode kekerasan tersebut sehingga dia mengangkatnya ke meja hijau. *** (SS)

SHARE