Tragedi Jatuhnya Kereta ke Sungai di Malam Natal - Male Indonesia
Tragedi Jatuhnya Kereta ke Sungai di Malam Natal
Gading Perkasa | Story

Malam Natal 1953, kereta jurusan Wellington - Auckland mengarah ke jembatan Sungai Whangaehu. Cuaca di sebagian wilayah Selandia Baru kala itu relatif baik, hanya diwarnai gerimis.

Archives New Zealand/flickr

Kereta bernomor lokomotif Ka 949 dan sembilan gerbong melaju dengan kecepatan 65 kilometer per jam. Ada 285 penumpang dan awak di dalam kereta. Mereka tak sabar menyambut malam Natal, membawa hadiah untuk orang-orang terkasih.

Sementara, keluarga dan kerabat menanti para penumpang di stasiun. Tak ada yang mengira, musibah segera terjadi. Begitu pula sang masinis. Ia tak menyadari beberapa jam sebelumnya, dua juta meter kubik lahar dingin tumpah dari kawah Gunung Ruapehu.

Gelombang setinggi enam meter yang berisi campuran air, es, lumpur, dan batu menerjang seperti tsunami di aliran Sungai Whangaehu.

Seperti dikutip dari New Zealand History, banjir bandang menghantam tiang beton jembatan, membuatnya melengkung. Tepat pada pukul 22.21 waktu setempat, saat melewati konstruksi yang rentan, kereta itu terjun ke Sungai Whangaehu, Tangiwai.

Sang masinis, Charles Parker sempat bertindak. Ia menarik rem sekitar 200 meter dari jembatan. Upayanya itu menyelamatkan tiga gerbong terakhir.

Sementara, gerbong kelas utama, Car Z sempat bertengger di bibir jembatan selama beberapa menit sebelum terpisah dari tiga gerbong yang selamat dan terjun ke sungai. Ajaibnya, meski terbawa arus deras, 21 dari 22 penumpang di dalamnya selamat.

“Air kala itu benar-benar membutakan. Penuh belerang, oli mesin, serta puing-puing,” kata Richard Edward Brett atau Ted, salah satu penumpang gerbong kelas dua yang selamat, melansir dari Stuff.

Ia yang kala itu berusia 18 tahun bepergian bersama dua temannya, dari Masterton ke Auckland, untuk merayakan malam Natal. Ketiganya seharusnya duduk di kelas satu, tapi kursi mereka telah ditempati orang lain.

Menjelang kecelakaan, Ted berniat mengabadikan Gunung Ruapehu dengan kamera yang bisa memotret kala gelap. Tiba-tiba, kereta mendadak berhenti. “Bunyi decit baja itu tak bisa dilupakan,” kata dia.

Awalnya, ia mengira seekor hewan ternak menghalangi rel. Namun, para penumpang langsung sadar, ada hal yang lebih mengerikan. Kereta pertama terjun ke sungai.

Gerbong kedua, di mana Ted berada menyusul jatuh dalam pusaran mengerikan. Suasana di dalamnya sungguh tak terbayangkan. “Semua terjadi dalam hitungan sepersekian detik,” ujarnya mengenang.

Ted terlempar ke arah jendela, kekuatan terjangan air mulai merobek gerbong dan siap menghancurkan apapun yang dilewatinya.

Ia berusaha keras keluar, menendang dan mendorong jendela. Hanya dia satu-satunya orang yang selamat dari gerbong tersebut. “Lebih mengerikan dari mimpi buruk. Apalagi jika membayangkan para wanita dan anak-anak di dalam,” ucap Ted.

Lokasi di mana kecelakaan kereta terjadi, Tangiwai, berarti ‘air menangis’ dalam Bahasa Maori.

Momentum kecelakaan di malam Natal juga kian menambah miris tragedi tersebut. Karena beberapa hari setelahnya, petugas pencari menemukan kotak hadiah yang compang - camping, mainan, dan boneka terbenam di lumpur sungai.

Peristiwa itu sempat menjadi kecelakaan kereta paling parah ke-8 di dunia dan diberitakan di seluruh dunia.

Penduduk Selandia Baru terkejut bukan kepalang setelah kabar duka diumumkan Perdana Menteri Sidney Holland, tepat pada hari Natal.

Atmosfer perayaan sontak berubah jadi suram. Segala suka cita yang berlangsung pada 1953, ketika Edmund Hillary berhasil menaklukkan Puncak Everest, terlupakan.

Antusiasme rakyat Selandia Baru menyambut kedatangan Ratu Elizabeth II dan suaminya Pangeran Philip, juga sirna.

Dengan populasi sekitar dua juta orang, banyak warga yang punya hubungan langsung dengan para korban dalam tragedi itu. [GP]

SHARE