Faktor Milenial Lebih Miskin dari Generasi Lain - Male Indonesia
Faktor Milenial Lebih Miskin dari Generasi Lain
Sopan Sopian | Works

Selama ini kaum milenial dianggap sebagai yang terunggul dibandingkan dengan pendahulunya, generasi X (kelahiran 70an hingga awal 80an) dan baby boomers (generasi orang tua). Dibandingkan kedua generasi tersebut, generasi milenial dikenal lebih kreatif, dan berani mengambil resiko. 

Milenials - Male Indonesiapixabay.com

Namun,  generasi milenial tidak bisa unggul dalam semua aspek. Ada beberapa aspek yang dinilai lemah dan bahkan kalah dari generasi sebelumnya, salah satunya tentang keuangan. Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat belum lama ini merilis riset terbaru tentang keuangan generasi milenial. 

Riset itu menyebut bahwa milenial lebih miskin dibandingkan generasi x, baby boomers, dan bahkan generasi 1900-an. Penyebabnya sendiri yaitu pengeluaran, pendapatan, hutang, harta, dan faktor demografis. Milenial disebut "harus menanggung risiko" dari krisis ekonomi, yang menyebabkan minimnya lapangan kerja, dan tingginya hutang.

"Masalah keuangan ini lebih berpengaruh terhadap milenial, daripada generasi sebelumnya yang lebih mapan dalam karier," terang para peneliti, Christopher Kurz, Geng Li, dan Daniel J. Vine, dalam laman NPR.

Tidak hanya itu, milenial ternyata punya kebiasaan belanja yang sama seperti orangtua, dan kakek-neneknya. Akan tetapi dengan jumlah uang yang lebih sedikit. Soal hutang, penelitian itu menemukan bahwa milenial, yang lahir dalam rentang waktu 1981 sampai 1997, memiliki jumlah yang hampir sama dengan generasi X. Namun milenial punya hutang lebih banyak dibandingkan baby boomers.

Di tengah kondisi keuangan yang memprihatinkan ini, milenial masih harus bersiap menghadapi masalah finansial baru. Di antaranya yakni, kenaikan biaya kesehatan dan pendidikan yang tidak dialami generasi sebelumnya.

"Secara garis besar, generasi milenial itu masih cukup muda. Masih belum bisa dipastikan apakah ketika dewasa nanti akan mengubah selera dan pilihan mereka," terangnya.

Selaras dengan hal itu, Institute of Fiscal Studies (IFS), Inggris menuturkan bahwa, millennial tak akan sekaya generasi pendahulunya. IFS menelaah evolusi pendapatan dan jumlah kekayaan warga Inggris dari tahun 2006 dan menemukan bahwa jumlah kekayaan orang-orang berusia 45 hingga 54 tahun naik hingga rata-rata 6 ribu poundsterling. Sementara yang berusia 25 hingga 34 hanya naik sekitar 4 ribu poundsterling. 

Ternyata tren itu bukan hanya terjadi di Inggris. Forbes melaporkan, di tahap karier yang sama, millennial secara global mendapat gaji 20% lebih rendah dibandingkan generasi pendahulunya. Salah satu alasannya menurut Forbes adalah, millennial memiliki pendidikan lebih tinggi ketimbang generasi lalu. 

Jika dulu di usia akhir 20an Gen X atau baby boomers sudah punya pengalaman kerja yang cukup banyak, maka millennial baru saja menyelesaikan pendidikan pascasarjana. Hal ini membuat millennial kalah dalam soal pengalaman. Diakui atau tidak, dalam banyak bidang pekerjaan, pengalaman matang lebih berharga dibandingkan pendidikan tinggi tapi minim pengalaman.

Krisis ekonomi yang terjadi secara global, harga properti yang semakin meningkat, dan pajak makin tinggi hanyalah sebagian fakta yang semakin memperburuk kemungkinan bahwa generasi milenial tak akan jadi generasi berduit, kecuali mereka dapat warisan dari orangtuanya yang memang kaya raya. *** (SS)

SHARE