Masih Pacaran sudah Hidup Bersama, Pentingkah? - Male Indonesia
Masih Pacaran sudah Hidup Bersama, Pentingkah?
MALE ID | Relationships

Hidup bersama saat masih dalam hubungan berpacaran tentu akan dianggap sebagai perbuatan yang tidak bermoral. Tetapi bagi beberapa kalangan, hidup bersama pasangan sebelum berkomitmen jangka panjang sudah menjadi hal yang biasa.

Hidup Bersama - male Indonesiapexels.com

Menurut laman artofmanliness, hari ini hidup bersama sebelum berkomitmen telah meningkat 1500% sejak tahun 1960-an, dan 30% hanya dalam dekade terakhir. Lalu, mengapa hidup bersama sebelum berkomitmen menjadi hal biasa? 

Ada beberapa alasan atas pertanyaan tersebut, pertama tentu saja, adalah sekularisasi budaya secara keseluruhan. Hidup bersama saat berpacaran secara alami adalah pelanggaran yang menyalahi norma. Namun, kini telah berubah, rasa malu telah menurun menurun secara signifikan, sementara sikap acuh tak acuh dilingkungan yang individual telah meningkat secara dramatis.

Alasan lain untuk peningkatan tingkat kohabitasi (tinggal serumah tanpa ikatan komitmen) lebih praktis. Misalnya, pasangan sering mengutip manfaat ekonomi, berbagi sewa tepat tinggal (apartemen), utilitas, perabotan, dan lain-lain, yang kemudian muncul sebagai motivasi untuk pindah bersama.

Dalam sebuah penelitian, alasan pasangan memutuskan untuk hidup bersama sebelum berkomitmen, bagaimanapun, adalah untuk menguji kompatibilitas mereka dalam jangka panjang (berkomitmen). Tumbuh angka perpisahan setelah berkomitmen jangka panjang, pria dan wanita sama-sama melihat kohabitasi sebagai cara berisiko rendah dan murah untuk menguji sebuah hubungan jangka panjang itu.

Faktanya, 2/3 orang dewasa muda percaya bahwa hidup bersama sebelum berkomitmen jangka panjang adalah cara yang efektif untuk mencegah perceraian dan memastikan persatuan yang bahagia.

Efek Kohabitasi
Pada tingkat intuisi (hati), tampaknya masuk akal bahwa pasangan yang sudah mencoba proposisi hidup bersama, dan menguji kompatibilitasnya dengan erat, akan mampu membuat keputusan yang lebih baik, dan akan memiliki komitmen jangka panjang lebih solid.

Namun, hampir selusin penelitian yang dilakukan sejak tahun 1970-an menunjukkan hasil yang sangat berlawanan, bahwa kohabitasi sebelum berkomitmen jangka panjang dikaitkan dengan rendahnya kebahagiaan dan stabilitas dan kemungkinan perpisahan yang lebih tinggi. 

Penelitian itu menemukan bahwa pasangan yang hidup bersama saat masih berpacaran ternyata 33% lebih cenderung berpisah sebelum mengukuhkan komitmen jangka panjang. Para peneliti menyebutnya sebagai 'efek kohabitasi'.

Ternyata 'efek kohabitasi' ini erat kaitannya dengan siapa yang memutuskan atau mengajak lebih dahulu untuk hidup bersama daripada keputusan bersama untuk kohabitasi itu sendiri. Artinya, mereka yang memilih untuk mengajak hidup bersama saat berpacaran adalah mereka yang merasa modern (tidak konvensional) dan kurang religius, serta kurang memiliki intuisi komitmen jangka panjang.

Selain itu, penelitian lebih tua menemukan bahwa, mereka yang hidup bersama saat berpacaran tidak benar-benar memiliki efek baik terhadap keduanya, justru lebih banyak interaksi negatif, di mana komitmen interpersonal yang lebih rendah, kualitas hubungan yang lebih rendah, kepercayaan hubungan juga lebih rendah, dan hampir dua kali lebih mungkin untuk berpisah (putus).

Artinya, kohabitasi tidak menawarkan nilai protektif atau mempererat sebuah hubungan sama sekali, justru tidak ada keuntungan jangka panjang bersama. *** (SS)

SHARE