Mortal Engines, Distopia Kota-Kota yang Berjalan - Male Indonesia
Mortal Engines, Distopia Kota-Kota yang Berjalan
Sopan Sopian | Review

Film Mortal Engines (2018) merupakan film bergenre fantasi yang menggambarkan dunia 'baru' masa depan yang diadaptasi dari novel buah karya Philip Reeve. Film ini menawarkan jalan cerita yang unik, karena akan membawa Anda pada dunia pasca-apokaliptik, di mana setiap kota berada di atas sebuah kendaraan berjalan.

Selain itu, film Mortal Engines juga menjadi film terbaru dari Peter Jackson. Karena sejak merilis film penutup trilogi The Hobbit tahun 2014 silam, nama Peter Jackson tak terdengar lagi di jajaran film Hollywood terbaru. 

Namun di sini, Jackson hanya bertanggung jawab sebagai produser dan penulis naskah. Sementara kursi sutradara jatuh ke tangan Christian Rivers. Ia adalah kru langganan Peter Jackson yang bertanggung jawab di departemen Art dan Visual Effect pada trilogi Lord of The Rings dan The Hobbit.

Dari jajaran cast, meski beberapa di isi artis senior, namun didominasi oleh wajah-wajah baru dunia perfilman, seperti Hera Hilmar, Robert Sheehan, Leila George, Jihae, dan Hugo Weaving. 

Ringkasan
Film Mortal Engines diawali dengan adegan Hester Shaw (Hera Hilmar) yang melihat kedatangan kota predator London dari kejauhan. Wanita dengan syal merah yang menutupi sebagian wajahnya ini pun berlari menuju kota Salthook, kota kecil yang menjadi target kota predator London. 

Didukung dengan teknologi masa lalu, kota-kota bergerak ini akan saling memangsa kota lain yang lebih kecil untuk mendapatkan bahan bakar ataupun sumber daya yang dimiliki kota tersebut. Salah satunya kota London memangsa kota Salthook.

Hester yang memiliki agenda tersendiri, membiarkan dirinya masuk ke kota London dari kota Salthook yang termangsa untuk bertemu dengan Thaddeus Valentine (Hugo Weaving). Usut punya usut, ternyata Hester Shaw memiliki luka masa silam akibat perbuatan Thaddeus terhadap orangtuanya.

Namun sayang aksinya terpergok oleh Tom Natsworthy (Robert Sheehan) yang mengakibatkan keduanya dibuang dari kota London. Keduanya akhirnya saling membantu untuk bertahan hidup hingga kembali ke kota London. 

Di sisi lain, tokoh penjahat Valentine tengah mempersiapkan sebuah teknologi masa lalu yang maha dahsyat untuk melancarkan aksinya dalam menciptakan senjata pemusnah massal untuk memangsa kota-kota lainnya. 

Selama perjalanan inilah, Hester dan Tom bertemu dengan berbagai karakter, termasuk Anna Fang (Jihae), wanita yang telah lama mencari Hester untuk meminta bantuannya dalam menghentikan aksi Valentine serta serangan kota predator London.

Anna Fang (Jihae) sendiri adalah pilot dan pimpinan Liga Anti-Traksi, kelompok pemberontak yang menolak keberadaan kota-kota bergerak di atas permukaan Bumi. Lalu bisakah Hester berhasil membantu Anna Fang? Ada kekuatan apa yang dimiliki Hester? Dan bagiamana akhir perseteruan Valentine dengan Hester? Berhasilkah Valentine memangsa kota-kota lain yang menjadi incarannya?

Highlight
Berdurasi sepanjang 128 film Moral Engines menyajikan petualangan epik, karena ini bukan aksi superhero dengan kuatan magis, penonton disuguhkan dengan aksi-aksi wajar dari seorang manusia.

Sebagai sebuah tontonan, Mortal Engines terbilang mampu menyajikan kisah yang menghibur. Terlebih bagi Anda penggemar kisah fantasi serta film aksi. Mengingat sebagian besar adegan di film ini hadir dalam sajian aksi dan kejar-kejaran lengkap dengan unsur CGI, tentu para penggemar film action akan dengan mudah merasa terpuaskan. 

Berbeda dengan film berlatar belakang masa-masa apocalyptic lainnya, Mortal Engines punya kekuatan dalam menampilkan fantasi-fantasi liarnya. Penonton akan dimanjakan dengan gambaran bagaimana sebuah kota bergerak dengan kekuatan mesin dan roda-roda besar. 

Fantasi tentang hancurnya bumi hingga pakaian dan budaya yang terjadi setelah kehidupan manusia tidak lagi teratur disajikan dengan cukup baik. Belum cukup sampai di situ, penonton akan dimanjakan dengan fantasi bagaimana pesawat tempur dimodifikasi sedemikian rupa dimasa apocalyptic

Dari segi alur cerita, penyampaian ceritanya tidak terburu-buru. Karena meskipun menyajikan cerita dengan alur maju-mundur, Mortal Engines masih bisa memberikan kepuasan kepada penontonnya. Banyak adegan yang membuat penonton penasaran hingga menunggu akhir film ini. 

Kemudian, penampilan Hera Hilmar yang berperan sebagai Hester Shaw jadi pionir di dalam film ini cukup baik meski terlihat biasa saja. Hanya Hugo Weaving yang sudah dikenal sebagai pemeran antagonis di trilogi Matrix atau Red Skull di film Captain America: The First Avenger patut dipuji, karena tampil dengan baik di film ini.

Anna Fang, aktris Korea Selatan ini juga cukup menghibur penonton. Sebagai pemimpin sebuah kelompok, ia benar-benar tegas. Ia juga sukses menampilkan aksi bela diri ala Asia yang lincah di film ini. 

Secara keseluruhan, Mortal Engines mampu menawarkan satu perspektif yang berbeda tentang kehidupan di masa depan. Serta tak lupa, dalam novelnya, cerita ini memiliki beberapa babak, akankah keseruannya berlanjut? Tinggal menunggu waktu. *** (SS)

SHARE