Menguak Kelamnya Kejahatan Perang di El Salvador - Male Indonesia
Menguak Kelamnya Kejahatan Perang di El Salvador
MALE ID | Story

Selama beberapa dekade, para korban berduka dalam keheningan atas pembantaian di desa El Mozote, El Salvador. Namun setelah keputusan pengadilan, mereka akhirnya angkat berbicara di depan umum, menggambarkan secara suram detail tragedi El Mozote pada 11 Desember 1981.

wikimedia commons

Kala itu, unit militer Salvador, dilatih dan dipersenjatai oleh militer Amerika Serikat, menewaskan hampir 1.000 orang dalam pembantaian tunggal terbesar sepanjang sejarah Amerika Latin.

Seperti dilansir dari New York Times, Dorila Marquez melarikan diri bersama suami dan anak-anaknya ketika ia berusia 25 tahun. Mereka mendengar jeritan dan tembakan di belakang mereka. “Ajaibnya, Tuhan menyelamatkan kami sehingga kami bisa tahu apa yang terjadi,” kata dia.

Orang-orang yang selamat seperti Dorila ragu bahwa mereka akan melihat keadilan. Namun seorang hakim provinsi membuka kembali persidangan untuk kasus pembantaian di El Mozote. Di dalam ruang sidang, sudah berjajar para pensiunan komandan militer untuk mendengar tuduhan kejahatan perang.

“Mengapa mereka tega membunuh anak-anak itu,” kata Dorila seraya marah dan sedih saat ia akhirnya melihat para jenderal di ruang sidang, awal 2018 lalu.

Pembantaian terjadi di tengah-tengah konflik di El Salvador yang menjadi fokus tunggal pertempuran Washington melawan komunisme dalam dekade terakhir Perang Dingin.

Usai Presiden Ronald Reagan menjabat pada Januari 1981, ia meningkatkan bantuan militer dan mengirim instruktur pasukan khusus ke El Salvador, bertempur melawan gerilyawan kiri Front Pembebasan Nasional Farabundo Marti, atau FMLN.

Pasukan Salvador memulai kampanye untuk mengusir gerilyawan dari perbukitan utara provinsi Morazan Timur. Operasi dimulai dengan pengeboman udara dan artileri El Mozote sebelum akhirnya pasukan menginterogasi penduduk desa.

Tepat pada 11 Desember 1981, pasukan Salvador memerintahkan semua orang ke alun-alun, memisahkan pria dan wanita, serta mendorong anak-anak ke bangunan kecil yang dikenal sebagai biara di samping gereja desa.

Para pasukan mengeksekusi semua orang, menembakkan rentetan peluru ke arah biara yang berisi anak-anak lantas membakarnya. Penggalian yang dilakukan sekitar satu dekade kemudian menemukan setidaknya ada 143 korban di gedung itu. Usianya rata-rata adalah enam tahun.

Masih di hari yang sama, pasukan Salvador melanjutkan perjalanan ke La Joya, dusun yang terselip di sebuah lembah, menyeret orang-orang keluar dari rumah, menembaki dan membakar rumah mereka.

Lima hari pasca PBB merilis laporannya berupa 32 kasus pelanggaran hak asasi manusia (termasuk El Mozote), Mahkamah Agung El Salvador memberikan amnesti atas kejahatan yang dilakukan pasukan Salvador selama perang. Tapi pada 2016, amnesti tersebut dibatalkan.

Pengacara korban selamat meminta hakim provinsi membuka kembali persidangan yang dimulai pada tahun 1990. Dan hakim setuju. Namun, tuntutan kejahatan di El Mozote yang terjadi lebih dari tiga dekade itu tidaklah mudah.

“Undang-undang amnesti itu merusak. Sekarang kami berada pada titik dimana pengadilan membuka kasus ini dalam kondisi minim bukti,” ujar Naomi Roht Arriaza, profesor hukum di Hastings College of the Law di University of California.

Namun, bagi para korban, peristiwa itu tetap ada dalam ingatan mereka. Ketika penembakan dimulai di La Joya, Jose de los Angeles Mejia membawa istri dan ketiga anaknya ke atas bukit untuk bersembunyi. Mereka melarikan diri tepat di depan pasukan.

“Saya mendengar keributan itu dari tempat saya bersembunyi di gunung. Sebagian dari anak-anak menangis, lainnya berhenti,” katanya.

Jose menuruni gunung lima hari kemudian menuju La Joya yang hening. Dia menemukan tubuh salah satu saudara perempuan istrinya dengan celana dalam yang tergeletak di atas batu.

Mayat anak-anak ditumpuk, dan wajah mereka tak dapat dikenali. “Saya berkata pada diri saya sendiri: sungguh barbar,” tutur Jose.

Setelah La Joya, pasukan Salvador pindah ke desa sekitar, menewaskan 978 orang secara total. Menurut catatan pemerintah yang diberikan kepada El Faro, media online di San Salvador, hampir separuh korban berusia kurang dari 12 tahun.

“Pembantaian itu serupa dengan genosida,” kata Jose Maria Tojeira, Direktur Human Rights Institute of Jose Simon Canas Central American University di San Salvador. [GP]

SHARE