Startup: Mengintegrasikan Teknologi ke Warteg | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Startup: Mengintegrasikan Teknologi ke Warteg
Gading Perkasa | Works

Bisnis startup di Indonesia kini merambah berbagai sektor. Dari media, transportasi, hingga makanan. Tapi bagaimana kalau pelaku startup mengintegrasikan teknologi ke warung tegal alias warteg?

Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

Kepada MALE Indonesia, CEO sekaligus Founder Wahyoo, Peter Shearer mengemukakan alasan mengapa ia sangat tertarik menjalankan bisnis startup yang menyasar warteg di Indonesia.

“Sejak 2016, saya lihat Indonesia masih punya kesempatan banyak untuk berkembang, terutama di sektor industri yang belum tersentuh digital. Selain transportasi, orang tentu membutuhkan makanan. Perhatian saya kemudian tertuju pada warteg dan melatarbelakangi berdirinya Wahyoo” kata Peter.

April 2017, ia melakukan tes terhadap 50 warung di Jakarta Barat. Setiap pemilik warteg diberi dana tambahan, tempatnya direnovasi menjadi lebih layak, serta mendapat motivasi tentang cara mengelola rumah makan yang benar.

“Selama ini, mereka membuka warteg hanya sebatas bekerja. Tapi sekarang ada yang memperhatikan mereka. Respon yang saya peroleh dari para pemilik warteg cukup positif,” ujarnya.

Peter menambahkan, seiring berjalannya waktu, jumlah warung binaannya kian bertambah, mencapai sekitar 2.500 warung yang meliputi warteg, warung padang, sate, bakso dan mie ayam. Semuanya tersebar di Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Jumlah tim Wahyoo sendiri mencapai 60 orang.

“Nama Wahyoo saya ambil karena wahyu adalah sesuatu yang baik, diberikan agar kita bisa berbuat lebih bagi banyak orang. Wahyu juga namanya sangat Jawa, sehingga lebih dekat dengan warteg,” tutur dia.

Dalam mendirikan Wahyoo, Peter mengaku tidak mengeluarkan modal besar lantaran sudah ada sponsor yang mendanai usahanya. Apa rahasianya?

“Kesalahan rata-rata pebisnis startup, mereka membuat proyek dulu, mencari uang belakangan. Kalau saya justru sebaliknya, pastikan sponsor yang siap mendanai, baru saya menjalankan usaha. Itu butuh communication skills dan connection, meyakinkan pihak sponsor bahwa usaha saya menjanjikan,” ucapnya.

Menurutnya, dunia startup sangat dinamis dan bisa berubah kapanpun. Tantangan terbesarnya yaitu mencari formula yang tepat. Sebab, apa yang telah direncanakan dan fakta di lapangan berbeda.

“Masalah utama yang dikeluhkan sebagian besar pemilik warteg adalah manajemen waktu dan finansial. Kami pun membantu dari segi suplai bahan, termasuk memberi dana sementara,” katanya.

Selain itu, ia menyadari pentingnya kolaborasi bersama startup lain demi mematangkan ekosistem usahanya. Sehingga, dalam kurun waktu satu tahun, Wahyoo telah menjalin kerja sama dengan Grab, Ovo, Triplogic dan pergiumroh.com.

Rencananya ke depan, membuat Wahyoo 2.0 (fully digitalized), yang akan direalisasikan sekitar tahun 2020 mendatang. “Nantinya, tiap orang bakal merasakan elemen teknologi di sebuah warung makan. Semoga, pemilik warung dan konsumen dapat beradaptasi,” tutur Peter.

Di akhir wawancara bersama MALE Indonesia, ia menyuguhkan sedikit tips buat pemula di dunia startup. “Wujudkan mimpi Anda. Selalu belajar, dan jangan keras kepala,” tuturnya lagi. [GP]

SHARE