Popularitas Detektif Fiktif yang Mendunia | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Popularitas Detektif Fiktif yang Mendunia
Gading Perkasa | Story

Dalam novel A Study in Scarlet, Sir Arthur Conan Doyle mengenalkan sosok detektif bernama Sherlock Holmes untuk pertama kalinya. Holmes telah menjadi salah satu karakter paling abadi dalam dunia detektif fiktif, dan masih terasa sampai detik ini.

wikimedia commons

Lahir di Skotlandia pada tahun 1859, Arthur Conan Doyle mulai menulis demi membiayai kuliahnya di jurusan kedokteran, Universitas Edinburgh. Setelah lulus, ia menjadi seorang ahli kacamata, sembari tetap menulis beberapa buku.

Di tengah-tengah kesibukannya itulah, Arthur berhasil menciptakan karakter Sherlock Holmes, yang terinspirasi dari salah seorang guru besar tempat ia belajar dulu.

Novel yang diterbitkan pada tahun 1887 itu mendapat tanggapan yang baik di masyarakat, dan segera populer. Para pembaca terpikat oleh kehebatan Holmes dalam memecahkan kasusnya dengan mengambil kesimpulan deduktif, serta penampilannya yang terbilang eksentrik.

Bahkan, beberapa kebiasaan Holmes, seperti bermain biola, anggar, mengisap pipa Meerschaum, dan menggunakan topi unik menjadi tren yang banyak diikuti oleh masyarakat Inggris.

Kecerdikan dan kepintaran sosok Sherlock Holmes yang mampu memanfaatkan beberapa petunjuk, meski pada dasarnya mustahil dikenali, berujung pada pemecahan kasus. Ini sangat dinikmati oleh para pembacanya.

Bisa dibilang, Sherlok Holmes adalah karakter sempurna yang diciptakan oleh Arthur Conan Doyle. Baik kemampuan fisik, kepintaran, kecerdikan, dan keterampilan lainnya, telah membuatnya dipuja layaknya karakter di dunia nyata.

Masih di A Study in Scarlet, Arthur Conan Doyle juga mengenalkan sahabat Holmes, Dr. Watson, dan saingannya, Profesor James Moriarty, seorang pakar kriminolog.

Watson dikisahkan sebagai asisten sang detektif, yang melengkapi keberadaan Holmes dalam memecahkan kasus-kasusnya. Ia juga sangat mengagumi sosok Holmes, dan selalu siap memberikan bantuan kepadanya.

Dengan terbitnya novel itu, Arthur Conan Doyle ikut mempopulerkan bentuk paling awal dari ragam cerita detektif, yaitu fiksi misteri. Setelah Sherlock Homles, mulai bermunculan karakter-karakter detektif lain yang meramaikan ragam karya sastra tersebut.

Holmes masih tetap abadi. Para penggemarnya terus memunculkan sosoknya agar bertahan melalui klub-klub pengikut sang detektif, termasuk Baker Street Irregulars di New York dan Sherlock Holmes Society di London. [GP]

SHARE