Pertumpahan Darah Suku Indian Demi Tanah Leluhur | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Pertumpahan Darah Suku Indian Demi Tanah Leluhur
Gading Perkasa | Story

Pada 1860, sebelum dimulainya Perang Saudara, penduduk asli Amerika, yaitu suku Indian telah membuat pemukiman di pinggiran Dataran Besar. Di sejumlah wilayah seperti Montana, Dakota, Colorado, dan Kansas, terdapat banyak bukti keberadaan komunitas masyarakat Indian yang sempat berkembang.

freestockphoto.biz

Suku Indian seperti Cheyenne, Sioux, Apache, Navajo, dan Comanche, membangun sebuah hubungan dengan alam di sekitar pemukiman, yang menunjukkan kepercayaan mereka terhadap penciptanya.

Setiap kelompok memiliki aturannya sendiri terhadap pandangan alam tersebut. Jika kelompok lain melanggar, maka jalan satu-satunya hanyalah berperang.

Perang antar suku memang sudah berlangsung cukup lama, sehingga ketegangan di tiap kelompok suku Indian di Amerika kian terasa. Perang pertama untuk menguasai Dataran Besar terjadi pada 1860 hingga 1865 antara suku Apache dengan Navajo. Perang itu berbarengan dengan Perang Saudara dan Perang Sioux.

Baik Apache, Navajo, dan Sioux, berperang demi menjaga kehormatan di tanahnya. Mereka berusaha mengusir para oknum yang berniat menguasai tanah leluhur suku Indian.

Persatuan antar suku Indian di Amerika mulai terlihat ketika Cheyenne dan Apache, yang tengah berperang, diusik oleh tentara Amerika. Mereka menghancurkan perkemahan musim dingin milik suku Cheyenne. Suku-suku Indian, dari Colorado hingga Texas, bangkit melawan tentara Amerika.

Pada 1865, sebanyak tiga barisan tentara Amerika dikirimkan untuk memusnahkan perkemahan suku Arapaho dan mencoba mengakhiri perang tersebut. Namun perlawanan dari suku-suku Indian cukup merepotkan.

Perang Awan Merah dari tahun 1866 - 1869, dan Perang Sungai Merah dari tahun 1874 - 1875, menunjukkan kekuatan merusak tentara Amerika, yang tak mau dipermalukan oleh suku Indian.

Lalu, William Tecumseh Sherman menyatakan perang habis-habisan melawan suku Indian di sebelah utara Texas di tahun 1874. Hampir sebanyak 14 medan pertempuran berhasil dikuasai tentara Amerika.

Setelah perang besar itu, sebagian besar masyarakat suku Indian kembali ke penampungan mereka. Suku Comanche menyerah pada 1875, alhasil nyaris tak ada lagi yang melakukan perlawanan di wilayah selatan.

Perang kembali terjadi sekitar tahun 1876 - 1877. Pemicunya adalah penemuan emas di Lembah Hitam, Dakota Selatan, yang menjadi tanah suci bagi suku Indian Sioux. Selain itu, pesatnya pertumbuhan pemukiman kulit putih membuat tanah suku Indian semakin terdesak.

Kolonel George Armstrong Custer merupakan dalang di balik penghancuran total atas sekelompok manusia, yang akhirnya menyalakan minat publik Amerika atas suatu hak.

Mengetahui tidak adanya kemungkinan menang, banyak suku Indian melarikan diri dari wilayahnya. Seperti yang dilakukan kepala suku Crazy Horse, dan kepala suku Sitting Bull, keduanya menyerah dan kabur ke Kanada.

Hal serupa dilakukan kepala suku Joseph, yang memimpin sukunya menempuh perjalanan sepanjang 2.413 kilometer melewati daerah sulit agar dapat mencapai Kanada sebagai wilayah aman bagi mereka.

Perang terakhir antara tentara Amerika dengan masyarakat Indian terjadi pada 1890, ketika kekuasaan suku-suku Indian sudah sangat kecil.

Suku Sioux melakukan cara lain. Mereka mempraktikkan sebuah ritual, disebut Ghost Dance, yang membuat para penarinya mengalami kerasukan, dan dipenuhi kekuatan emosi.

Pemerintah Amerika yang mengetahui hal itu segera memutuskan bahwa ritual suku Sioux terlalu berbahaya, sehingga mereka mengirimkan sekelompok tentara untuk menyerang suku Sioux di daerah penampungan Black Hill, Wounded Knee, Dakota Selatan, 29 Desember 1890. [GP]

SHARE