Sosok Maestro Lapangan Hijau yang Mulai Terlupakan | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Sosok Maestro Lapangan Hijau yang Mulai Terlupakan
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Ketika berbicara mengenai gelandang kreatif atau maestro di lapangan hijau, banyak nama yang bakal terlintas. Namun anehnya, sebagian orang melupakan sosok Cesc Fabregas.

joshjdss/flickr

Cesc Fabregas adalah maestro yang membawa Spanyol juara Piala Dunia 2010, memenangi enam trofi utama di dua liga top Eropa, pencipta assist terbanyak kedua dalam sejarah Premier League dan pengumpan andal di masanya. Namun itu semua terlupakan begitu saja kala Maurizio Sarri menukangi Chelsea.

Perjuangan Cesc Fabregas untuk memperoleh tempat di Chelsea musim 2018/2019 terbilang alot. Sarri seolah enggan memberi kepercayaan padanya. Tentu ini aneh, mengingat Fabregas sering digadang-gadang sebagai penerus Xavi Hernandez.

Memang ada beberapa kelemahan dalam permainan Fabregas. Hanya saja, ketidakmampuan bermain sepak bola cepat ala Liga Inggris bukan hambatan yang ia rasakan.

Boleh jadi penyebabnya terkait bagaimana tren taktis menciptakan lebih banyak pertandingan kelas berat yang dimainkan di tempo jauh lebih cepat. Apapun itu, Fabregas lebih suka bermain dengan tempo lamban, terutama karena ia tak cukup gesit untuk melakukannya.

Pada klub-klub lain, orang akan menyadari perubahan model gelandang elit, yakni terampil, tangguh, dan kaki yang selalu berputar. Sebagai contoh Fernandinho, Kevin de Bruyne, dan Lucas Torreira. Ketiganya telah memantapkan diri mereka sebagai ruh dari timnya, memadukan teknik yang mumpuni dan kemampuan berlari.

Di Tottenham Hotspur, Harry Winks bisa membuat dirinya sebagai pelari dan passer sama baiknya. Idrissa Gueye, Ruben Neves, dan Lewis Cook juga dapat menjadi contoh lain untuk gaya permainan tersebut. Ini yang tak dimiliki oleh Fabregas.

Pada musim 2018/2019, ia harus pasrah mendekam di bangku cadangan The Blues, dan nyaris tak dipilih Sarri yang notabene merupakan salah satu pelatih paling progresif di dunia. Itulah bukti betapa sepak bola sungguh-sungguh berevolusi dan kejam.

Tak seorang pun berani menyebut bahwa kiprah Fabregas di klub papan atas telah berakhir, namun ini bisa menandai penghujung kariernya. Buat MALEnials yang gemar menonton sepak bola dengan gebrakan baru, pemandangan dimana ia hanya menghiasi bangku cadangan sangatlah miris.

Hanya satu yang mungkin dapat ia lakukan demi mengubah nasib, yakni kembali ke klub masa kecilnya. Klub di bawah pelatih yang terobsesi akan penghentian kebusukan rezim lama dan tahu persis cara terbaik dalam menerapkan passing halusnya. [GP]

SHARE