Perjuangan Konser Musik Indonesia di Era Digital | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Perjuangan Konser Musik Indonesia di Era Digital
Gading Perkasa | News

Konser musik di tanah air sedang menjadi sorotan dunia. Sebagian menganggap bahwa penikmat konser tampak stabil, sementara tak sedikit pula yang menyebut adanya tren penurunan. Apa pasal?


Pixabay

Pemicunya yaitu cara orang dalam menikmati musik mulai berubah, seiring era digitalisasi yang mewabah. Hal itu diperoleh dari survei yang dilakukan oleh DailySocial, bekerja sama dengan JakPat Mobile Survey Platform, melibatkan sebanyak 1955 responden.

Para peneliti menemukan adanya pergeseran kebiasaan konsumen Indonesia dalam menikmati musik, yaitu memanfaatkan layanan streaming musik. Sebanyak 85 % responden mengaku mendengarkan musik streaming online secara reguler selama enam bulan lebih.

Dari penelitian yang sama, terungkap bahwa 52 % responden berlangganan layanan musik streaming berbayar. Sementara 56,12 % responden mengaku menggunakan layanan tersebut karena akses cuma-cuma dari penyedia jasa internet atau provider mereka.

Lantas, bolehkah kita menganggap jika konser musik di Indonesia sepi peminat akibat kehadiran layanan streaming musik online? Ini kata mereka yang sudah malang-melintang di dunia musik tanah air kepada MALE Indonesia.

Sheila On 7


PHoto: Doc. SO7

Menurut Barkah selaku pihak manajemen Sheila On 7, dalam beberapa tahun belakangan ada perkembangan konser musik yang berbentuk festival, dengan berbagai kemasan dan genre. Menurutnya, ini adalah sesuatu yang positif karena memberi kesempatan musisi Indonesia untuk tampil di hadapan pendengarnya.

“Salah satu poin positif lainnya, ini menjadi penghargaan nyata bagi para musisi di tengah industri musik yang naik turun. Sebab, selama ini baik musisi, industri musik maupun pelaku showbiz harus berusaha sendiri atau secara kolektif untuk bertahan,” ujar dia.

Ia juga menyebut, atmosfer saat menikmati musik di gadget dan live show sangat berbeda. “Sebagian hanya suka mendengarkannya lewat internet, ada yang sampai datang langsung ke show, bahkan ada pula yang antusias dengan keduanya,” kata Barkah.

“Untungnya, hingga kini hal itu tidak berpengaruh terhadap jumlah penonton yang datang ke tiap event Sheila On 7. Saya pun berharap, semoga musik Indonesia selalu menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya lagi.

Sansan (vokalis Pee Wee Gaskins)


Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

Tanggapan serupa dilontarkan oleh Sansan, vokalis Pee Wee Gaskins. Menurutnya, sejauh ini banyak musisi mancanegara justru antusias saat menyelenggarakan konser di Indonesia.

“Memang benar, kalau kita bisa mendengarkannya dari platform digital. Tapi, ada atmosfer yang tidak akan didapat jika tidak melihat langsung. Mulai dari datang, antre tiket, masuk dan menyaksikan musisi kesayangannya. Riuhnya jelas berbeda,” ujar Sansan.

“Di lingkungan saya, setiap orang selalu mengejar konser musik. Karena di situlah, Anda bisa mendengar suara performer secara murni. Saya sendiri butuh semangat dari crowd, dan ingin mengembalikan lagi semangat itu,” tuturnya.

Radipto Rukmana (Promotor)

Radipto Rukmana, promotor, menilai bahwa konser musik di Indonesia sudah sangat luar biasa. Itu dapat dilihat dari event besar seperti Java Jazz, Soundrenaline, DWP, dan lain-lain.

“Apalagi banyak sekali bertumbuhnya event promotor atau organizer di seluruh penjuru tanah air, bukan cuma di Ibukota. Dalam satu bulan saja, bisa ada tiga sampai lima konser,” tutur pria yang akrab disapa Dito ini.

Dito mencontohkan Java Jazz yang telah digelar belasan tahun. Berkat Java Jazz, masyarakat tahu ada event berskala internasional di Indonesia. Sehingga turis dari mancanegara pun turut hadir dan memberi dampak luar biasa bagi perekonomian.

Ia berharap, para promotor musik dapat terus memberi hiburan terbaik bagi masyarakat. “Sepintas, mungkin pengerjaan konser terlihat mudah. Namun nyatanya banyak hal detail dan strategi yang mesti dijalankan agar konser tersebut berhasil,” ucap dia.

Perihal kehadiran layanan musik streaming, ia justru menganggapnya sebagai hal positif. Karena, kata Dito, masyarakat menjadi semakin pintar dalam memilih siapa yang ingin ditonton.

“Alhasil, kami juga bisa mudah mempromosikan event kami directly to the market. Pekerjaan kami lebih efisien, tepat sasaran dan tidak memakan banyak biaya,” aku Dito.

Lebih lanjut Dito menyebut, industri musik Indonesia ke depannya bakal lebih maju. Namun harus ada dukungan dari para pelakunya, seperti artis, management, label, promotor atau event organizer serta pemerintah. “Tanpa hal itu, kami sulit maksimal dalam menyajikan hiburan bagi masyarakat,” ujarnya.

Wisnu Surjono (Managing Director Universal Music Indonesia)


Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

Sementara itu, Managing Director Universal Music Indonesia, Wisnu Surjono mengatakan, jumlah konser musik di Indonesia tidak menurun. “Karena sekarang semakin banyak konser, konsumen punya pilihan. Justru angkanya bertambah tinggi secara global,” tutur Wisnu.

“Dulu zaman 90-an sampai 2000-an, ada genre pop, rock, dan sebagainya. Sekarang eranya lintas genre, hip-hop dan rock, urban dan jazz, semuanya menjadi satu. Generasi milenial punya banyak panutan, tapi jati diri mereka berbeda. Mereka berani untuk tampil dan berekspresi. Ini tren yang kami amati di pasar,” tuturnya lagi.

“Lima tahun ke depan, konser musik akan semakin masif. Sound musik juga berbeda, lebih kreatif. Industri musik bisa maju,” katanya.

Ronald Steven (Music Director)


Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

Mengenai konser musik di Indonesia, Ronald Steven, Music Director menilai bahwa di era sekarang masyarakat semakin mengapresiasi musisi indie, tidak hanya terpaku pada musisi di label major semata.

Band seperti Barasuara dan Stars & Rabbit, dalam satu konser sampai ditonton oleh 20 ribu orang. Menurut saya, masyarakat sudah tidak bisa lagi didikte perihal selera musik mereka,” jawabnya.

Lalu, apakah layanan streaming musik menurunkan semangat orang untuk hadir ke sebuah konser? Ronald membantah hal tersebut.

“Justru, animo masyarakat menonton konser kian meningkat. Layanan itu bikin mereka kenal musisi yang bahkan belum pernah mereka dengar lagunya, kemudian tertarik menontonnya secara langsung. Sensasi mendengar di layanan streaming dan datang ke konser jelas berbeda,” ucap Ronald.

“Musik ibarat fashion, selalu berulang. Pesannya adalah, lagu yang bagus itu nggak ada umurnya, akan jadi legend. Lihat saja lagu Bohemian Rhapsody milik Queen. Sampai sekarang orang senang mendengarkannya, terutama generasi milenial yang belum lahir saat lagu itu eksis,” ucapnya lagi.

Ia menilai, industri musik di Indonesia bakal sangat menjanjikan. “Sekarang setiap pemusik bertarung di kolam yang sama. Skill bermusik berkembang pesat karena teknologi. Musik juga tidak lagi dipandang sebelah mata. Kita bisa kok hidup dari musik,” kata dia ramah kepada MALE Indonesia. [GP]

SHARE