Alasan Mengapa Pria Minang Pergi Merantau | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Alasan Mengapa Pria Minang Pergi Merantau
Sopan Sopian | Story

Merantau secara sederhana diartikan sebagai perginya seseorang dari tempat asal di mana ia tumbuh besar ke daerah lain untuk menjalani kehidupan baru.

Photo by MichaelJLowe on Wikipedia

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang merantau, di antaranya karena faktor budaya, ekonomi, alam, dan pendidikan. Namun, faktor paling dominan adalah faktor ekonomi. Dalam hal ini, merantau dianggap memberikan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di tempat yang akan dituju.

Namun bagi Suku Minangkabau, merantau bukan hanya disebabkan karena faktor ekonomi, tetapi juga ada faktor tradisi atau kebudayaan. Berikut beberapa faktor yang menyebabkan mengapa pria Minang suka pergi merantau:

1. Faktor Sistem Matrilineal
Merantau dalam tradisi Minangkabau dipercaya timbul karena adanya sistem matrilineal. Sistem ini masih dipertahankan hingga sekarang. Sistem matrilineal di Minangkabau memberikan harta pusaka atau hak waris kepada pihak perempuan, sedangkan pihak pria hanya memiliki hak yang kecil. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kaum pria Minang memilih untuk merantau.

2. Faktor Budaya
Pepatah Minang mengatakan “Karatau tumbuah di hulu, babuah babungo alun. Marantau bujang dahulu, di rumah baguno alun”. Pepatah ini menegaskan bahwa anak laki-laki yang masih bujangan atau belum menikah tidak mempunyai peranan atau posisi dalam adat. Keputusan dalam keluargapun tidak bisa diputuskan oleh anak tersebut.

Hal ini dikarenakan anak dianggap belum memiliki pengalaman. Oleh sebab itu, si anak harus mencari pengalaman dengan cara pergi merantau. Para orang tua sebenarnya menyadari hal ini. Terbukti dengan adanya ajakan dan anjuran orang tua kepada anak remaja Minangkabau untuk pergi merantau.

Bahkan ada orang tua yang memaksa agar anak remajanya merantau sejauh-jauhnya dari wilayah Minangkabau, sebab ada pandangan bahwa semakin jauh tempat perantauan, maka pengalaman hidup yang didapatkan juga semakin banyak. Sehingga, si anak semakin berguna dalam masyarakat ketika ia kembali.

3. Faktor Ekonomi
Faktor lainnya adalah karena permasalahan ekonomi. Sebagaimana diketahui bahwa jumlah penduduk selalu bertambah dan tidak diiringi dengan penambahan lapangan kerja. Hal tersebut juga terjadi di Minangkabau, di mana kaum pria akan merasa sangat malu jika tidak bisa bekerja. 

Oleh sebab itu, agar tidak disebut sebagai pemalas, maka kebanyakan kaum pria yang masih bujangan bekerja membantu orang tua. Umumnya masyarakat Minang berprofesi sebagai petani dan atau pedagang. Hasil dari tani biasanya dijual sendiri ke pasar.

Seiring meningkatnya kebutuhan, para kaum pria merasa bahwa mereka hanya menambah beban orang tua. Membantu bekerja di kebun atau di sawah tidak lagi bisa mencukupi kebutuhan mereka, apalagi membantu ekonomi keluarga.

Lalu, kaum pria akan berpikir untuk mencari pekerjaan baru agar tidak terus-menerus bergantung pada orang tua. Awalnya pekerjaan yang dicari biasanya berkisar di daerah tempat tinggal. Tetapi, karena permasalahan pertambahan penduduk dan lapangan pekerjaan, maka merantau merupakan solusi satu-satunya. Dengan merantau, diyakini bahwa permasalahn ekonomi bisa teratasi.

4. Faktor Pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam masyarakat Minangkabau, terutama pendidikan religi. Adanya hukum "adat basandi sara’, sara’ basandi kita-bullah" mempertegas bahwa masyarakat Minang harus menguasai pengetahuan religi. Namun keterbatasan tingkat pendidikan yang ada di daerah Minangkabau, memaksa orang-orang yang ingin menuntut ilmu untuk pergi keluar dari wilayah Minang.

5. Malanjutkan Kesuksesan
Adanya cerita orang-orang terdahulu yang sukses dalam perantauan merupakan motivasi tersendiri yang mendorong terjadinya tradisi merantau di dalam masyarakat Minang untuk meneruskan kesuksesan.

Orang Minang merantau demi mambangkik batang tarandam, artinya dengan kesuksesan itu, dapat merubah nasib dirinya dan keluarganya. Alasan itu menjadi kompilasi dari alasan-alasan lainnya. Ini pula lah yang menjadi motivasi terbesar orang Minang dalam merantau.

Tak peduli ke manapun orang-orang Minang merantau, di manapun mereka berada falsafah-falsafah adat harus senantiasa mereka genggam erat. Di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjuang. Alam selalu terkembang untuk mereka jadikan guru. Setinggi-tingginya bangau terbang, pulangnya ke kubangan jua. Maksudnya, sejauh apapun mereka merantau, kampung halaman harus diingat juga. *** (SS)

SHARE