Cara Kerja Pemindai Wajah Cerdas di Ponsel Pintar | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Cara Kerja Pemindai Wajah Cerdas di Ponsel Pintar
Sopan Sopian | Digital Life

Sejumlah vendor smartphone melengkapi produknya dengan fitur keamanan pengunci layar dalam berbagai metode. FaceID  menjadi awal dari fitur tersebut dan diperkanalkan oleh Apple. Dari sana, merek smartphone lain tak ingin kalah atas inovasi tersebut, yang kemudian banyak smartphone juga memiliki kemampuan pemindai wajah.

Mungkin sebelumnya lebih familiar dengan penggunaan fitur Pattern, PIN, password dan pemindasi sidik jari untuk mengunci smartphone. Namun penyerapannya, teknologi pengenalan wajah lebih cepat daripada fitur sebelumnya itu.

Akhirnya, solusi facial recognition kini semakin jamak digunakan oleh sejumlah merek smartphone mulai kelas budget hingga mid-range.

Menurut Counterpoint Research, Component Tracker, penetrasi teknologi fitur Face Scanning telah dimulai sejak tahun 2017 lalu tapi hanya 5% dari total smartphone yang membenamkan fitur ini. Teknologi ini kemudian ditambahi dengan kemampuan AI dan sensor IR sinar infrared agar semakin cerdas dan akurat dalam mengenali wajah pemilik smartphone.

Counterpoint Research, Component Tracker juga memprediksikan hingga tahun 2020, akan ada lebih dari satu miliar smartphone atau hampir 60% dari total smartphone lengkap dengan fitur Face Scanning yang mengandalkan sensor 3D dipasarkan di seluruh dunia.

Vivo, mengklaim pihaknya telah menggunakan fitur facial recognition atau AI Face Access lebih akurat. Karena  dilengkapi dengan Artificial Intelligence (AI) dan IR yang mempercepat proses untuk mengenali wajah pemilik smartphone.

Berbeda dengan model pengaman layar smartphone seperti Pattern, PIN, atau alphanumeric password yang memerlukan kontak fisik, fitur AI Face Access konon mampu membuka layar hanya dalam waktu 0,1 detik. 

AI Face Access
Berbeda dengan model Face Unlock yang umumnya mengandalkan foto, AI Face Access akan menggunakan sensor IR yang menyinari wajah pengguna dan akan mengidentifikasi 1.024 titik unik di wajah kemudian menciptakan model 3D dari wajah pengguna. Fitur AI Face Access juga tidak bisa diakali dengan menggunakan foto dari pengguna, karena foto merupakan bentuk 2D.

Dengan adanya sinar inframerah yang menyinari seluruh area wajah menjadikan fitur AI Face Access akan tetap bisa bekerja normal meski dalam ruang gelap. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh fitur Face Unlock yang berbasis foto.

Selain itu, meski AI Face Access memiliki kemampuan mumpuni, namun yang perlu diingat adalah kecepatan deteksi AI Face Access kadang berkurang jika wajah pengguna tersorot sinar secara langsung, saat berada pada pencahayaan yang terlalu terang, atau sebaliknya saat wajah membelakangi cahaya.

Maka dari itu, untuk menghindari AI Face Access kesulitan dalam mendeteksi wajah, maka pengguna sebaiknya melakukan registrasi wajah pertama kali pada kondisi cahaya yang terang. *** (SS)

SHARE