Setengah Orang Indonesia Ingin Jadi Entrepreneur | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Setengah Orang Indonesia Ingin Jadi Entrepreneur
Sopan Sopian | Works

Setengah orang Indonesia beraspirasi untuk merintis bisnis milik sendiri. Sehingga Indonesia terhitung menjadi negera kedua tertinggi akan aspirasi tersebut, jika dibandingkan dengan rata-rata orang-orang di negara Asia Pasifik lainnya.

Entrepreneur - Male IndonesiaPexels.com

Selain itu, mayoritas orang Indonesia (82%) menyatakan bahwa mereka telah membantu sesamanya untuk terhubung dengan peluang karier yang lebih baik. Pernyataan ini hasil dari studi berjudul ‘LinkedIn Opportunity Index’.

Studi ini melibatkan 11 ribu responden dari sembilan negara yakni  Indonesia, Australia, Tiongkok, Hong Kong, India, Jepang, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Di Asia, negara yang penduduknya paling berminat berwirausaha adalah Filipina yakni 53% dari responden.

Sedangkan, menurut data LinkedIn Opportunity Index, mengungkap bahwa Indonesia menjadi negara yang paling percaya diri dalam menatap masa depan. Hal ini didorong oleh rasa percaya diri masyarakat Indonesia terhadap potensi pertumbuhan ekonomi negara, serta kondisi yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan akses dan juga mengejar berbagai peluang yang  dianggap penting. 

Kondisi ini bertolak belakang dengan negara-negara maju seperti Jepang, Hong Kong, dan Australia. Masyarakat di ketiga negara tersebut menunjukan kecemasan yang lebih tinggi terhadap kondisi perekonomian negara masing-masing, dan secara umum lebih mengelola ekspektasi mereka terhadap akses untuk meraih peluang yang relevan.

Di Indonesia, 38% responden merasa ada peluang untuk membuka bisnis baru. Padahal 40% responden di Asia memilih menjaga keseimbangan kehidupan karier dan personal, ketimbang membuka bisnis baru.

Lalu, 82% responden di Indonesia menyatakan bahwa mereka turut membantu orang lain untuk terhubung dengan kesempatan kerja yang lebih baik. Di antara mereka, 56% mau membantu memperkenalkan kerabatnya ke pencari kerja dan 47% menuliskan surat referensi kerja bagi kerabatnya. Data ini merefleksikan budaya gotong royong di Indonesia.

Meski begitu, 94% responden di Indonesia percaya bahwa ketekunan dan kerja keras menjadi kunci untuk memajukan hidup di masa depan. Di samping itu, 93% responden merasa perlu menerima perubahan, 80% memiliki koneksi yang tepat, dan 84% harus memiliki pendidikan yang baik.

Hanya, 35% responden di Indonesia percaya bahwa keterbatasan finansial menjadi halangan terbesar dalam meraih peluang di masa depan. Sebanyak 29% juga menyatakan, kurang luasnya koneksi dan jaringan relasi menjadi hambatan terbesar kedua. Hambatan lainnya adalah rasa takut akan kegagalan, yang disampaikan oleh 22%.

“Hambatan-hambatan yang dikemukakan dalam hal mengejar peluang hidup memang nyata terjadi. Meskipun kawasan ini menunjukan keberagamannya keberagaman, namun jika kita menelisik lebih dalam terdapat lebih banyak kesamaan ketika berbicara tentang aspirasi dan harapan," ucap Olivier Legrand, Managing Director, LinkedIn in Asia Pacific. 

"Kabar baiknya, apapun arti dari peluang bagi masing-masing, kita selalu dapat menemukan komunitas yang bisa membantu kita. Baik itu untuk mempelajari keahlian baru, menjalin relasi, berbagi ilmu/pandangan, kita dapat saling membantu membuka peluang bagi semua, untuk terhubung dan meraih peluang,” imbuh Legrand.

Perlu diinformasikan, LinkedIn memiliki 153 juta pengguna. Sebanyak 11 juta pengguna di antaranya berasal dari Indonesia. Indeks ini dijadikan tolok ukur untuk memahami bagaimana masyarakat melihat peluang di masa depan dan juga hambatan-hambatan dalam meraihnya. *** (SS)

SHARE