''Unjuk Rasa'', Seni dan Aktivisme di Indonesia | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
''Unjuk Rasa'', Seni dan Aktivisme di Indonesia
Sopan Sopian | Whats Up

‘Unjuk Rasa’, sebuah konsep yang lumrah dilakukan oleh orang per orang maupun sekelompok orang untuk mengemukakan gagasan atau ide tertentu sebagai respons terhadap ketimpangan sehari-hari, maupun terhadap anomali dari laku pemerintah dalam menjalankan amanat yang telah diberikan oleh rakyatnya. 

Di Indonesia, berbagai unjuk rasa yang saat ini tengah menjadi semacam sebuah aktivitas yang tak asing lagi dan tak pernah luput dari pengamatan media maupun pembicaraan di berbagai lingkaran sosial dalam berbagai tataran. 

Sebuah bentuk Unjuk Rasa yang lain, dihadirkan Yayasan Kelola (Kelola). Kali ini dalam penerbitan sebuah buku yang melibatkan beragam gagasan dan praktek pekerja seni dan kalangan profesional di Indonesia yang mewakili strategi seni untuk transformasi sosial. Enam belas buah tulisan tersebut dirangkai dalam sebuah buku berjudul "Unjuk Rasa: Aktivisme-Seni-Performativitas". 

“Penulisan dan penerbitan buku ini dilatarbelakangi oleh Program Hibah Cipta Perdamaian yang telah dijalankan oleh Kelola sejak 2015,” ungkap Gita Hastarika, Direktur Yayasan Kelola. 

Bertempat di Galeri Cipta 3, Kompleks Taman Ismail Marzuki, menandai peluncuran buku ini, dilakukan acara diskusi yang dihadiri oleh Melani Budianta, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Andy Yentriyani, seorang Peneliti dan Aktivis untuk masalah-masalah HAM dan Isu-isu seputar perempuan.

“Unjuk Rasa adalah ajakan untuk membangun pengetahuan bersama secara partisipatif melalui pengalaman keseharian menubuh dalam ruang waktu,  mengolah kesabaran dan rasa sakit untuk merakit kembali kebersamaan melalui keriaan,” ungkap Melani Budiantara. 

“Enam belas pengalaman unjuk rasa ini mewakili bangkitnya seni warga yang partisipatoris di berbagai pelosok Indonesia untuk membangun ruang-ruang dialog yang setara dan memberdayakan, di dalam, bukan di luar tatanan global yang telah selesai mewujud." tambahnya.

Buku "Unjuk Rasa: Aktivisme-Seni-Performativitas" ini menerjemahkan istilah Unjuk Rasa sebagai suatu wacana estetiko-politik dalam proses demokratisasi di Indonesia. Istilah ini mengandung aspek kreatif dalam medan visual dan aspek penginderaan tekstur pengetahuan yang sensibel.

Menurut Brigitta Isabella, Editor dari buku ini, menyatakan bahwa, merupakan pengalaman yang menarik dan memerkaya wawasan untuk dapat mengikuti alur pikiran para penulis dalam buku ini. Bukan saja saya harus mengikuti gaya penulisan yang berbeda dari masing-masing penulis, tetapi juga perlu memahami titik awal pemikiran mereka.

"Mempelajari setiap studi kasus yang disuguhkan, serta juga mengerti gagasan apa yang hendak disampaikan oleh para penulis,” ucapnya.

‘Unjuk Rasa’ menampilkan berbagai tulisan dan gagasan menarik, dari praktik berjalan kaki menelusuri dinding-dinding kota Ambon yang menyimpan memori konflik, sampai bagaimana perencanaan ruang dan wajah kampung kota Makassar yang menempatkan warga sebagai arsitek utamanya, disiapkan. 

Brigitta menambahkan, bahwa buku ini diharapkan menjawab berbagai pertanyaan, antara lain: sejauh apakah proses demokratisasi dapat dipraktekkan melalui berbagai laku kewargaan yang performatif, atau konfigurasi pengalaman dan pengetahuan seperti apakah yang secara ideal memadukan nilai-nilai estetis dan perilaku politis. 

Mewakili salah satu penulis dalam buku ini, Manuel Alberto (Abe) Maia - Komunitas Film Kupang, mengungkapkan bahwa, konflik selalu menyisakan cerita yang tak akan ada habisnya, begitu juga yang dialami rakyat Maubere sejak tahun 1975 hingga tahun 1999.

“Meskipun Referendum ‘99’ telah menjadikan kembali Timor Leste sebagai Negara merdeka, akan tetapi tersisa cerita lain bagi mereka yang sampai saat ini masih berada di kamp-kamp pengungsi dengan status yang menggantung. Berbagai gagasan dan ide-ide besar yang bertemakan rekonsiliasi sepertinya menguap tak berbekas,” ungkapnya.

Kegelisahan Abe diungkapkan dalam sebuah proses berkesenian dalam penulisan naskah film “Siko” yang berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga pasca referendum 1999 di Timor Leste. 

Naskah yang ditulisnya ini kemudian disutradarai sendiri oleh Abe. Proses film ini sendiri dimaksudkan untuk menjadi salah satu metode healing dengan menjadikan karakter tokoh Siko dan keluarga sebagai medium refleksi terhadap konflik tahun 1999 tersebut. Film Siko sendiri telah diputar pada hari Rabu, 28 November 2018, di Kinosaurus Jakarta.

SHARE