Startup: Penyambung Hulu & Hilir di Industri Kopi | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Startup: Penyambung Hulu & Hilir di Industri Kopi
Sopan Sopian | Works

Memiliki banyak relasi dengan petani kopi, kelompok tani, dan hobi ngopi, membuat mantap Marthin Sinaga untuk berbisnis di bidang kopi, khususnya roastery atau coffee roasting (penyangraian kopi) dengan nama Kopi Sondang. Coffee roasting, menurutnya bukan hanya sebagai penyangraian, melainkan penyambung antara hulu (petani kopi) dan hilir (meja seduh/kedai kopi).

Foto: Sopian/Male Indonesia

Coffee roasting, atau proses penyangraian kopi memegang peranan penting pada seluruh rantai perjalanan kopi. Karena, proses inilah yang umumnya menentukan akan senikmat apa kopi yang Anda nikmati nanti.

Sebagai informasi, roasting sendiri adalah proses pengolahan biji kopi, penyimpanan, lalu penjualan green bean. Bisa dibilang, pada tahap inilah biji kopi yang sebelumnya tidak ada apa-apanya diolah hingga menjadi ada apa-apanya. Segala notes, flavor, after taste dan rasa-rasa ajaib pada kopi dipengaruhi oleh proses ini.

Meski terdengar sepele, tapi untuk menyangrai kopi agar nantinya mengeluarkan karakter terbaik dan terasa nikmat sebenarnya tidak semudah kelihatannya. Banyak specialty coffee roasters yang harus mengalami beberapa kali percobaan, proses gagal, dan trial and error dulu sebelum mendapat pola roasting terbaik untuk masing-masing kopi yang mereka sangrai. 

Di kedai Kopi Sondang, di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Marthin Sinaga menuturkan, roastery ini harus mengenal profil petani, termasuk juga profil daerahnya. "Hingga akhirnya menemukan racikan atau formula yang pas untuk disajikan di hilir (di meja seduh/kedai kopi)," ucap Marthin kepada MALE Indonesia.

Awal Mula
Sebelum memutuskan untuk berbisnis di bidang roastery, Marthin Sinaga mengawali kariernya sebagai seorang jurnalis. Kemudian sempat membangun sebuah konsultan komunikasi, majalah internal, dan sempat juga berperan aktif di lembaga sosial kemasyarakatan (NGO).

Foto: Sopian/Male Indonesia

Martin menuturkan mengapa akhirnya terjun ke dunia bisnis. Menurutnya, ada kegelisahan ruang aktivitas yang seakan-akan merdeka namun tetap terpenjara. Umpanya seperti burung dalam sangkar.

Karena sempat aktif juga di organisasi yang bersentuhan dengan petani, salah satunya adalah petani kopi. Pada 2012, Marthin pun kemudian berpikir untuk membangun sebuah kedai kopi sekaligus membuat konsep roastery dengan kawan lamanya. Sayangnya hal itu gagal dan tak bertahan lama. 

Keyakinannya dalam bisnis kopi tak membuat Marthin berhenti. Ia kemudian kembali membangun kedai kopi di kawasan Lenteng Agung meski berbeda tempat dengan yang sekarang. Lagi-lagi, karena ketidakcocokan dengan rekan bisnis, akhirnya redup kemabli.

Barulah di tahun 2014, dengan modal sendiri sebesar Rp 5 juta-an, ia membangun coffee roasting dengan label Kopi Sondang. Saat itu, ia melakukan penyangraian di tempat temannya untuk disalurkan ke penikmat kopi, kedai, dan perkantoran. 

Ketika semua orang memiliki alat penggilingan, yang semula menjual bubuk, kini Marthin menjual tak hanya bubuk, namun biji kopi juga. "Jadi sekarang (menjual) biji 75 persen, bubuk 25 persen," tuturnya.

Kemudian, kata Marthine, saat awal-awal membangun Kopi Sondang, mulanya memasarkan jenis kopi Arabica. Tetapi, menurutnya tidak lucu jika tidak konsen terhadap jenis kopi lokal, yakni robusta. 

"Apalagi kopi lokal masih banyak, karena 80 persen perkebunan lokal (Indonesia) itu robusta. Kemudian fokus ke kopi non-arabica, salah satunya robusta dan riberika, jenis kopi yang terpinggirkan di belantika industri kopi Indonesia bahkan dunia," cerita pria berkacamata itu.

Menguatnya tren kopi-susu juga membantu mempopulerkan jenis kopi robusta. Karena menurut Marthin, bahan baku yang paling baik untuk kopi-susu adalah jenis kopi robusta.

Tantangan
Pada awalnya, tantangan yang dihadapinya adalah masih sedikitnya kedai-kedai kopi untuk menyalurkan hasil roasting yang ia buat. Apalagi, diakui Marthin, Kopi Sondang belum memiliki divisi pemasaran, praktis semua hanya mengandalkan mulut ke mulut. 

Foto: Sopian/Male Indonesia

"Jadi, pada awal tahun membangun, untuk mendapatkan satu sampai empat kedai kopi membutuhkan waktu sampai satu tahun. Lebih banyak perorangan yang mengambil kopi dari kami," tuturnya.

"Tetapi dengan bertumbuhnya digitalisasi, semuanya mempermudah dan bisa menjadi entri point membawa misi kita sampai ke khalayak yang lebih luas," tambahnya.

Tantangan muncul kembali ketika kedai kopi tumbuh subur, dan roastery-roastery juga sejalan pertumbuhannya. "Pada akhirnya memang ada persaiangan. Cuman sampai sekarang, saya sendiri masih meyakini kalau dari awal sampai sekarang membangun bisnis ini bukan kompetisi, tapi kolaborasi," ucap Marthin.

Selain itu, tantangan lain dan kesulitan yang dihadapinya adalah ketika bersentuhan dengan para petani. Di mana para petani belum bergerak secara idependen (mandiri). Artinya, kata dia, masih banyak keterbatasan, misalnya dalam hal alat dan area yang dimilik petani masih terbatas. "Sehingga hasilnya kadang kurang ideal atau kurang optimal," katanya.

Meskipun tantangan itu terus ada. Nyatanya, dengan pengalaman, keteguhan dan passion terhadap kopi yang begitu besar, Kopi Sondang telah menyalurkan produknya untuk berbagai kedai kopi, individu (perorangan), dan perkantoran, baik yang di Jakarta maupun di luar Jakarta, seperti Bandung, Bogor, Medan, Yogyakarta, hingga Gorontalo. *** (SS)

SHARE