Ini Penyebab Laju Transformasi Digital Terhambat | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Ini Penyebab Laju Transformasi Digital Terhambat
Gading Perkasa | Digital Life

Transformasi digital merupakan istilah yang sudah lazim didengar belakangan ini. Tapi, sejauh apa penerapannya di tanah air?

Photo by rawpixel.com from Pexels

Perusahaan teknologi Dell Technologies dan Intel melakukan riset indeks transformasi digital Dell Technologies (DT Index). Riset ini mengungkap beberapa hambatan yang dialami oleh perusahaan Indonesia dalam melakukan transformasi digital.

“Berdasarkan hasil DT Index, terdapat 94 % perusahaan di Indonesia mengakui mereka menghadapi rintangan besar dalam penerapan transformasi digital. Misalnya, kekhawatiran akan privasi data dan keamanan siber,” ujar Vice President, Data Centre Solutions, Asia Pacific and Japan, Dell EMC, Paul Henaghan.

Riset tersebut diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan 100 pemimpin bisnis di Indonesia melalui perusahaan riset independen, Vanson Bourne, guna mengukur posisi perusahaan dalam DT Index.

Vanson Bourne mengklarifikasi upaya bisnis digital dari perusahaan dengan meninjau strategi. Hasil survei global, berdasarkan wawancara 4.600 responden dari 42 negara mulai diumumkan awal 2019. Semua hambatan tersebut memperlambat laju usaha transformasi digital.

“Di samping itu, hambatan lainnya, kurangnya anggaran dan sumber daya, peraturan atau perubahan legislatif,” tutur Paul.

“Juga kurangnya teknologi yang tepat untuk digunakan sesuai kecepatan yang dibutuhkan bisnis, dan kurangnya tenaga serta pengalaman tepat,” tuturnya lagi.

Dalam riset itu, terdapat 84 % pemimpin perusahaan di Indonesia yang percaya bahwa transformasi digital harus diterapkan secara menyeluruh. Walau demikian, hanya ada 4 % yang menyatakan mereka akan menjadi pelopor perubahan dalam jangka waktu lima tahun ke depan.

Studi ini mengungkap, 57 % bisnis di Indonesia percaya perusahaan mereka akan kesulitan memenuhi tuntutan pelanggan yang terus berubah selama lima tahun ke depan. Dan, 27 % khawatir akan kalah bersaing.

Dalam kategori adopsi digital dengan memiliki rencana digital, investasi dan inovasi yang matang memiliki persentasi 26 %. Sedangkan 41 % berhati-hati dan perlahan melakukan transformasi digital untuk masa depan.

“Perusahaan yang mempunyai investasi digital sangat sedikit dan ragu untuk memulai hanya 21 %. Lalu mereka yang tidak memiliki rencana sama sekali sebesar 6 %,” kata dia. [GP]

SHARE