Banjir Teraneh yang Pernah Terjadi di Dunia | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Banjir Teraneh yang Pernah Terjadi di Dunia
Gading Perkasa | Story

Oktober 1814, bencana banjir tak biasa melanda kota London, Inggris. Minuman mengandung alkohol yang dibuat dengan peragian lambat alias bir memicu petaka dan menelan sejumlah korban jiwa.

flickr

Sebagaimana dikutip dari History, bencana banjir itu bermula dari laporan pengawas gudang di Bainbridge Street milik Messrs. Henry Meux and Co. Perusahaan yang berdiri sejak zaman Raja George III dan menghasilkan lebih dari 100.000 barel nektar berwarna gelap per tahunnya.

Kala itu, pengawas yang bertugas adalah George Crick. Sekitar pukul 16.30, ia menginspeksi gentong-gentong raksasa terbuat dari kayu yang jadi tempat fermentasi bir hitam.

Crick melihat ke dasar gentong, mengamati cincin gentong seberat 318 kilogram dari wadah penyimpanan bir yang sudah diproses selama 10 bulan. Dari pengalamannya selama 17 tahun di perusahaan, ia maklum bahwa hal itu bisa terjadi dua atau tiga kali dalam setahun, dan tidak terlalu khawatir.

Walaupun bahan bir hanya tinggal 10 cm dari puncak wadah setinggi 6,7 meter, atasannya meyakinkan tidak ada masalah dan kerenggangan cincin gentong bisa diperbaiki belakangan.

Baru saja Crick menuliskan catatan temuannya sekitar pukul 17.30, tiba-tiba terdengar ledakan besar dari dalam gudang. Ternyata, wadah berisi lebih dari 473.000 liter bir jebol dan merusak katup di wadah-wadah lain yang juga berisi ribuan barel bir.

Terjadilah reaksi berantai. Sebanyak 570 ton cairan membludak bersamaan, menciptakan gelombang bir yang mematikan.

banjir-Male-IndonesiaPhoto by Dylan Freedom on Unsplash

Kekuatan ledakan bahkan melontarkan sejumlah batu bata ke atap rumah-rumah di Great Russell Street. Salah satu batu bata menimpa Eleanor Cooper (14), sehingga ia tewas seketika.

Gelombang cairan bir berwarna hitam mendesak ke jalur-jalur sempit di sekitar kawasan tersebut dan menelan segala sesuatu yang berada di alirannya.

Karena tidak ada sistem selokan di jalan-jalan kota, gelombang bir hitam masuk ke dalam rumah-rumah di sekitar pabrik. Warga pun terpaksa memanjat meja dan perabotan lain untuk menyelamatkan diri ketika bir membanjiri rumah mereka.

Kerusakan terburuk terjadi di New Street. Hannah dan Mary Banfield yang tengah menikmati waktu minum teh sore tenggelam di dalam lautan bir. Anne Saville serta empat orang lainnya juga meninggal dunia.

Regu penolong berusaha mencari mereka yang terjebak dalam banjir dengan tinggi sepinggang orang dewasa, padahal cairan itu masih bersuhu panas.

“Pemandangan ini menampilkan hal paling mengerikan, seperti kebakaran atau gempa bumi,” demikian dilaporkan Morning Post.

Walaupun bencana banjir bir di London seolah sepele, penderitaan yang diakibatkan tidak terbayangkan. Delapan orang wanita dan anak-anak meregang nyawa. Morning Post menyebutnya sebagai salah satu kecelakaan menyedihkan yang selalu dikenang.

Dua hari pasca kejadian, juri pengadilan memerintahkan seseorang untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.

Anehnya, setelah memeriksa jasad para korban dan mendengarkan kesaksian dari George Crick, sang pengawas gudang, juri menyimpulkan bahwa para korban meninggal secara “tidak sengaja dan sedang bernasib sial”.

Selain lolos dari kewajiban membayar ganti rugi, perusahaan itu malah mendapatkan pengecualian pajak dari Parlemen Inggris sehubungan dengan ribuan barel bir yang terbuang sia-sia. [GP]

SHARE