Amityville, Rumah Bergaya Kolonial yang Mengerikan | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Amityville, Rumah Bergaya Kolonial yang Mengerikan
Gading Perkasa | Story

Selain kemegahannya, rumah bergaya kolonial Belanda di tepi danau yang beralamat di 112 Ocean Avenue, Amityville, New York, Amerika tak banyak menarik perhatian. Sampai sebuah peristiwa besar terjadi di dalamnya, yaitu pembunuhan massal.

Edward SImpson/flickr

13 November 1974, sekitar pukul 18.30, Ronald ‘Butch’ DeFeo Jr menyeruak masuk ke Henry’s Bar dengan membawa kabar buruk. “Seseorang menembak ibu dan ayahku,” katanya panik, seperti dikutip dari New York Daily News.

Kehebohan pun terjadi. Orang-orang sontak berhamburan dari bar, menuju rumah bergaya kolonial Amityville.

Pemuda yang kala itu berusia 23 tahun juga melapor ke aparat. Ia mengaku menemukan jasad ayah dan ibunya di dalam kamar di lantai 2. Petugas Kepolisian Suffolk County menerima laporan pada pukul 18.35.

Saat polisi tiba di lokasi kejadian, Ronald Jr mengatakan bahwa ia menemukan jasad adik-adiknya di kamar lain. Total korban berjumlah enam orang: Ronald J. DeFeo (43), Louise (42), John (9), Mark (12), Allison (13) dan Dawn (18). Semuanya tewas dengan luka tembak.

Aparat yang menyisir rumah tak menemukan tanda-tanda bekas perlawanan. Korban diduga dihabisi dalam kondisi terlelap. Senjata pembunuh juga lenyap. Setelah pengujian post-mortem dilakukan, para korban dinyatakan telah meninggal setidaknya sejak pukul 07.00.

Ronald DeFeo Jr adalah satu-satunya anggota keluarga yang selamat. Simpati pun mengalir bagi pemuda yang kehilangan seluruh anggota keluarganya sekaligus. Namun, dua hari kemudian ia digiring polisi dalam kondisi tangan diborgol.

Setelah diinterogasi selama 20 jam, Ronald Jr akhirnya mengaku bahwa dia yang menembak ayah, ibu, dan adik-adiknya. Kala itu motif pembunuhan belum diketahui.

Menurut penyelidik, ia ingin mendapatkan harta keluarga. Namun, pelaku bersikukuh. “Suara di dalam rumah itu yang membuatku melakukannya,” katanya.

Kasus tersebut memang memiliki sejumlah keanehan. Meski pelaku tak menggunakan senapan yang dilengkapi peredam, para tetangga tak mendengar bunyi letusan senjata.

Ronald DeFeo Jr dinyatakan bersalah atas enam dakwaan pembunuhan tingkat dua, yang masing-masing dijatuhi hukuman selama 25 tahun hingga penjara seumur hidup.

Selama penyelidikan dan persidangan, rumah bergaya kolonial Amityville dibiarkan kosong. 13 bulan kemudian, kepemilikannya berpindah tangan ke George Lutz yang pindah bersama istri dan tiga anaknya pada Desember 1975.

Saat pindah, Lutz mengundang pemuka agama untuk memberkati rumah itu. Kata Lutz, tamunya mengaku tangan tak terlihat memukulnya di ruang menjahit.

Sang pemuka agama, tambah Lutz, juga mendengar suara tanpa raga. “Pergi dari sini!,” entah dari siapa kalimat itu terucap. Ia bahkan mengalami perasaan aneh mirip gejala flu dan tangannya tiba-tiba mengeluarkan darah.

Meski demikian, Lutz dan keluarga akhirnya menetap di rumah Amityville. Mereka menemui sejumlah hal mistis. “Ada aroma asing yang tercium lalu hilang, dan terdengar suara aneh. Pintu depan terbanting tengah malam,” ucap Lutz seperti dilansir dari ABC News.

Lutz membiarkan perapian tetap menyala, agar suasana rumah tak ‘dingin’. Namun, ia malah menemukan zat misterius mirip lendir yang berjatuhan di karpet saat terbangun di pagi hari. Sang istri berubah menjadi wanita tua, dengan kerutan mirip nenek berusia 90 tahun.

Segala keanehan tersebut dimulai pukul 03.15. Hampir tiap hari, bertepatan dengan waktu diperkirakannya terjadi pembunuhan.

Setelah 28 hari tinggal di rumah Amityville, Lutz dan keluarganya pindah. Mereka meninggalkan pakaian di lemari, dan kulkas penuh makanan. Ia yakin, hal buruk akan menimpa keluarganya jika tak buru-buru pergi. [GP]

SHARE