Startup: Ambisi Hubungkan Konsumen & Pelaku Bisnis | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Startup: Ambisi Hubungkan Konsumen & Pelaku Bisnis
Sopan Sopian | Works

Sukses membesarkan layanan Go-Food di Indonesia sejak awal beridiri, sepertinya memberikan pengalaman dalam bidang bisnis komersil bagi Jesayas Ferdinandus, Founder sekaligus CEO dari aplikasi OY! Indonesia

Ditemui dalam grand launching aplikasi OY! Indonesia pada 18 Oktober 2018 lalu, pria lulusan University of Illinois at Urbana-Champaign (Bachelor of Applied Science Amathematics & Georaphy) itu menuturkan ambisinya dalam menyediakan sebuah platfrom baru untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dan pembayaran dalam satu layanan aplikasi mobile, OY!.

OY! diambil dari sapaan informal “oi” yang sering digunakan untuk memulai obrolan. Jesayas menjabarkan OY! sebagai aplikasi chatting “all-in-one” untuk memudahkan pelanggan dalam mencari, menemukan, dan berinteraksi dengan sejumlah pelaku bisnis di sekitar pengguna. 

Misalnya, pengguna dapat mengontak sejumlah akun bisnis makanan, tempat fitnes, salon kecantikan, serta lima belas kategori bisnis lokal lain yang terdapat di dalamnya.

“Ide kami adalah menyediakan segalanya dalam satu aplikasi, dari mengobrol dengan teman, membeli tiket pesawat, dan lainnya. Konsumen dapat berinteraksi dengan semua jenis bisnis dari perusahaan besar hingga toko tradisional dan layanan jasa,” tutur Jesayas.

Aplikasi OY! sebenarnya baru didirikan pada Maret 2017, didirikan oleh enam orang dengan pengalaman telah bekerja di perusahaan teknologi terkemuka. Salah satunya, Jesayas. Jabatan pengembangan Product and Business OY! Indonesia sendiri dipegang oleh Mario Nicolas, mantan Product Manager Kakao dan Path yang juga sempat bergabung dengan Grab.

Meski baru enam bulan berdiri, rupanya perusahaan telah menerima pendanaan segar dengan nilai yang tidak disebutkan, yang dipimpin Syailendra Asia.  Namun tidak menampik bahwa kesulitan masih dihadapi Jesayas.

Menurutnya kesulitan itu tetap ada. Tapi bukan soal di teknis aplikasinya, Melainkan bagaimana bisa menyatukan perbankkan satu-satu. Karena menurutnya, setiap bank memiliki sistem berbeda-beda. "Awal-awalnya lumayan sulit. Karena kita harus tahu sistem yang berbeda-beda dari perbankkan, integrating setiap bank beda-beda gitu. Tapi sudah lebih gampang sih," jelasnya.

Diakui Jesayas juga, bahwa apa yang ia bangun sekarang ini bukanlah sesuatu yang baru. Hanya mengembangkan ekosistem yang sudah ada. Sehingga orang-orang dapat lebih mudah dalam bertransaksi, berinteraksi, dan mencari kebutuhan pengguna. *** (SS)

SHARE