The Untold Story Tentang Pertempuran di Surabaya | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
The Untold Story Tentang Pertempuran di Surabaya
Gading Perkasa | Story

Apa yang ada di benak Anda saat ditanya tentang pertempuran di Surabaya? Sebagian besar mungkin akan menjawab pidato Bung Tomo yang berapi-api, atau tewasnya Jenderal Mallaby di tangan arek-arek Suroboyo.

wikimedia commons

Tapi banyak yang lupa bahwa pertempuran di Surabaya bukan menyoal dua hal itu saja. Masih ada cerita lain di dalamnya. Seperti keterlibatan warga Tionghoa dan cerita sebagian laskar yang belum fasih memegang senjata.

Lebih lanjut, inilah the untold story tentang pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945.

1. Pertempuran di Surabaya menjadi salah satu pertempuran yang paling tidak ingin diingat oleh Pasukan Sekutu, terlebih Inggris. Betapa tidak, di Kota Pahlawan inilah, pasukan elite Inggris dipaksa mengibarkan bendera putih dan meminta perang dihentikan.

2. Korban pertempuran berjumlah sekitar 20 ribu di pihak Indonesia dan 1.500 di pihak sekutu. Angka pastinya belum diketahui hingga sekarang.

3. Inggris tidak hanya kehilangan satu, tapi dua jenderal. Yaitu Brigadier General Aubertin Walther Sother (AWS) Mallaby dan Brigadier General Robert Guy Loder Symonds.

4. Tewasnya Mallaby disebabkan oleh salah paham. Dalam sebuah sosialisasi gencatan senjata, Mallaby menaiki mobil Buick milik Residen Surabaya, Sudirman. 

Tanpa sepengetahuannya, tiba-tiba sebuah granat melayang dan mengenai mobil tersebut. Mallaby tewas seketika. Tapi ada versi lain yang menyebut ia tewas ditembak di tempat dari jarak dekat.

5. Jika Bung Tomo menggunakan radio untuk membangkitkan semangat arek Suroboyo, seorang wanita muda Tionghoa, melalui radio yang dikelola komunitas Tionghoa setempat, berpidato menggunakan bahasa Inggris, meminta bantuan kepada Pemerintah Republik Cina agar membantu rakyat Surabaya.

6. Selain Tentara Keamanan Rakyat, tentara Hizbullah, dan Sabilillah, pertempuran ini juga melibatkan TKR Chunking yang terdiri atas warga Tionghoa di Surabaya.

7. Dalam sebuah orasinya, alih-alih mengutuk, Cak Mus justru memuji tentara NICA dan Sekutu. Bunyi orasinya adalah: “NICA, NICA, NICA, jangan mendarat. Inggris, kamu jangan mendarat. Kalian tahu aturan Inggris, kalian pintar, sudah sekolah tinggi. Kalian tahu aturan, jangan mendarat!”.

8. Guna melawan tentara Sekutu, Bung Tomo dan pemuda lainnya aktif melobi Jepang agar mereka mau menyerahkan senjata. Tapi seorang bekas tentara Jepang enggan menyerahkan bayonetnya. Baginya, bayonet itu sangat penting.

Bayonet itu biasa ia pakai memasak. Tidak mau kehilangan akal, Bung Tomo menyuruh salah seorang pemuda mencari sebilah pisau dan ditukarkan dengan bayonet tersebut.

9. Bung Tomo justru ditawan oleh laskar ketika pertempuran di Surabaya pecah. Usut punya usut, penawanan itu adalah instruksi dari Cak Mus alias dr. Mustopo, Pemimpin Markas Besar Tentara Jawa Timur, demi melindungi Bung Tomo yang dianggap sebagai orang penting.

10. Banyak pemuda dari laskar-laskar di Surabaya belum tahu cara melempar granat. Mereka tidak paham kalau sebelum dilempar, granat harus dicabut picunya terlebih dahulu. Gambaran ini pernah disinggung sekilas oleh Imam Tantowi dalam filmnya Merdeka atau Mati: Soerabaia 45. [GP]

SHARE