Pengorbanan Musisi Afrika Demi Kesetaraan - Male Indonesia
Pengorbanan Musisi Afrika Demi Kesetaraan
MALE ID | News

Peter Tosh benar-benar sosok revolusioner yang mengubah dunia dengan setiap liriknya. Meskipun dianggap banyak orang sebagai individu yang rumit karena tanpa basa-basi dan militan, ia sangat bertalenta, pejuang revolusi dan bebas.

Photo credit: Mexicaans fotomagazijn on Visualhunt.com / CC BY-NC

Memperjuangkan persamaan hak dan keadilan, Peter Tosh tak pernah ragu mengatakan kebenaran. Lagu-lagunya bercerita tentang seruan melegalkan ganja, bagaimana orang kulit hitam menyadari akar mereka serta persamaan sosial dan ras.

Dalam lagunya Equal Rights (1977), ia mengatakan, “setiap orang menangis demi perdamaian, tapi tak ada yang menangis untuk keadilan. Saya tidak ingin kedamaian, yang saya butuhkan persamaan hak dan keadilan”.

Tosh bertemu Robert Nesta “Bob” Marley dan Neville “Bunny Wailer” Livingston di Kingston, Jamaika. Mereka membentuk grup Wailin Wailers (kemudian The Wailers) di bawah bimbingan Joe Higgs.

Pada 1973, Tosh dan Bunny meninggalkan grup karena perlakuan tidak adil dari Chris Blackwell, yang kemudian menjadi presiden Island Records. Setelah hengkang, karier solo Peter Tosh memungkinkan dirinya menyampaikan lebih banyak pesan kesetaraan dan keadilan.

Berbekal gitar dalam bentuk senapan M16, ia menyuarakan lebih banyak pandangan politik revolusioner dan kritiknya tentang shitstem (istilahnya untuk sistem pemerintahan yang tidak adil bagi orang kulit hitam).

Ia menyebut dirinya orang Afrika terlantar, mendedikasikan hidup untuk kebebasan politik Afrika, serta berkomitmen dalam kata-kata dan perbuatan.

“Tosh sering tampil di banyak konser anti-apartheid, dan ia memberikan energi sekaligus bakatnya demi kebebasan Afrika,” tulis Herbie Miller, mantan manajer Tosh dalam biografinya.

Lagu berjudul Apartheid (1977) mengecam sistem penindasan di Afrika bagian selatan. Sebelumnya, Tosh pernah ditangkap di luar Komisi Tinggi Inggris di Kingston lantaran memprotes pengambilalihan Ian Smith atas Rhodesia (sekarang Zimbabwe).

Dalam konser bertajuk Bob Marley’s One Love Peace guna mengakhiri pertumpahan darah yang merusak pemilihan umum 1977 di Jamaika, Tosh dengan berani menyalakan ganja lalu berceramah tentang legalisasi ganja, serta menyerang sistem sosial dan politik Jamaika yang korup.

Akibatnya, beberapa bulan kemudian ia ditangkap atas dugaan menghisap ganja dan dipukuli 10 petugas di kantor polisi selama lebih dari satu jam. Insiden yang nyaris membuat Tosh kehilangan nyawanya.

Sebagai sosok yang tak goyah untuk persamaan sosial dan ras, Tosh dikenal selalu menolak tawaran dan penghargaan jika tidak mewakili kesetaraan dan keadilan, apalagi tidak ada kaitannya dengan peningkatan kehidupan orang kulit hitam di seluruh dunia.

Herbie Miller dalam artikelnya menulis: “Saya melihat dia (Peter Tosh) menolak menerima catatan emas di Belanda, karena tidak puas melihat keadaan yang ia anggap sebagai kolonialisme Belanda di Antillen.”

Sikap Tosh tidak hanya mendukung pembebasan Afrika, ia juga sadar akan negara lain yang tertindas. Pada 1979, ia menolak tampil di Israel karena dukungannya bagi tanah Palestina.

Sebuah laporan menyebut, dia bahkan mengekspresikan hal itu saat berada di atas panggung konser megah di New York, dimana ia berpakaian layaknya orang Palestina.

Ketika Perdana Menteri Granada, Maurice Bishop, mengundangnya ke sebuah pertemuan dan menyambutnya dengan titel komunis populer “comrade” di hadapan Perdana Menteri Jamaika, Michael Manley, Tosh justru menjawab, “I man don’t come red. I come black.”

Walaupun telah tiada pada 11 September 1987, namanya masih diakui dan diingat untuk setiap kata-kata dan tindakannya, dan tetap menjadi salah satu musisi reggae paling berpengaruh di abad ke-20. [GP]

SHARE