Revolusi Industri 4.0, Anda Siap Menghadapinya? - Male Indonesia
Revolusi Industri 4.0, Anda Siap Menghadapinya?
MALE ID | Works

Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan,dan komputasi kognitif.

Photo by TUV Rheinland

Berkaitan dengan hal tersebut, saat masyarakat menikmati manfaat Internet of Things (IoT) yang nirkabel dan Industrial Internet of Things (IIoT), berbagai risiko tidak dapat dihindari. Frekuensi, cakupan, dan kecanggihan serangan siber telah mencapai tingkatan baru di tahun 2016 lalu. 

Hal tersebut juga membuat para pelaku bisnis menuntut adanya solusi untuk mengamankan sistem suplai pusat, pertukaran data yang aman, dan adanya sistem produksi yang bisa diandalkan. Selain integrasi keselamatan fungsional untuk melindungan bisnis dari gangguan teknis, dan serangan keamanan siber yang biasa terjadi, ada juga kebutuhan yang berkaitan dengan pengamanan otomatisasi proses serta kontrol untuk mencegah kegagalan sistem.

Untuk itu, dalam menghadapi Industry 4.0, TUV Rheinland, penyedia layanan pengujian, inspeksi, dan sertifikasi memberikan beberapa tips dan membantu mempermudah tips tersebut saat menghadiri perhelatan Asia-Pacific Conference of German Business (APK) ke-16 di Jakarta, awal November 2018.

Pertama, memahami proses IT dan industrial umum dengan lebih mendalam, sehingga perusahaan mampu mensinergi dan memperoleh rekomendasi secara sistematis. Kedua, menerapkan 2.standar keamanan yang lebih tinggi untuk perangkat, sistem, dan komponen di dalam perusahaan, serta menyesuaikannya dengan standar industrial, yang biasanya diperoleh melalui sertifikasi. 

Kemudian yang ketiga, mendorong 3.insiatif proaktif dari perusahaan untuk meningkatkan sistem keamanannya, di luar ketentuan keamanan yang wajib dari pemerintah. Keempat, melakukan 4.pendekatan “Security by Design” atau keamanan yang disesuaika, sejak dari awal perencanaan, di mana potensi gangguan di komponen dan sistemnya lebih diperhatikan. Cara ini akan mengurangi risiko dan pendeteksian gangguan pun bisa dilakukan lebih awal.

Selanjutnya pada tahap kelima, membangun 5.budaya “security-sentris” di perusahaan dengan menyediakan pelatihan yang holistik untuk generasi desainer dan insinyur berikutnya, dengan lebih awal dan berkelanjutan, agar mampu menyediakan pertahanan yang terbaik.

Dikatakan, Ralf Scheller, Chief Operating Officer, TUV Rheinland AG bahwa, mengapa pihaknya dapat membantu mewujudkan tips tersebut, karena tujuannya adalah untuk mengamankan proses transformasi digital, selagi memenuhi standar internasional. 

"Sebagai pendukung utama untuk pengembangan perdagangan dan perekonomian antara Asia dan Jerman, kami ingin dikenal sebagai pendukung untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di aspek keselamatan dan kualitas, agar dapat menjawab tantangan dari interaksi antara manusia, teknologi dan lingkungan," ucap Scheller. *** (SS)
 

SHARE