Ho Chi Minh, Pahitnya Memperjuangkan Kebenaran | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Ho Chi Minh, Pahitnya Memperjuangkan Kebenaran
Gading Perkasa | Story

Ho Chi Minh terlahir dengan nama Nguyen That Thanh pada 19 Mei 1890 di Hoang Tru, Vietnam Tengah. Ia mencetak sejarah besar bagi tanah kelahirannya, bahkan menjadi proklamator sekaligus presiden pertama di Vietnam.

manhhai/flickr

Hanya saja, masa kecil Ho Chi Minh bisa dikatakan cukup kelam. Sebagai putra dari seorang pegawai kerajaan, hidupnya kerap diterpa kesulitan usai sang ayah dipecat akibat mengkritik penjajah Vietnam kala itu, Prancis.

Rintangan yang menghalangi Ho semasa kecil ternyata tak menghentikan laju karier politiknya, dan semua dimulai ketika ia bekerja sebagai juru masak di sebuah kapal. Di kapal itu, dia mendapat kesempatan keliling ke Afrika, Amerika Serikat dan beberapa lokasi lainnya. Prancis menjadi tempatnya berlabuh.

Usahanya agar tanah kelahirannya merdeka dari tangan penjajah semakin tampak kala ia mendirikan kelompok belajar pemuda yang bertujuan membangun jiwa nasionalis bagi pemuda Vietnam di Kanton, Cina. Dan di momen ini pula, ia mengganti namanya dari Nguyen menjadi Ho Chi Minh (ia yang bercahaya).

Sempat Mendekam di Balik Jeruji Besi
Juni 1931, Ho ditangkap di Hongkong oleh polisi Inggris (saat itu Hongkong masih koloni Inggris). Ia dituduh aktivis komunis dan menggalang gerakan subversif. Usai mendekam di penjara dua tahun, Ho hengkang ke Moskow hingga tahun 1938.

Namun, lagi-lagi ia diringkus. Kali ini oleh pasukan Chiang Kai-Shek di Cina Selatan. Tuduhan sebagai mata-mata ditujukan kepadanya dan langsung dipenjara. Sebuah sumber menyebutkan, di penjara tempatnya ditahan, kaki Ho diikat ke bola besi.

Selama berada di hotel prodeo, ia membuat banyak sekali puisi yang kelak diterbitkan dengan judul “Prison Diary”. Salah satu puisinya yaitu:

Cahaya Bulan
Untuk tahanan, di sini tidak ada alkohol atau bunga
Tapi malam begitu indah, bagaimana kita merayakannya?
Saya ke lubang udara dan menatap bulan
Dan melalui lubang udara, bulan tersenyum pada penyair

Setelah Jepang menginvasi Indo-Cina --sebutan Negara Vietnam kala itu-- barulah Ho bisa kembali ke tanah airnya. Momen tersebut tak disia-siakan begitu saja olehnya. Ia lalu mendirikan gerakan kemerdekaan berasaskan komunis dengan nama Viet Minh, seperti dilansir dari BBC.

Dua tahun pasca Perang Dunia II berakhir, bersama rekan-rekan organisasinya, Ho mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam. Tapi kondisi tak kunjung membaik. Perjanjian damai yang ditandatangani Vietnam dan Prancis di Genewa, Swiss justru membuat Vietnam terbelah dua, yakni Utara dan Selatan.

Awal 1960-an, pasukan Vietnam Utara atau dikenal Vietcong bergerak demi mempersatukan negara. Amerika Serikat --yang notabene mendukung Vietnam Selatan-- menjawab tindakan tersebut dengan menerjunkan pasukannya guna menghentikan penyebaran paham komunis.

“Tak ada yang lebih dicintai dalam hati rakyat Vietnam selain kemerdekaan dan pembebasan,” ucapnya menyikapi kedatangan pasukan Amerika.

Kata-kata Ho Chi Minh sontak membakar semangat pasukan Vietcong. Serangan total yang mereka lancarkan membuat Presiden Amerika, Lyndon Johnson memilih berdamai dan menunda pertempuran.

Ironisnya, kesehatan Ho menurun dan semakin memburuk. 2 September 1969, di usia 79 tahun, Ho meninggal dunia. Ia tak sempat melihat penyatuan Vietnam yang diidamkannya saat langkah kaki terakhir pasukan AS meninggalkan negeri itu pada Maret 1973 dan jatuhnya Saigon ke tangan Komunis, April 1975.

Guna menghormati jasa-jasanya, pemerintah persatuan Vietnam mengubah nama Saigon, kota terbesar di Vietnam Selatan menjadi Ho Chi Minh City. [GP]

SHARE