Startup: Meraih Sukses Sebagai Diorama Maker | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Startup: Meraih Sukses Sebagai Diorama Maker
Gading Perkasa | Works

Profesi diorama maker mungkin masih terdengar asing di telinga banyak orang. Bahkan tak dianggap sebagai profesi yang menjanjikan. Tapi ketahuilah, anggapan itu sama sekali salah.

Photo by Gading Perkasa/Male Indonesia

Iwan Kustiawan telah membuktikan bahwa menjadi diorama maker bisa mendatangkan keuntungan besar. Dari pekerjaannya, ia sudah meraup total keuntungan yang menembus angka miliaran rupiah.

“Awalnya saya tertarik menekuni profesi diorama maker karena basic di sekolah. Dulu saya mengambil jurusan bangunan gedung. Baru fokus membuat diorama di tahun 2010,” kata Iwan saat diwawancarai MALE Indonesia di Indonesia Diecast Expo 2018, ICE BSD, Tangerang.

Namun, ia menambahkan, kendala yang sering dialami oleh diorama maker sangatlah beragam. Antara lain ketersediaan bahan yang terbatas, serta bagaimana sebuah diorama bisa lebih real, semirip mungkin dengan bangunan aslinya.

“Terkadang, saya juga kalau bikin diorama tidak 100 % sama seperti aslinya. Yang penting bisa kelihatan nyata,” ujar dia.

Mengenai proses pembuatan diorama, lanjut Iwan, ia akan melakukan survei tempat atau bangunannya terlebih dulu, dan menentukan skala, 1:64, 1:24, 1:18, 1:12, atau 1:6. Setelahnya konsep dari diorama itu sendiri, outdoor atau indoor.

Berapa biaya yang dihabiskan untuk membuat suatu diorama? Iwan mengaku, diorama berskala 1:64 dengan ukuran 15 cm rata-rata membutuhkan modal sekitar 50.000 - 100.000 rupiah. Semakin besar skala dan ukurannya, maka biayanya juga semakin bertambah.

“Diorama terbesar yang pernah saya bikin untuk sebuah perusahaan memiliki ukuran 3 meter x 1 meter, dan total pendapatan yang saya peroleh dari diorama itu sekitar 60 juta rupiah. Di dalam diorama, yang membuatnya mahal adalah seni dan waktu,” kata Iwan yang menjadikan diorama maker sebagai profesi utamanya.

Sedangkan proses pengerjaan diorama yang paling lama, diakui oleh Iwan, memakan waktu satu bulan. Selain minimnya bahan pembuatan, ukuran yang kecil dan sangat detail menjadi penyebabnya.

“Semakin kecil ukurannya, maka proses pengerjaannya semakin lama. Apalagi kebanyakan orang pesan ke saya diorama dengan ukuran kecil,” ucap dia.

Setelah sukses sebagai diorama maker, Iwan bercita-cita membangun sebuah kafe diorama, dimana setiap meja dilapisi kaca dan diletakkan diorama di dalamnya. “Rencana itu sudah dari tahun 2015, cuma masih mencari lokasi yang strategis,” ucapnya lagi.

Bagi siapa saja yang ingin menjadi diorama maker, Iwan berpesan agar mau belajar dan punya minat kuat di bidang tersebut.

“Jangan takut, terus belajar, punya imajinasi, dan harus sabar. Karena tidak gampang membikin sebuah diorama,” tutur Iwan. [GP]

SHARE