Eksperimen Nyata yang Menginspirasi Frankenstein | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Eksperimen Nyata yang Menginspirasi Frankenstein
Sopan Sopian | Story

Pada 17 Januari 1803, seorang narapidana muda di  Newgate, London, bernama George Forster digantung karena kasus pembunuhan. Seperti yang sering terjadi, tubuhnya dibawa keliling seluruh kota ke Royal College of Surgeons, yang kemudian akan dipertontonkan pada publik. 

Photo by Fae on Wikipedia

Apa yang sebenarnya terjadi agak lebih mengejutkan. Mengutip laman Livescience, Mayat Forster akan dialiri arus listrik oleh seorang ilmuan bernama Giovanni Aldini, keponakan Luigi Galvani, yang menemukan "hewan listrik" pada tahun 1780.

Surat kabar The Times melaporkan bahwa, pada pengaplikasian eksperimen itu, pertama dari proses pengaliran listrik ke wajah. Rahang Forster pun mulai bergetar. Kemudian otot-otot yang berdampingan menujukan kerutan, dan satu mata benar-benar terbuka. 

Pada bagian selanjutnya dari proses itu, Aldini meletakan listrik ke tangan Forster, dan tangan menunjukan reaksinya di mana tangam kanan terangkat dan dikepal, setalah itu kaki dan paha mulai bergerak. Para penonton yang kala itu melihat seolah-olah pria malang itu (Forster) sedang dalam perjalanan untuk hidup kembali. 

Pada 1730, ilmuan Inggris Stephen Gray mendemonstrasikan prinsip konduktivitas listrik pada seorang anak laki-laki yang dibentangkan di udara dengan tali sutra, dan menempatkan tabung bermuatan positif di dekat kaki anak itu untuk menciptakan muatan negatif di dalamnya. 

Berkat isolasi listriknya, Gray menciptakan muatan positif di ekstremitas pada anak itu, pada ekperimennya itu menyebabkan daun emas dapat menggerakan ke bagian jari-jarinya.

Selain itu di Prancis, pada tahun 1746, Jean Antoine Nollet menghibur istana di Versailles yang menyebabkan menyebabkan sebuah 180 penjaga kerajaan melompat secara bersamaan ketika muatan dari botol Leyden (alat penyimpanan listrik) melewati tubuh mereka.

Ilmuan lain yang mengammbil teori Galvani Aldini Johannes Ritter. Di mana ia melakukan eksperimen listrik pada dirinya sendiri untuk mengeksplorasi bagaimana listrik mempengaruhi sensasi. Atas penelitian-penelitian itu, gagasan bahwa listrik benar-benar merupakan barang hidup dan mungkin digunakan untuk membawa kembali orang mati, membawa ide dan mengakrabi kepala Mary Wollstonecraft Shelley muda, si penulis novel Frankenstein.

Pengetahuan yang Berkaitan dengan Masa Depan Saat Ini
Eksperimen Giovanni Aldini dengan orang mati menarik banyak perhatian. Beberapa komentator mengolok-olok gagasan bahwa listrik dapat memulihkan kehidupan. Orang-orang menertawakan pemikiran Aldini. 

Photo by SunOfErat on Wikipedia

Di balik olok-olokan itu, ada yang mengambil gagasan Aldini dengan sangat serius. Dosen Charles Wilkinson, yang membantu Aldini dalam eksperimennya, berpendapat bahwa galvanisme adalah "sebuah prinsip yang memberi energi, yang membentuk garis pembedaan antara materi dan roh, yang membentuk dalam rantai besar penciptaan, hubungan antara substansi korporeal dan esensi dari daya hidup."

Pada tahun 1814, ahli bedah Inggris John Abernethy membuat semacam klaim yang sama dalam workshop tahunan Hunterian di Royal College of Surgeons. Kuliahnya memicu perdebatan sengit dengan sesama ahli bedah William Lawrence. Abernethy mengklaim bahwa listrik adalah (atau seperti) kekuatan vital. Sementara Lawrence menyangkal hal tersebut. 

Pada saat Frankenstein diterbitkan pada 1818, para pembacanya pasti sudah akrab dengan gagasan bahwa kehidupan dapat diciptakan atau dipulihkan dengan listrik. Hanya beberapa bulan setelah buku itu muncul, ahli kimia Skotlandia Andrew Ure melakukan eksperimen listriknya sendiri di tubuh Matthew Clydesdale, yang telah dieksekusi karena pembunuhan. 

Ketika orang mati itu dialiri listrik, Ure menulis, "setiap otot di wajahnya menarik mengerut, dan hasilnya begitu menakutkan. Karena kemarahan, kengerian, keputusasaan, kesedihan, dan senyuman yang mengerikan, semuanya menyatu dalam satu ekspresi pada wajah si pembunuh itu."

Ure melaporkan bahwa eksperimen itu sangat mengerikan sehingga beberapa orang yang menonton dipaksa meninggalkan temapatnya, nbahkan ada seorang pria yang pingsan setelah melihat eksperimennya. 

Atas percobannya itu, menarik beberapa kesimpulan untuk berspekulasi tentang sejauh mana Ure memiliki novel-novel Mary Shelley dalam pikiran saat ia melakukan eksperimennya. Catatannya sendiri tentang mereka tentu saja ditulis dengan sengaja untuk menyorot elemen mereka yang lebih mengerikan.

Frankenstein mungkin tampak seperti fantasi bagi mata modern, tetapi bagi penulisnya dan pembaca aslinya tidak ada yang fantastis tentang hal itu. Sama seperti semua orang tahu tentang kecerdasan buatan sekarang, jadi pembaca Shelley tahu tentang kemungkinan kehidupan listrik. Dan seperti halnya kecerdasan buatan (AI) yang memunculkan berbagai tanggapan dan argumen sekarang, begitu pula prospek kehidupan listrik - dan novel Shelley setelahnya.

Ilmu di balik Frankenstein mengingatkan banyak orang bahwa perdebatan saat ini memiliki sejarah panjang, dan dalam banyak hal, istilah perdebatan sekarang ditentukan olehnya. Selama abad ke-19 orang mulai berpikir tentang masa depan sebagai negara yang berbeda, yang terbuat dari sains dan teknologi. 

Novel seperti Frankenstein, di mana penulis membuat masa depan mereka dari bahan-bahan masa kini, adalah elemen penting dalam cara berpikir baru tentang hari esok. Memikirkan tentang sains yang membuat Frankenstein tampak begitu nyata pada tahun 1818 mungkin membantu orang-orang mempertimbangkan lebih hati-hati cara berpikir sekarang tentang kemungkinan dan bahayanya masa depan manusia saat ini. *** (SS)

SHARE