Evolusi Penyihir yang Didominasi oleh Wanita | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Evolusi Penyihir yang Didominasi oleh Wanita
Sopan Sopian | Story

Sebelum hadirnya Harry Potter, citra penyihir memang lebih banyak di kenal dan didominasi oleh wanita. Karena banyaknya penyihir yang digambarkan dengan sosok wanita. Maka tidak heran saat momen Halloween banyak wanita yang menggunakan kostum penyihir.

Photo by Oliver Johnson on Unsplash

Dibalik itu semua, mengutip laman ancient-origins.net, menurut Uskup Burchard dari Worms mengatakan, pada abad ke-11, hal itu merujuk pada dosa tertentu. Di mana beberapa wanita jahat, kembali kepada setan dan tergoda oleh ilusi. Para wanita ini dipercaya menunggangi hewan tertentu dan berterbangan di malam yang gelap. 

Dengan kata lain, menurut Burchard, para wanita ini sebenarnya tertidur, tetapi ditawan oleh setan, yang menipu pikiran mereka dalam mimpi. Tetapi pada akhirabad ke-15 sihir telah banyak berubah. Meski begitu masih banyak keyakinan tentang wanita yang terbang di langit. 

Namun persepsinya berubah. "Wanita terbang" atau penyihir itu kini menjadi dikaitkan dengan pertemuan rahasia para penyihir yang dikenal sebagai "sabbath", yang melibatkan tindakan keji seperti membunuh bayi, mengambil bagian dalam pesta pora dan menyembah setan.

Perubahan pandangan itu menunjukkan bahwa apa yang pada awalnya dianggap sebagai kepercayaan yang hanya dimiliki oleh wanita dan pria yang bodoh, sekarang justru jauh lebih serius. Lalu apa yang terjadi dan mengapa terjadi transformasi pandangan seperti itu?

Maxpixel.net

Sejarawan Michael D. Bailey mengatakan pada suatu titik selama abad ke-14 dan 15, ada pendapat yang membedakan penyihir dari dua tradisi yang berbeda, yakni sihir “terpelajar” dan “umum”. Jenis sihir yang umum tidak memerlukan pelatihan formal, dikenal luas, dapat dipraktikkan oleh pria dan wanita, dan biasanya dikaitkan dengan cinta, seks, dan penyembuhan.

Sebaliknya, sihir yang terpelajar datang ke Eropa dari timur dan ditampilkan dalam "buku-buku sihir" yang beredar di kalangan orang-orang terdidik. Menariknya, deskripsi penyihir memang muncul dalam buku-buku sihir itu dan justru penyihir lebih digambarkan dengan sosok pria. Para pria dideskripsikan terbang mengendari "kuda setan".

Penyihir dan Wanita
Pada akhir Abad Pertengahan, pandangan tentang wanita yang rentan terhadap sihir muncul. Gagasan bahwa seorang penyihir terbang dengan sapu dan pria dengan kuda setan, berarti menggarisbawahi lingkup domestik tempat wanita itu berada. 

Selain itu, pada surat abad ke-13 yang ditulis oleh Paus Gregorius IX, menggambarkan pertemuan yang mirip dengan penggambaran tentang hari Sabat penyihir. Di mana pada pesta pora, jika tidak ada cukup wanita, pria akan terlibat dalam "kebobrokan" dengan pria lain. Dengan demikian, mereka terlihat menjadi banci, menumbangkan hukum alam yang dipercaya untuk mengatur seksualitas.

Photo by Blight55 on Wikipedia

Sihir kemudian, dalam banyak hal, dilihat oleh gereja sebagai ekspresi pemberontakan melawan norma dan institusi yang sudah ada, termasuk identitas gender.

Gagasan atau pandangan bahwa wanita mungkin telah berkecimpung dengan sihir iblis, sebelumnya terkait dengan pria yang terdidik. Meski hal itu tidak akurat, tetapi itu dipandanga mengerikan. karena baik pria maupun wanita tidak diizinkan untuk terlibat dengan iblis. 

Namun, dibandingkan wanita, pria justru memiliki kesempatan untuk melawan kontrol iblis karena pendidikan mereka. Artinya memang wanita cenderung lebih mudah terpengaruh iblis. Kurangnya kecerdasan wanita kala itu, bersama dengan gagasan kontemporer mengenai "gairah" wanita, berarti bahwa wanita dipahami lebih mungkin untuk membuat perjanjian "kesetiaan kepada setan". 

Jadi, di mata gereja abad pertengahan, wanita lebih mudah dijadikan santet daripada pria. Dan itu akhirnya mengapa penyihir lebih banyak didominasikan dengan gambaran wanita. *** (SS)

SHARE