Suka Duka Pakai Sponsor Bagi Travel Blogger | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Suka Duka Pakai Sponsor Bagi Travel Blogger
Sopan Sopian | Relax

Seiring tren jalan-jalan atau traveling menjamur, travel blogger pun ikut menjamur. Namun tak sedikit pula yang mundur perlahan. Apalagi mereka yang hanya ikut-ikutan tren saja. Karena sejatinya mereka yang bisa konsisten traveling-an adalah mereka yang memiliki jiwa petualang.

Ashari Yudha/doc.pribadi/Instagram: @catatanbackpacker

Dua dari sekian travel blogger Indonesia, Ashari Yudha dan Lenny bercerita bagaiaman keduanya menyiratkan jiwa petualang. Sehingga keduanya pun sukses menjadi travel blogger dengan segudang aktivitas traveling-nya. 

Ashari Yudha dengan blog catatanbkacpacker.com-nya sudah hobi traveling sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat di usianya itu ia sudah pergi jalan-jalan ke Palembang dan Padang dengan mengenakan bus dari Jakarta. 

"Jiwa eksplore saya kayaknya turunan dari ayah saya, karena ayah kerjanya hampir di seluruh pulau di Indonesia kecuali Papua. Di tambah saya juga orangnya penasaran. Pengen tahu ada apa di luar sana. Makanya saya suka jalan-jalan," tutur Yudha kepada Male Indonesia

Hobi traveling-nya itu terus dilakukan hingga masuk kuliah di jurusan Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Bandung. Untuk memuaskan hasrat eksplorenya. Sebagai pribadi yang mandiri, Yudha menyisihkan uang dari bekerja sampingan service komputer/laptop. "Habis kuliah, ngejar target keliling Indonesia dan lain-lain," ucapnya.

Dengan Sisa uang Rp 100 Selesaikan Ekspedisi Keliling Indonesia
Target itu pun akhirnya terlaksana. 2015 lalu, dengan biaya dari service laptop sebesar Rp 15 juta, Yudha melakukan perjalanan selama enam bulan menjamah seluruh provinsi di Indonesia, kecuali Kalimantan dan Sumatera. Dengan biaya yang minim, ia melakukan perjalanan dengan cara backpacker dan hampir seluruh perjalanannya dilakukan melalui jalur darat dan laut.

Ashari Yudha/doc.pribadi/Instagram: @catatanbackpacker

Pengalaman miris pun tak luput dalam perjalanannya. Yudha bercerita bahwa bagaimana ia sempat tidur di emperan mini market, rumah warga, sampai sempat pula tidur di kantor polisi. Bahkan dalam pengalaman perjalanan enam bulannya tersebut, ia juga mengalami pemalakan oleh preman, disangka teroris, hingga hanya menyisakan uang Rp 100 ribu.

"Saya pernah di sangka teroris di Pulau Rote karena waktu itu ada bom meledak, dan saya di bawa ke kantor polisi. Terus saya juga pernah di palak, waktu itu habisnya gak banyak sih. kejadiannya di Bima," cerita pria asal Depok itu.

Saat kehabisan uang, kata Yudha, itu masih dalam rangkaian perjalanan enam bulan untuk seluruh provinsi. Kala itu perjalanan ingin dilanjutkan dari Manado ke Makasar. "Di dompet benar-benar tinggal Rp 100 ribu. di ATM juga udah kosong banget waktu itu," katanya.

Akhirnya, Yudha memutuskan untuk omprengan dengan menumpang dari truk ke truk sampai di Gorontalo. Sesampainya di Gorontalo, ia mencoba menghubungi komunitas dengan akun Instagram komunitas Photography Insta Nusantara Gorontalo. Berawal niat untuk berbincang mengenai Gorontalo sambil ngopi, Yudha justru dijamu dengan luar biasa.

"Saya waktu itu tidak berharap apa-apa. Mereka kaget saya naik truk bukan bus. Saya kasih tahu alasannya, saya memang jalannya dengan cara backpacker-an. Akhirnya saya di temani selama perjalanan, mereka meng-cover semuanya. Karena komunitas ini, saya tidak mengeluarkan uang sama sekali. Saya sangat berterima kasih sekali waktu itu. Inilah manfaat dari persahabatan dan komunitas," jelas Yudha menceritakan pengalamannya itu.

Ashari Yudha/doc.pribadi/Instagram: @catatanbackpacker

Dengan sisa uang Rp 100 ribu. Ia berhasil menyelesaikan destinasi-destinasi lain selama enam bulan. Beruntungnya, setelah itu selesai dan posisi berada di Papua. Paman Yudha menelepon, karena mendapat kabar dirinya tak pulang selama enam bulan lamanya. Akhirnya, dengan tiket yang diberikan sang paman, Yudha bisa kembali pulang.

"Melakukan perjalanan ini murni awalnya bukan untuk mencari apa-apa, hanya berpikir postif bisa menciptakan buku atau kisah perjalanan apa pun untuk kedepannya, tapi ternyata saya bisa menjadi travel blogger seperti sampai sekarang," kenang Yudha.

Berawal dari Pindah-Pindah Tempat Tinggal
Lain pengalaman lain juga ceritanya. Travel blogger cantik asal Jambi bernama Lenny ini mulai hobi traveling karena kebiasaan tinggal yang berganti-ganti. Di mana ia memulainya dari tinggal di Batam untuk kuliah, kemudian tinggal di Australia dari program pertukaran pemuda Indonesia-Australia, dan selanjutnya di Wakatobi sepulang program tersebut.

Sempat menjalani pekerjaan, sebelum kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Amerika bidang Jurnalistik. Setelah menyelesaikan studinya itu, Lenny kembali ke Indonesia dan bekerja di media massa di Jakarta. 

"Pas kerja, anehnya saya kok rindu dengan pindah-pindah itu. Saya pikir-pikir enak ya bisa jalan-jalan terus, pengen," tutur Lenny saat ditemui MALE.co.id di kawasan Jakarta Selatan.

Lenny/doc.pribadi/Instagram: @lenny.dairy

Lenny pun bercerita, karena dekat Jambi, destinasi awal yang pertama kali disambangi adalah Palembang dan Padang. Kemudian, untuk luar negeri, adalah Singapura. Kendati belum pernah merasakan kehabisan uang saat melakukan perjalanan dengan cara backpacker, tetapi Lenny mengaku pernah backpacker-an pergi berdua ke Bali dengan sang kakak. 

"Pengalaman saya lebih ke daerah baru, diisengin warga lokal gitu, misalnya di Yogyakarta, nego-nego harga gitu ya naik kendaran, nanti di tengah jalan minta lagi, terus di puterin ke toko batik di suruh beli, Hal kecil itu yang kadang nyebelin, tapi aku maklumin sih," kenang Lenny.

Kemudian, pemilik blog travel len-diary.com itu juga menuturkan bahwa, meski pekerjaannya selaras dengan hobinya, yakni jurnalis travel. Namun rasa-rasanya beda, karena tidak dapat menentukan destinasi mana yang ingin disambangi secara pribadi. 

"Palingan waktu itu sebulan sekali bisa traveling-an sendiri gitu ya, itu juga udah bagus. Waktu itu karena ngikut rute penerbangan Air Asia, kan aku kerja di sana, jadi ya destinasinya mainstream semua," tutur Lenny yang sekarang telah rela meninggalkan pekerjaannnya itu demi lebih fokus jadi travel blogger.

"Traveler Cantik"
Setelah lepas dari pekerjaannya pada Februari 2018 lalu, Lenny mengaku merasa bebas dan akhirnya bisa menikmati destinasi-destinasi anti mainstream yang ingin ia sambangi. Seperti destinasi di Papua hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dari dulu diimpikannya. "Karena saya kan dari Barat, kalau ke Timur itu banyak pengalaman yang beda, mulai dari alamnya sampai makanannya," cerita Lenny.

Lenny/doc.pribadi/Instagram: @lenny.dairy

Bahkan dari kedua destinasi itu, Lenny mengaku mendapatkan pengalaman menarik. Di NTT ketika ke Pulau Semau, ia harus merasakan suasa mistis. Pasalnya, ia tidak tahu jika masyarakat setempat memiliki mitos bahwa pulau tersebut angker. "Waktu itu suasananya udah gelap ya, sekitar jam enam lebihlah, guide-nya kelipungan gitu, muter-muter aja. untungnya kita selamat," kisah Lenny sambil tertawa mengingat kejadian itu.

Terus, yang membuat Lenny tertawa mengingat kisah perjalananya yang lain, ketika pergi traveling ke Papua. Ia sempat merasakan mabuk setelah memakan makanan yang tidak biasa ia makan. "Pas di Papua pernah nyobain pinang sirih, terus saya mabuk, soalnya itu baru buat saya," tambah Lenny.

Selain itu menurutnya, dari sekian banyak tempat indah di Indonesia, nomor dua yang paling berkesan di dalam dirinya adalah destinasi Amerika. Karena tidak dipungkiri, Amerika adalah rumah keduanya saat malanjutkan studi waktu itu. 

"Tapi aku di sana lebih ke budaya dan orang-orangnya ya. Waktu aku di Amerika kan aku tinggal di Arizona, bisa dibilang paling jauh. Saya di sana bisa belajar aktivitas ke seharian orang sana, sama bisa memperkenalkan indonesia juga," tuturnya.

Wanita yang selalu mengajak teman untuk mengabidakan jalan-jalannay itu, mengaku bahwa ia adalah tipe traveler yang tidak bisa naik gunung atau backpacker-an. Untuk itu iya menyebutnya sebagai "traveler cantik". 

Lenny/doc.pribadi/Instagram: @lenny.dairy

"Kalau saya sih memang lebih enak budget lebih, tapi nggak menuntut kemungkinan pas-pasan juga. Semampunya aja. Jadi jangan sampai tidur di masjid, pegel juga. Karena mau tidak mau kita harus fit. Tidur juga harus cukup, dan makan yang benar," paparnya.

Enak nggak Enak Menggunakan Sponsor bagi Travel Blogger
Siapa yang tidak ingin jalan-jalan dibiayai sponsor. Selain traveling-an gratis, adanya sponsor pun mempermudah dan dapat memanjakan traveler untuk mengeksplore destinasi. Di tambah lagi, sponsor pun menjadi salah satu pemasukan bagi traveler yang sudah fokus dalam bidang tersebut. Namun apakah seenak itu? 

Ashari Yudha yang memang awalnya membangun blog catatanbackpacker.com pada 2015 untuk catatan cerita atas hobinya itu. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata konten yang ia tulis justru menjadi rujukan banyak traveler

Hingga akhirnya ia diundangan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk jalan-jalan bersama. "Pas dari sana, saya terus mikir, ternyata ada peluang besar kalau ingin serius di bidang ini. Barulah kemudian media sosial dan blog saya diseriusin. Itu kira-kira pertengahan 2015-an," kata Yudha.

Tidak dipungkiri, pria yang sempat bekerja di pertambangan itu mengaku bahwa, income dari pekerjaan tetap adalah penghasilan yang tetap juga. Berbeda dengan travel blogger yang bisa dibilang sebagai freelancer, penghasilannya fluktuatif (naik-turun). 

Ashari Yudha/doc.pribadi/Instagram: @catatanbackpacker

"Tetapi kalau ngomongin passion atau hati, lebih enak di travel. Ngejalaninnya bebas, banyak waktu, banyak pengalaman, ketemu keluarga baru di perjalanan. Jadi kebahagaiaan saya bukan hanya uang, tapi pengalaman yang saya jalanin itu menjadi sebuah kebahagiaan buat saya," terangnya.

Setelah diundang Kemenpar dan mengisi program traveling televisi, ia mulai banyak tawaran perjalanan dari sponsor brand. Sehingga sampai saat ini, sponsor mengantri untuk membiayai perjalanannya untuk mendapatkan cerita baru atas jalan-jalannya.

Kendati sponsor telah banyak dalam agendanya. Tak dipungkiri ia juga sempat menyebar proposal saat mengawali karier di traveling. "Karena, kita harus ada usaha, kecuali sudah berpengalaman. Otomatis akan datang sendiri. Awal-awal kirim proposal tidak ada salahnya," kata dia.

Menurut Yudha, adanya sponsor bagi travel blogger memiliki kelebihan dan kekurangannya. Jika menggunakan uang sendiri, kata dia, dirinya bisa bebas untuk melakukan apapun dan baimana pun untuk menikmati destinasi tujuan. 

"Tetapi kalau disponsorin enaknya kita difasilitasi, mulai dari akomodasi sampai transportasi, jadi tidak mikir apa-apa lagi. Tapi pulangnya banyak pekerjaan rumah (PR). Tinggal pilih saja. Tapi buat saya dan teman-teman, lebih enak pakai uang sendiri," paparnya.

Lenny/doc.pribadi/Instagram: @lenny.dairy

Lenny sendiri melihat peluang besar dari blog-nya ketika ia memenangkan lomba menulis travel. Waktu itu, kata Lenny, ia mengangkat perjalanannya pada tahun 2010 soal Wakatobi. "Saya pikir-pikir lumayan juga blog ini, bisa dapat duit. Tapi waktu itu masih kerja jadi nge-blog buat sampingan aja," jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, blog yang ia tulis pun terus mendapat perhatian dari banyak traveler. Sponsor akhirnya mulai melirik,  mulai pemerintah dan swasta mengundang Lenny untuk jalan-jalan bareng. Tak hanya  blog-nya, terhitung sejak 2017, media sosial yang ia kelola @lenny.dairy pun mulai dibanjiri sponsor.

Selaras dengan Yudha, kendati sekarang Lenny telah banyak dihubungi sponsor. Namun tidak dipungkiri bahwa netrworking adalah salah satu jalan untuk mendpatkan sponsor. "Kalau nunggu orang nawarin sih agak susah ya, kecuali emang udah famous di traveling ya," tuturnya.

Karena berlatar belakang sebagai wartawan, Lenny tidak masalah dengan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan sponsor dalam penulisan konten seusai traveling. Namun, selama pengalaman yang ia rasakan hingga kini. PR yang diberikan sponsor terhadap dirinya tidak begitu memberatkan, tidak ada tekanan yang membebani. "Yang penting pesannya sampai aja sih. Baik di blog atau di media sosial aku ya," tuturnya.

Kendati seperti itu, menurutnya saat jalan-jalan atau traveling lebih asik dengan biaya sendiri. Alasannya lebih bebas. Walau kadang terbatas di dana. "Kalau ada sponsor bukan hanya dana yang enak ya, tapi juga fasilitas lainnya, kaya disediakan guide gitu, mulus aja perjalananya," ucap Lenny.

Walau banyak sponsor yang menguhubunginya, ia tidak ingin mengambil terlalu banyak. Karena ia tidak ingin pembaca dan followers di media sosial khususnya Instagram, jenuh dengan iklan yang berseliweran. "Kalau (sponsornya) nggak cocok, nggak maksain gitu sih," tandas Lenny. *** (SS) 

 

SHARE