Nuansa Gothic Persembahan Vokalis The Cure | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Nuansa Gothic Persembahan Vokalis The Cure
Gading Perkasa | News

Musik di era 80-an tak lepas akan subkultur gothic, dan dari berbagai nama, The Cure adalah salah satu tokoh utama di balik kancah goth bersama band semacam Siouxsie and the Banshees, Joy Divison, serta Bauhaus.

wikimedia commons

Kejayaan The Cure di belantika musik tak lepas dari peran Robert Smith di dalamnya. Selama kurun waktu empat dekade, ia sukses membawa pengaruh besar bagi band asal Inggris tersebut.

Dengan trademark dandanan nyentrik dan gaya vokal khas, kini Robert Smith dianggap jadi salah satu legenda di jagat goth rock.

Robert Smith lahir pada 21 April 1959 di Blackpool, Inggris. Sedari kecil, ia telah menaruh minat besar di dunia musik. Menurutnya, kedua kakaknya yaitu Richard dan Margareth turut memiliki andil dalam mengenalkannya kepada musik rock.

Dari situ ia mulai mengenal lagu-lagu The Beatles, Rolling Stones, dan Jimi Hendrix, yang kelak menjadi inspirasi terbesar Smith.

Smith remaja sempat tergabung ke beberapa band amatir seperti The Crawley Goat Band, dan The Obelisk. Ia pun tercatat sebagai anggota Siouxsie and the Banshees, walau hanya dua tahun.

Di band itu, Smith berhasil menyumbang satu album, Hyaena (1984), sebelum akhirnya kembali fokus bersama The Cure.

Album pertama The Cure, Three Imaginary Boys (1979) membuat Smith mendapat banyak pujian. Terdapat deretan single seperti 10:15 Saturday Night dan cover lagu Jimi Hendrix, Foxy Lady.

Barulah di album keempat, Pornography (1982), The Cure menemukan jati diri sebenarnya. Album ini justru jadi perpisahan mereka dengan corak musik post-punk primitif.

Robert Smith menjelajah ke beragam spektrum pop hingga psychedelic disertai sentuhan gelap, suram, dan dingin yang melapisi vokal kelam khasnya.

Meski sempat dianggap sebagai album gagal dan direspon negatif, Pornography ternyata bertransformasi menjadi salah satu cetak biru di musik goth. Album tersebut juga merupakan transisi dimana The Cure menuju dunia ‘kelam’ mereka.

Mereka tetap produktif menelurkan album dan menjalankan berbagai tur dunia. The Top (1984), The Head on the Door (1985), dan Kiss Me, Kiss Me, Kiss Me (1987) adalah bukti konsistensi The Cure di belantara musik.

Album bertajuk Disintegration (1989), sukses menembus tangga lagu AS. Memuat lagu-lagu penting, antara lain Pictures of You, Lullaby, hingga Lovesong. Kesuksesan mereka berlanjut di album Wish (1992), dengan lagu Friday I’m in Love dan High.

Jika membicarakan kontribusi, baik The Cure dan Robert Smith telah memengaruhi jagat rock. Jangan heran, sejumlah band bergenre alternative rock sampai detik ini menjadikan sosok Smith sebagai panutan.

Bahkan ‘virus’ Smith juga merambah kultur pop. Karakter gelap, suram, dan nyentrik darinya menginspirasi karakter fiksi Edward Scissorhand yang dibintangi Johnny Depp.

Bermusik selama lebih dari empat dekade butuh perjuangan lebih, dan Robert Smith berhasil melewatinya. Pada 2009 lalu, ia memperoleh penghargaan Godlike Genius Award dari NME. [GP]

SHARE