Pola Makan Sehat Anda, Bisa Picu Kecemasan | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Pola Makan Sehat Anda, Bisa Picu Kecemasan
Gading Perkasa | Sex & Health

Menjalani pola makan sehat memang bagus selama proporsinya seimbang. Tapi apa jadinya jika mengonsumsi makanan sehat menyebabkan Anda melewatkan kegiatan sosial atau pekerjaan?

Photo by Prudence Earl on Unsplash

Itu tandanya, Anda mengalami obsesi berlebihan terhadap gaya hidup sehat. Pada beberapa tahun terakhir, para psikolog menyadari bahwa banyak orang menerapkan pola makan sehat secara berlebihan, yang akhirnya mengganggu kesejahteraan hidup mereka.

Kondisi tersebut dikenal dengan terminologi orthorexia nervosa, yang berarti obsesi patologis terhadap makan sehat atau pola makan bersih (clean eating).

Pengidap orthorexia menghindari jenis makanan tertentu yang tidak ada di dalam daftar makanan sehat mereka. Pola makan ini bisa menjadi sangat ketat dan berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.

Meski demikian, orthorexia belum ada dalam daftar gangguan makan atau penyakit mental yang didiagnosis para psikolog. Di samping itu, masih sedikit penelitian ilmiah terkait topik ini.

Hanya saja, National Eating Disorders Association telah membahasnya. Para pakar seperti Kasey Goodpaster, PhD mengatakan bahwa fenomena pola makan sehat berlebihan terus berkembang dari tahun ke tahun.

“Obsesi makan bersih adalah manifestasi dari budaya diet yang menekankan bahwa tubuh seringkali dibungkus dengan hasrat untuk sehat,” ujar Goodpaster.

Mereka yang rentan mengalami orthorexia bukan hanya menerapkan pola makan vegetarian atau pola makan bebas gula agar tubuh merasa lebih baik.

Orthorexia adalah kegiatan dimana seseorang mengikuti aturan makan yang dibuatnya secara obsesif. Sehingga, mereka akan menilai kelompok makanan tertentu sehat dan lainnya tidak.

Biasanya, mereka merasa bersalah atau cemas saat mengonsumsi makanan yang tidak masuk ke daftar sehat mereka. Orthorexia lebih fokus pada kualitas makanan, bukan kuantitas asupan.

Tapi kembali lagi, karena belum secara resmi dikategorikan ke dalam penyakit makan (eating disorder), maka sulit memberi batasan apakah pola makan sehat sudah masuk ke kategori ini atau tidak.

Penderita orthorexia menerapkan pembatasan yang berlebih dan sangat terobsesi dengan pola makan sehat, hingga menderita. Padahal, makan adalah kegiatan yang kompleks dan tak selalu bisa sempurna seperti rencana awal.

Lantas, apakah orthorexia berbahaya? Bagi para pemula, menyisihkan kelompok makanan tertentu dapat menyebabkan malnutrisi serta kelebihan makan.

Misalnya, seseorang yang mengeliminasi gula sepenuhnya akan merasakan kelaparan yang meningkat. Saat kendali itu hilang, mereka menjadi bersalah dan berakhir pada terlalu banyak makan.

Karena belum termasuk dalam gangguan makan, maka tidak ada pengobatan spesifik untuk orthorexia. Namun para pakar mengatakan pengobatannya bisa seperti anoreksia atau obsessive compulsive disorder (OCD), yakni lewat psikoterapi.

“Penelitian lanjutan dibutuhkan sebelum orthorexia digolongkan ke dalam diagnostic and statistical manual for mental disorder (DSM),” tutur Goodpaster. [GP]

SHARE