Tragedi Maraton Paling Memilukan dalam Sejarah | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Tragedi Maraton Paling Memilukan dalam Sejarah
Gading Perkasa | Story

Ledakan bom di Maraton Boston pada 15 April 2013 begitu menggemparkan Amerika dan dunia. Kejadian yang menjadi sorotan media asing ini bahkan membuat presiden AS kala itu, Barack Obama geram.

Rebecca Hildreth/flickr

Anehnya, bom di Maraton Boston tidak berdaya ledak kuat. Tanda darah di lokasi kejadian juga tak ada. Getaran bom yang semestinya bisa memecahkan kaca pada radius tertentu pun nyaris nihil, sebab banyak kaca gedung yang masih utuh.

Kepala Kepolisian Kota Boston saat itu, Edward Davis, meminta semua orang kembali ke hotel dan menghindari kerumunan. Barack Obama juga berjanji akan mengerahkan semua kekuatan untuk mengungkap pelaku peledakaan.

Pemerintah bahkan menerjunkan FBI demi menyelidiki tragedi Maraton Boston. Belakangan, agen FBI menyatakan kalau bom Boston terbuat dari barang rongsokan.

Otoritas setempat mencatat, ada tiga korban dalam ledakan bom Maraton Boston. Antara lain Krystle Campbell, anak berusia 8 tahun Martin Richard, dan Lu Lingzi. Sementara 15 dari sekitar 134 korban luka lain luka parah.

Awalnnya, polisi mencari pria berkulit gelap yang selalu berusaha masuk wilayah panitia lomba. Pria yang mengenakan pakaian hitam, membawa tas ransel hitam, dan memiliki aksen asing.

Pencarian itu salah satunya mengacu pada video ketika ledakan terjadi. Seorang pria terlihat berlari cepat di antara kerumunan orang yang panik. Belakangan, sejumlah media Amerika Serikat mengklaim sumber-sumber mereka telah mengetahui identitas pelaku pengeboman di garis finish.

Pelakunya disebut sebagai dua bersaudara asal Chechnya, Rusia. Yang lebih muda bernama Dzhokhar A. Tsarnaev, 19 tahun. Sedangan sang kakak, Tamerlan Tsarnaev, 26 tahun, menghembuskan napas terakhir di rumah sakit usai terlibat baku tembak dengan aparat.

Ada kejadian aneh lain di luar agenda Maraton Boston. Sebelum pemboman, terdapat latihan penyisiran bom di lokasi. Seorang saksi mata mengatakan, kegiatan penyisiran bom memakai anjing pelacak berulang kali diumumkan beberapa saat menjelang ledakan.

Kepada stasiun televisi setempat, Local 15 News, seorang pelatih di University of Mobile Cross Country, Ali Stevenson mengatakan, pihak aparat terus membuat pengumuman melalui pengeras suara bahwa penyisiran bom hanyalah latihan biasa dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Sepertinya ada semacam ancaman, namun mereka terus mengatakan kalau mereka hanya latihan,” kata Stevenson.

Mungkinkah anjing pelacak itu sudah kecolongan? Entahlah, namun yang jelas, bom di Maraton Boston pada 2013 lalu merupakan salah satu tragedi memilukan di dunia olahraga. [GP]

SHARE