Bohemian Rhapsody, Kisah Epik Freddie Mercury | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Bohemian Rhapsody, Kisah Epik Freddie Mercury
Sopan Sopian | Review

Film Bohemian Rhapsody (2018) merupakan film biography sang legenda musik rock asal Inggris, Queen. Band beranggotakan Freddie Mercury, Brian May, Roger Taylor dan John Deacon yang dibentuk pada 1970 ini merupakan salah satu band yang bisa dikatakan memiliki lagu-lagu tetap abadi hingga saat ini.

Sebut saja lagu-lagu hits Queen yang masih dinyanyikan hingga sekarang seperti We Will Rock You, We Are The Champions, Don’t Stop Me Now, Crazy Little Thing Called Love, Somebody to Love, dan pastinya, Love of My Life

Sosok sang vokalis Freddie Mercury, adalah yang paling agung dari semua bintang rock. Tak hanya memiliki tampilan seksi dan flamboyan di atas panggung, Freddie juga menyimpan sisi gelap yang kemudian menjadi sebuah kontroversi kala itu. Cerita inilah yang kemudian menarik bagi sang sutradara Bryan Singer ingin menghidupkan kembali sosok Freddie lewat “Bohemian Rhapsody”.

Film Bohemian Rhapsody menghadirkan aktor dan aktris seperti Rami Malek, Gwilym Lee, Ben Hardy, Joseph Mazello, Lucy Boynton, Aiden Gillen, Tom Hollander, Allen Leech, Aaron McCusker, Dermot Murphy, Meneka Das, Ace Bhatti, Dickie Beau, Michelle Duncan, Max Stern, dan Mike Myers.

Ringkasan
Film Bohemian Rhapsody dibuka dengan seorang remaja bernama Farroukh Bulsara (Rami Malek) yang sedang bekerja menghandle barang-barang penumpang yang akan naik pesawat di Heathrow Airport. Malamnya, Farroukh Bulsara tak pernah absen untuk melihat penampilan musik dari bar ke bar dan dari kampus ke kampus.

Smile, menjadi grup band musik yang ia sukai. Farroukh yang melihat penampilannya kala itu, begitu menikmati apa yang ditampilkan Smile. Farroukh beruntung, ia kemudian bergabung dengan Smile se bagai vokalis. Setelah masuknya Farroukh, Smile yang digawangi Deacon (Joseph Mazzello), Roger Taylor (Ben Hardy), dan Brian May (Gwilym Lee) semakin besar. Dan Smile berganti nama menjadi Queen, Farroukh Bulsara tentunya menjadi Freddie Mercury.

Freddie yang selalu memiliki ide gila dalam bermusik, mulai menciptakan lagu. Tak pelak, setiap lagu yang ia tulis selalu sukses dipasaran. Sehingga Queen namanya terus melambung dengan berbagai konser di berbagai negara. Namun perjalanan sukses Queen tentu tak lari dari sebuah halangan.

Halangan yang harus dihadapi oleh Queen kala Freddie menciptakan sebuah lagu "liar" yang menjadi sebuah mahakarya dalam mempertegas siapa dirinya, yakni lagu Bohemian Rhapsody. Lagu ini ditolak oleh pihak produksi karena suatu alasan.

Selain itu, tidak hanya soal musik, krisis identitas seksual Freddie juga menjadi sebuah halangan bagi Queen yang efeknya panjang pada sebuah konser besar yang pernah ada di dunia. Seperti apa konflik tersebut? Dan mengapa lagu mahakarya Freddie Bohemian Rhapsody ditolak diproduksi?

Highlight
Menonton Film Bohemian Rhapsody seperti menonton konser besar dari grup band rock Queen. Gegap gempita dalam film ini begitu terasa. Apalagi saat momen konser. Rasanya seperti ingin ikut bernyanyi, aksi panggung Rame Malek yang luar biasa menampilkan sosok Freddie Mercury begitu hidup.

Apalagi dalam urutan klimaks film ini. Di mana Queen konser di London Live Aid pada tahun 1985. Malek sempurna dengan kumis maconya, flamboyannya, dan lenggak-lenggok Freddie di atas panggung. Kesempurnaan perannya, Malek mengaku eksplorasi mendalam tentang sosok Freddie. 

"Saya menonton tayangan Youtube, bagaimana dia menyeret sebatang rokok. Ketika dia menginginkan bir. Bagaimana dia bersandar pada seseorang. Ketika dia merasa nyaman dan ketika dia tidak nyaman," tutur Malek dalam sebuah wawancara.

Untuk sebuah suara, Anda jangan ragu. Malek juga tampil apik. Karena pusut punya usut, suara Malek digabungkan dengan Freddie Mercury dan juga Marc Martel yang memiliki karakter suara seperti Freddie Mercury. Jadi, tak hanya karakter Malek yang berhasil menghidupkan Freedie, juga suaranya.

Tidak hanya itu, Malek pun benar-benar memperlihatkan kegelisahan lewat mimik dan raut wajahnya bahwa Freddie yang diperankannya adalah seorang musisi yang terkenal di luar tetapi “kosong” di dalam hatinya. Bahkan, ketika Freddie menghadapi identitas seksualnya hingga mengetahui kenyataan bahwa sisa waktunya tidak banyak lagi. 

Anthony McCarten dan Peter Morgan sebagai penulis skenario patut diberikan pujian, karena keduanya berhasil mengeksplorasi kebangkitan sebuah band dan bagaimana sosok Mercury menghadapi masalah dalam dirinya. Konflik antara sesama anggota bandnya sangat instens dan terasa “real” oleh penampilan Gwilym Lee, Ben Hardy dan Joseph Mazello. 

Selain itu, terlepas dari kontroversi seksual Freddie, Bryan Singer memberikan sebuah kisah penuh emosional yang menginpirasi dari seorang Freddie Mercury atas talenta musiknya. *** (SS)

SHARE